Hari anak perempuan internasional adalah sebuah peringatan tahunan yang ditetapkan oleh Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) untuk mengakui hak-hak dan tantangan yang dihadapi oleh anak perempuan di seluruh dunia. Hari ini diperingati setiap tanggal 11 Oktober sejak tahun 2012, setelah PBB mengadopsi resolusi pada tahun 2011 yang menyerukan untuk meningkatkan kesadaran dan tindakan terkait isu-isu anak perempuan.
Tema hari anak perempuan internasional tahun 2021 adalah “My Voice, Our Equal Future” (Suaraku, Kesetaraan Masa Depan). Tema ini menekankan pentingnya memberikan ruang dan kesempatan bagi anak perempuan untuk menyuarakan aspirasi, pendapat, dan kebutuhan mereka, serta untuk berpartisipasi dalam pembuatan keputusan yang memengaruhi hidup mereka. Tema ini juga mengajak semua pihak untuk bekerja sama dalam menciptakan masa depan yang lebih adil, inklusif, dan berkelanjutan bagi semua orang.
Gagasan utama artikel ini adalah mengulas isu-isu yang dihadapi anak perempuan di seluruh dunia dan bagaimana memperjuangkan hak-hak mereka. Artikel ini akan membahas sejarah hari anak perempuan internasional, tantangan dan kesulitan yang dialami anak perempuan di berbagai bidang, serta langkah-langkah yang dapat dilakukan untuk meningkatkan kesejahteraan dan pemberdayaan anak perempuan di seluruh dunia.
Sejarah Hari Anak Perempuan Internasional
Hari anak perempuan internasional memiliki akar sejarah yang panjang dan kuat. Salah satu tonggak pentingnya adalah Konferensi Dunia tentang Perempuan keempat yang diadakan di Beijing, Tiongkok pada tahun 1995. Konferensi ini menghasilkan Platform Aksi Beijing, sebuah dokumen komprehensif yang menetapkan tujuan dan strategi untuk mencapai kesetaraan gender dan pemberdayaan perempuan dalam 12 bidang kritis.
Salah satu bidang kritis tersebut adalah hak-hak anak perempuan. Platform Aksi Beijing menekankan bahwa anak perempuan adalah kelompok yang rentan terhadap diskriminasi dan kekerasan berbasis gender, serta membutuhkan perlindungan khusus dan dukungan dari negara, masyarakat, keluarga, dan individu. Platform Aksi Beijing juga menyerukan agar anak perempuan diberikan akses penuh dan setara terhadap pendidikan, kesehatan, partisipasi politik, pengembangan ekonomi, dan hak asasi manusia.
Pada tahun 2000, PBB mengadopsi Deklarasi Milenium, sebuah komitmen global untuk mengurangi kemiskinan dan meningkatkan pembangunan manusia. Deklarasi ini mencakup delapan Tujuan Pembangunan Milenium (MDGs), salah satunya adalah mencapai pendidikan dasar universal bagi semua anak pada tahun 2015. MDGs juga menargetkan untuk menghapus disparitas gender dalam pendidikan pada semua tingkat pada tahun 2005.
Namun, meskipun ada kemajuan signifikan dalam mencapai MDGs, masih banyak tantangan yang dihadapi oleh anak perempuan di seluruh dunia. Menurut laporan PBB tahun 2010, sekitar 72 juta anak tidak bersekolah pada tahun 2007, lebih dari separuhnya adalah anak perempuan. Selain itu, sekitar 39 juta anak perempuan tidak mendapatkan pendidikan sekunder yang berkualitas pada tahun 2008.
Untuk mengatasi masalah ini, Plan International, sebuah organisasi non-pemerintah yang berfokus pada hak-hak anak, meluncurkan kampanye Because I am a Girl (Karena Aku Anak Perempuan) pada tahun 2007. Kampanye ini bertujuan untuk meningkatkan kesadaran dan advokasi tentang isu-isu anak perempuan, serta untuk menggalang dana dan dukungan untuk program-program yang membantu anak perempuan mendapatkan pendidikan, kesehatan, perlindungan, dan kesempatan yang layak.
Salah satu inisiatif kampanye ini adalah mengusulkan agar PBB menetapkan sebuah hari khusus untuk anak perempuan. Usulan ini didukung oleh banyak negara, organisasi, dan individu, termasuk pemenang Nobel Perdamaian Malala Yousafzai, seorang aktivis pendidikan asal Pakistan yang selamat dari percobaan pembunuhan oleh Taliban karena berjuang untuk hak pendidikan bagi anak perempuan.
Akhirnya, pada tanggal 19 Desember 2011, Majelis Umum PBB mengadopsi resolusi 66/170 yang menetapkan tanggal 11 Oktober sebagai hari anak perempuan internasional. Resolusi ini mengakui bahwa anak perempuan menghadapi berbagai hambatan dalam mencapai potensi penuh mereka, serta membutuhkan dukungan khusus untuk mengatasi tantangan tersebut. Resolusi ini juga mengajak semua negara anggota PBB, organisasi internasional, masyarakat sipil, dan sektor swasta untuk mengambil tindakan konkret untuk meningkatkan situasi dan status anak perempuan di seluruh dunia.
Tantangan dan Kesulitan yang Dihadapi Anak Perempuan di Seluruh Dunia
Anak perempuan di seluruh dunia menghadapi berbagai tantangan dan kesulitan yang dapat membatasi hak-hak, kesempatan, dan kesejahteraan mereka. Beberapa isu utama yang mempengaruhi anak perempuan di seluruh dunia adalah sebagai berikut:
Diskriminasi: Anak perempuan sering mengalami diskriminasi berdasarkan jenis kelamin mereka, baik secara hukum maupun sosial. Diskriminasi ini dapat mempengaruhi akses dan kontrol anak perempuan terhadap sumber daya, layanan, informasi, dan keputusan yang berkaitan dengan hidup mereka. Diskriminasi ini juga dapat mempengaruhi persepsi dan harapan masyarakat terhadap anak perempuan, serta mengurangi harga diri dan kepercayaan diri mereka.
Kekerasan: Anak perempuan sering menjadi korban kekerasan berbasis gender, baik di rumah, sekolah, komunitas, maupun tempat kerja. Kekerasan ini dapat berupa kekerasan fisik, seksual, psikologis, atau ekonomi. Kekerasan ini dapat menyebabkan luka fisik dan mental, penyakit menular seksual, kehamilan tidak diinginkan, trauma psikologis, dan kematian. Kekerasan ini juga dapat mencegah anak perempuan dari mendapatkan pendidikan, pekerjaan, partisipasi sosial, dan hak asasi manusia.
Eksploitasi: Anak perempuan sering menjadi sasaran eksploitasi oleh berbagai pihak yang ingin memanfaatkan kerentanan mereka. Eksploitasi ini dapat berupa perdagangan manusia, pekerja anak, kawin paksa anak, eksploitasi seksual komersial, mutilasi genital perempuan (FGM), dan praktik-praktik tradisional lainnya yang merugikan. Eksploitasi ini dapat merampas hak-hak dasar anak perempuan, seperti hak atas kesehatan, pendidikan, kebebasan, martabat, dan kebahagiaan.
Kesenjangan pendidikan: Anak perempuan sering menghadapi kesenjangan pendidikan dibandingkan dengan anak laki-laki. Kesenjangan ini dapat disebabkan oleh berbagai faktor, seperti kemiskinan, diskriminasi gender, kekerasan sekolah, kurangnya infrastruktur dan fasilitas pendidikan yang ramah anak perempuan, kurangnya guru dan kurikulum yang sensitif gender, kurangnya dukungan keluarga dan masyarakat untuk pendidikan anak perempuan.
- Kesenjangan kesehatan: Anak perempuan sering menghadapi kesenjangan kesehatan dibandingkan dengan anak laki-laki. Kesenjangan ini dapat disebabkan oleh berbagai faktor, seperti kurangnya akses dan kualitas layanan kesehatan yang sesuai dengan kebutuhan anak perempuan, kurangnya informasi dan edukasi tentang kesehatan reproduksi dan seksual, kurangnya perlindungan dari penyakit menular seksual, HIV/AIDS, dan kehamilan remaja, kurangnya dukungan gizi dan sanitasi, serta dampak negatif dari praktik-praktik tradisional yang merugikan kesehatan anak perempuan, seperti FGM.
- Kesenjangan digital: Anak perempuan sering menghadapi kesenjangan digital dibandingkan dengan anak laki-laki. Kesenjangan ini dapat disebabkan oleh berbagai faktor, seperti kemiskinan, diskriminasi gender, kurangnya infrastruktur dan fasilitas teknologi informasi dan komunikasi (TIK) yang ramah anak perempuan, kurangnya akses dan keterampilan dalam menggunakan TIK, kurangnya konten dan aplikasi TIK yang relevan dan bermanfaat bagi anak perempuan, serta risiko kekerasan dan pelecehan online yang dialami oleh anak perempuan.
Langkah-Langkah untuk Meningkatkan Kesejahteraan dan Pemberdayaan Anak Perempuan di Seluruh Dunia
Anak perempuan di seluruh dunia memiliki hak untuk hidup dengan aman, sehat, berpendidikan, berdaya, dan sejahtera. Untuk mewujudkan hal ini, diperlukan langkah-langkah yang komprehensif dan kolaboratif dari semua pihak yang terkait dengan kehidupan anak perempuan. Beberapa langkah-langkah yang dapat dilakukan untuk meningkatkan kesejahteraan dan pemberdayaan anak perempuan di seluruh dunia adalah sebagai berikut:
Meningkatkan akses dan kualitas pendidikan bagi anak perempuan: Pendidikan adalah salah satu faktor penting yang dapat meningkatkan potensi dan peluang anak perempuan dalam berbagai bidang. Pendidikan dapat memberikan pengetahuan, keterampilan, nilai-nilai, sikap, dan kepercayaan diri yang dibutuhkan oleh anak perempuan untuk mengembangkan diri mereka sendiri dan masyarakat mereka.
Pendidikan juga dapat melindungi anak perempuan dari berbagai bentuk diskriminasi, kekerasan, eksploitasi, dan penyakit. Oleh karena itu, diperlukan upaya untuk meningkatkan akses dan kualitas pendidikan bagi anak perempuan di semua tingkat, mulai dari pendidikan dasar hingga pendidikan tinggi.
Upaya ini dapat meliputi penyediaan infrastruktur dan fasilitas pendidikan yang memadai dan ramah anak perempuan, perekrutan dan pelatihan guru dan kurikulum yang sensitif gender, pemberian beasiswa dan insentif bagi anak perempuan untuk tetap bersekolah, serta advokasi dan sosialisasi tentang pentingnya pendidikan bagi anak perempuan kepada keluarga dan masyarakat.
Meningkatkan akses dan kualitas layanan kesehatan bagi anak perempuan: Kesehatan adalah salah satu hak dasar yang harus dipenuhi bagi semua orang, termasuk anak perempuan. Kesehatan yang baik dapat mempengaruhi kualitas hidup dan produktivitas anak perempuan dalam berbagai bidang.
Kesehatan juga dapat melindungi anak perempuan dari berbagai risiko kematian, penyakit, kecacatan, dan komplikasi akibat kehamilan remaja. Oleh karena itu, diperlukan upaya untuk meningkatkan akses dan kualitas layanan kesehatan bagi anak perempuan sesuai dengan kebutuhan mereka.
Upaya ini dapat meliputi penyediaan fasilitas kesehatan yang memadai dan ramah anak perempuan, pemberian informasi dan edukasi tentang kesehatan reproduksi dan seksual kepada anak perempuan, pemberian layanan kontrasepsi dan aborsi yang aman dan legal kepada anak perempuan yang membutuhkannya, pencegahan dan pengobatan penyakit menular seksual, HIV/AIDS, dan kehamilan remaja, penghapusan praktik-praktik tradisional yang merugikan kesehatan anak perempuan, seperti FGM, serta pemberian dukungan gizi dan sanitasi yang memadai bagi anak perempuan.
Melindungi hak-hak anak perempuan dari kekerasan dan eksploitasi: Kekerasan dan eksploitasi adalah pelanggaran hak asasi manusia yang dapat merusak martabat dan masa depan anak perempuan.
Kekerasan dan eksploitasi juga dapat menimbulkan dampak negatif bagi kesehatan fisik dan mental, pendidikan, pekerjaan, partisipasi sosial, dan hak asasi manusia anak perempuan. Oleh karena itu, diperlukan upaya untuk melindungi hak-hak anak perempuan dari kekerasan dan eksploitasi oleh berbagai pihak.
Upaya ini dapat meliputi penguatan hukum dan penegakan hukum untuk mencegah dan menghukum pelaku kekerasan dan eksploitasi terhadap anak perempuan, pemberian perlindungan dan bantuan hukum bagi korban kekerasan dan eksploitasi, pemberian layanan pemulihan dan rehabilitasi bagi korban kekerasan dan eksploitasi, serta pencegahan dan penghapusan faktor-faktor penyebab dan pendorong kekerasan dan eksploitasi terhadap anak perempuan, seperti kemiskinan, diskriminasi gender, norma sosial yang patriarkis, dan kurangnya kesadaran dan pendidikan.
Mempromosikan kesetaraan gender dan partisipasi anak perempuan dalam pembangunan berkelanjutan: Kesetaraan gender adalah prinsip dasar yang harus dihormati dalam pembangunan berkelanjutan. Kesetaraan gender berarti bahwa anak laki-laki dan anak perempuan memiliki hak, kesempatan, tanggung jawab, dan manfaat yang sama dalam semua aspek kehidupan.
Kesetaraan gender juga berarti bahwa anak laki-laki dan anak perempuan dapat berkontribusi secara aktif dan efektif dalam pembangunan berkelanjutan. Oleh karena itu, diperlukan upaya untuk mempromosikan kesetaraan gender dan partisipasi anak perempuan dalam pembangunan berkelanjutan.
Upaya ini dapat meliputi pemberdayaan ekonomi anak perempuan melalui penciptaan lapangan kerja, kewirausahaan, akses kredit, kepemilikan tanah, dan sumber daya lainnya, pemberdayaan politik anak perempuan melalui peningkatan representasi dan partisipasi dalam proses pengambilan keputusan di semua tingkat, pemberdayaan sosial anak perempuan melalui peningkatan kapasitas kepemimpinan, organisasi, advokasi, jaringan, dan kolaborasi dengan berbagai pemangku kepentingan, serta pemberdayaan lingkungan anak perempuan melalui peningkatan kesadaran dan tindakan terkait isu-isu lingkungan hidup, seperti perubahan iklim, bencana alam, pengelolaan sumber daya alam, dan pelestarian keanekaragaman hayati.