Indonesia adalah negara yang memiliki sistem pemerintahan presidensial. Artinya, presiden adalah kepala negara sekaligus kepala pemerintahan yang dipilih secara langsung oleh rakyat. Sejak kemerdekaan pada tahun 1945, Indonesia telah memiliki tujuh orang presiden. Salah satu dari mereka adalah Bacharuddin Jusuf Habibie, yang menjabat sebagai presiden ketiga Indonesia pada periode 1998-1999. Siapakah sosok Habibie dan apa saja prestasi dan kontribusinya bagi bangsa Indonesia? Berikut adalah ulasan lengkap tentang presiden ketiga Indonesia.
Profil Singkat Habibie
Bacharuddin Jusuf Habibie lahir di Parepare, Sulawesi Selatan, pada tanggal 25 Juni 1936. Ia adalah anak keempat dari delapan bersaudara dari pasangan Alwi Abdul Jalil Habibie dan RA Tuti Marini Puspowardojo. Ayahnya adalah seorang ahli pertanian dan ibunya adalah seorang dokter. Habibie menempuh pendidikan dasar dan menengah di Parepare, Makassar, dan Bandung. Ia kemudian melanjutkan studi di Fakultas Teknik Universitas Indonesia (sekarang Institut Teknologi Bandung) pada tahun 1950.
Pada tahun 1955, Habibie mendapatkan beasiswa untuk melanjutkan studi di Jerman. Ia mengambil jurusan konstruksi pesawat terbang di Rhenish Wesfalische Technische Hochscule (RWTH) Aachen. Ia lulus dengan predikat summa cum laude pada tahun 1960. Ia kemudian melanjutkan studi doktoral di bidang teknik aerodinamika di RWTH Aachen dan juga lulus dengan predikat summa cum laude pada tahun 1965. Habibie menjadi orang Indonesia pertama yang meraih gelar doktor di bidang teknik pesawat terbang.
Selama di Jerman, Habibie juga bekerja di beberapa perusahaan penerbangan, seperti Messerschmitt-Bölkow-Blohm (MBB), Hamburger Flugzeugbau, dan Deutsche Airbus. Ia menjadi ahli di bidang teknologi pesawat terbang dan mendapat penghargaan dari berbagai lembaga ilmiah, seperti Deutsche Akademie der Luft- und Raumfahrt, Royal Aeronautical Society, dan American Institute of Aeronautics and Astronautics.
Karier Politik Habibie
Pada tahun 1974, Habibie diminta oleh Presiden Soeharto untuk kembali ke Indonesia dan memimpin proyek pembangunan industri pesawat terbang nasional. Habibie menjabat sebagai direktur utama PT Industri Pesawat Terbang Nusantara (IPTN) dan berhasil mengembangkan berbagai jenis pesawat terbang, seperti N250 Gatotkaca, N2130, CN235, dan N219. Habibie juga menjabat sebagai menteri negara riset dan teknologi sejak tahun 1978 hingga 1998. Ia menjadi salah satu tokoh penting dalam pemerintahan Orde Baru.
Pada tahun 1998, Indonesia mengalami krisis ekonomi dan politik yang berujung pada gerakan reformasi. Soeharto mengundurkan diri dari jabatan presiden pada tanggal 21 Mei 1998 dan menunjuk Habibie sebagai penggantinya. Habibie menjadi presiden ketiga Indonesia dengan masa jabatan yang singkat, yaitu hanya 17 bulan. Meskipun demikian, Habibie berhasil melakukan beberapa langkah reformasi, seperti membubarkan Departemen Penerangan, menghapuskan Dwifungsi ABRI, menghapuskan larangan partai politik, menghapuskan larangan organisasi masyarakat, menghapuskan larangan pers, dan mengadakan pemilu yang demokratis pada tahun 1999.
Salah satu keputusan kontroversial yang diambil oleh Habibie adalah memberikan kesempatan kepada rakyat Timor Timur untuk menentukan nasibnya sendiri melalui referendum. Pada tanggal 30 Agustus 1999, rakyat Timor Timur memilih untuk memisahkan diri dari Indonesia. Keputusan ini menimbulkan reaksi keras dari sebagian kalangan militer dan politik Indonesia. Habibie juga menghadapi tantangan dari Mahkamah Agung, yang menolak permintaannya untuk mengadakan sidang istimewa MPR untuk memperpanjang masa jabatannya.
Pada tanggal 20 Oktober 1999, Habibie menyerahkan jabatan presiden kepada Abdurrahman Wahid, yang terpilih sebagai presiden keempat Indonesia oleh MPR. Habibie kemudian mengundurkan diri dari jabatan ketua umum Partai Golkar dan mundur dari dunia politik. Ia tetap aktif di bidang pendidikan, penelitian, dan sosial. Ia mendirikan Yayasan Habibie Center, Yayasan Kalla Habibie, dan Yayasan Pendidikan Habibie. Ia juga menjadi guru besar tamu di beberapa universitas, seperti Universitas Indonesia, Universitas Gadjah Mada, dan Universitas Hasanuddin.
Kehidupan Pribadi Habibie
Habibie menikah dengan Hasri Ainun Besari pada tanggal 12 Mei 1962. Ainun adalah seorang dokter yang merupakan teman sekolah Habibie di SMA Kristen Dago, Bandung. Mereka memiliki dua orang anak, yaitu Ilham Akbar Habibie dan Thareq Kemal Habibie. Habibie dan Ainun hidup bahagia selama 48 tahun, hingga Ainun meninggal dunia akibat kanker ovarium pada tanggal 22 Mei 2010. Habibie sangat mencintai Ainun dan menganggapnya sebagai sahabat, teman, dan cinta sejatinya. Kisah cinta mereka diangkat menjadi film yang berjudul Habibie dan Ainun pada tahun 2012.
Habibie meninggal dunia pada tanggal 11 September 2019 di Rumah Sakit Pusat Angkatan Darat Gatot Soebroto, Jakarta. Ia mengalami gagal jantung setelah menjalani perawatan intensif selama 10 hari. Jenazahnya dimakamkan di Taman Makam Pahlawan Kalibata, Jakarta, di samping makam istrinya. Habibie mendapat penghormatan kenegaraan sebagai pahlawan reformasi dan tokoh ilmuwan. Presiden Joko Widodo menyatakan hari berkabung nasional selama tiga hari untuk mengenang jasa-jasa Habibie.
Sumber:
(1) Daftar presiden Indonesia – Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas. https://id.wikipedia.org/wiki/Daftar_Presiden_Indonesia.
(2) Profil Presiden Ketiga RI: Bacharuddin Jusuf Habibie – Kompas.com. https://www.kompas.com/tren
(3) Biografi BJ Habibie: Profil, Karier, dan Kisah Hidup Inspiratifnya. https://www.detik.com/edu
(4) Biografi Bacharuddin Jusuf Habibie, Presiden RI Ketiga – Kompas.com. https://www.kompas.com/skola/read/
(5) Profil BJ Habibie, Presiden Ketiga dan Tersingkat dalam Sejarah RI. https://nasional.kompas.com/