Menu Tutup

Bubarnya Dwitunggal: Mundurnya Hatta, Marahnya Soekarno

Latar Belakang

Dwitunggal adalah julukan yang diberikan kepada Soekarno dan Mohammad Hatta, dua tokoh proklamator kemerdekaan Indonesia yang menjadi Presiden dan Wakil Presiden pertama Republik Indonesia. Keduanya dianggap sebagai simbol kepemimpinan Indonesia di masa awal kemerdekaan1. Namun, hubungan keduanya tidak selalu harmonis. Sejak awal pertemuan mereka, Soekarno dan Hatta sudah memiliki perbedaan pandangan dalam hal cara memerdekakan Indonesia, ideologi politik, dan sistem pemerintahan2. Perbedaan ini semakin memuncak pada tahun 1956, ketika Hatta mengundurkan diri dari jabatannya sebagai Wakil Presiden dan menyebabkan bubarnya dwitunggal3.

Penyebab

Ada beberapa faktor yang menyebabkan bubarnya dwitunggal, antara lain:

  • Perbedaan ideologi politik. Soekarno cenderung berhaluan sosialis dan nasionalis, sedangkan Hatta lebih condong ke arah liberal dan demokratis. Soekarno menginginkan pemerintahan yang kuat dan sentralistik, sedangkan Hatta mengusung pemerintahan yang desentralistik dan menghormati otonomi daerah2. Soekarno juga lebih mendukung hubungan dekat dengan Uni Soviet dan negara-negara Blok Timur, sedangkan Hatta lebih bersimpati dengan Amerika Serikat dan negara-negara Blok Barat4.
  • Perbedaan sikap terhadap pemberontakan regional. Pada tahun 1956, beberapa daerah di Indonesia melakukan pemberontakan terhadap pemerintah pusat dengan menuntut otonomi yang lebih luas. Pemberontakan ini dikenal dengan nama PRRI (Pemerintah Revolusioner Republik Indonesia) di Sumatera dan Permesta (Perjuangan Rakyat Semesta) di Sulawesi. Soekarno menanggapi pemberontakan ini dengan tegas dan mengirim pasukan militer untuk menumpasnya. Sedangkan Hatta lebih memilih pendekatan diplomatis dan dialog untuk menyelesaikan masalah ini3. Hatta juga merasa tidak dilibatkan oleh Soekarno dalam mengambil keputusan terkait pemberontakan ini4.
  • Perbedaan pandangan terhadap sistem demokrasi. Soekarno merasa bahwa sistem demokrasi parlementer yang berlaku saat itu tidak efektif dan tidak sesuai dengan karakter bangsa Indonesia. Ia mengusulkan sistem demokrasi terpimpin yang memberikan kekuasaan lebih besar kepada presiden sebagai pemimpin tunggal bangsa. Sedangkan Hatta tetap mempertahankan sistem demokrasi parlementer yang menghargai peran parlemen dan partai-partai politik sebagai wakil rakyat3. Hatta juga khawatir bahwa sistem demokrasi terpimpin akan membuka peluang bagi Soekarno untuk menjadi diktator4.

Dampak

Bubarnya dwitunggal memiliki dampak yang signifikan bagi perkembangan politik Indonesia, antara lain:

  • Melemahnya posisi Hatta dalam politik nasional. Setelah mengundurkan diri dari jabatan Wakil Presiden, Hatta menjadi semakin terpinggirkan dari panggung politik nasional. Ia tidak lagi memiliki pengaruh yang besar dalam menentukan arah kebijakan pemerintah. Ia juga tidak lagi menjadi penyeimbang bagi Soekarno yang semakin berkuasa3. Meskipun demikian, Hatta tetap aktif dalam kegiatan sosial dan pendidikan, serta memberikan saran-saran kepada Soekarno melalui surat-surat pribadi4.
  • Menguatnya posisi Soekarno dalam politik nasional. Setelah bubarnya dwitunggal, Soekarno menjadi semakin tak terbendung dalam mewujudkan visinya tentang Indonesia. Ia berhasil mengubah sistem demokrasi parlementer menjadi demokrasi terpimpin pada tahun 1959 dengan mengeluarkan Dekret Presiden 5 Juli 1959. Ia juga memperluas hubungan luar negeri Indonesia dengan mendirikan Konferensi Asia Afrika, Gerakan Non-Blok, dan Dwi Tunggal Indonesia-Cina3. Ia juga mengembangkan konsep Nasakom (Nasionalis, Agama, Komunis) sebagai ideologi negara4.
  • Meningkatnya ketegangan politik dan sosial di Indonesia. Bubarnya dwitunggal juga menimbulkan ketidakstabilan politik dan sosial di Indonesia. Pemberontakan regional PRRI dan Permesta berlangsung hingga tahun 1961. Konflik antara partai-partai politik, terutama antara Partai Komunis Indonesia (PKI) dan partai-partai Islam, semakin memanas. Kondisi ekonomi Indonesia juga semakin memburuk akibat inflasi, korupsi, dan utang luar negeri yang membengkak3. Semua ini berujung pada terjadinya Gerakan 30 September 1965 yang menewaskan enam jenderal Angkatan Darat dan mencoba menggulingkan Soekarno4.

Kesimpulan

Bubarnya dwitunggal adalah peristiwa yang menandai berakhirnya kerjasama antara Soekarno dan Hatta sebagai pemimpin Indonesia di masa awal kemerdekaan. Peristiwa ini disebabkan oleh perbedaan ideologi politik, sikap terhadap pemberontakan regional, dan pandangan terhadap sistem demokrasi antara keduanya. Peristiwa ini juga memiliki dampak yang besar bagi perkembangan politik Indonesia, yaitu melemahnya posisi Hatta, menguatnya posisi Soekarno, dan meningkatnya ketegangan politik dan sosial di Indonesia.

Sumber:
(1) Prolog Materi – Bubarnya Dwitunggal – Zenius Education. https://www.zenius.net/prologmateri/sejarah/a/355/BubarnyaDwitunggal.
(2) Soekarno dan Hatta, Dwitunggal yang Terpisahkan oleh Politik tetapi …. https://nasional.kompas.com/read/2021/06/18/13414211/soekarno-dan-hatta-dwitunggal-yang-terpisahkan-oleh-politik-tetapi-tetap.
(3) Kisah Konflik Soekarno-Hatta Mengejar Kemerdekaan, Musuh Politik …. https://kuyou.id/homepage/read/12491/kisah-konflik-soekarno-hatta-mengejar-kemerdekaan-musuh-politik-dibalik-bubarnya-dwitunggal.
(4) Ini Cerita Bubarnya Dwitunggal Soekarno-Hatta – Minews ID. https://minews.id/news/ini-cerita-bubarnya-dwitunggal-soekarno-hatta.

Posted in Ragam

Artikel Lainnya