Kalimat efektif adalah salah satu keterampilan yang penting dalam penulisan. Kalimat efektive dapat membantu penulis menyampaikan maksud dan tujuan dengan jelas, tepat, dan singkat. Kalimat efektif juga dapat meningkatkan kualitas dan kredibilitas tulisan, serta memudahkan pembaca untuk memahami isi dan pesan tulisan. Namun, bagaimana cara membuat kalimat efektif? Apa saja ciri-ciri dan langkah-langkahnya? Artikel ini akan membahas hal-hal tersebut secara lengkap dan mendalam.
Pengertian Kalimat Efektif
Kalimat efektif adalah kalimat yang dapat menyampaikan maksud dan tujuan penulis dengan jelas, tepat, dan singkat. Kalimat efektif tidak menimbulkan keraguan, kebingungan, atau kesalahpahaman pada pembaca. Kalimat efektif juga tidak mengandung informasi yang berlebihan, tidak relevan, atau tidak bermakna. Kalimat efektif memiliki keseimbangan antara bentuk dan isi, antara gaya dan substansi.
Contoh kalimat efektif:
- “Pemerintah akan memberikan bantuan sosial kepada masyarakat terdampak pandemi Covid-19 sebesar Rp 600.000 per bulan selama tiga bulan.” (Jelas, tepat, dan singkat)
- “Saya sangat senang bisa berpartisipasi dalam seminar ini dan mendapatkan banyak ilmu baru dari para narasumber yang kompeten.” (Jelas, tepat, dan singkat)
Contoh kalimat tidak efektif:
- “Pemerintah akan memberikan bantuan kepada masyarakat yang terkena dampak dari wabah virus corona yang sedang melanda dunia saat ini dengan jumlah yang cukup besar yaitu sekitar enam ratus ribu rupiah setiap bulannya selama kurun waktu tiga bulan ke depan.” (Tidak jelas, tidak tepat, dan tidak singkat)
- “Saya merasa bahagia sekali bisa ikut serta dalam acara ini dan mendapat banyak pengetahuan baru dari para pembicara yang hebat-hebat.” (Tidak jelas, tidak tepat, dan tidak singkat)
Ciri-Ciri Kalimat Efektif
Kalimat efektif memiliki beberapa ciri-ciri, antara lain:
- Menggunakan kata-kata yang baku, sesuai dengan kaidah ejaan dan tata bahasa yang berlaku. Kata-kata yang baku adalah kata-kata yang telah disepakati penggunaannya dalam bahasa Indonesia. Kata-kata yang baku memiliki bentuk, makna, dan penggunaan yang tetap dan konsisten. Kata-kata yang baku dapat meningkatkan kejelasan dan keterpaduan kalimat.
Contoh:
- “Saya ingin mendaftar sebagai peserta lomba menulis cerpen.” (Baku)
- “Saya pengen daftar jadi peserta lomba nulis cerpen.” (Tidak baku)
- Menghindari penggunaan kata-kata yang bersifat ambigu, berlebihan, atau tidak relevan dengan konteks. Kata-kata yang ambigu adalah kata-kata yang memiliki lebih dari satu makna atau interpretasi. Kata-kata yang berlebihan adalah kata-kata yang menunjukkan intensitas atau kuantitas yang melebihi batas wajar atau logis. Kata-kata yang tidak relevan adalah kata-kata yang tidak memiliki hubungan atau keterkaitan dengan topik atau ide utama tulisan. Kata-kata seperti ini dapat menimbulkan kerancuan atau kesalahpahaman pada pembaca.
Contoh:
- “Dia membeli buku di toko.” (Ambigu: toko apa? buku apa?)
- “Dia sangat-sangat-sangat suka membaca buku.” (Berlebihan: cukup satu kali saja menggunakan kata ‘sangat’)
- “Dia suka membaca buku tentang astronomi, sejarah, politik, psikologi, ekonomi, biologi, matematika, sastra, filsafat, agama, dll.” (Tidak relevan: terlalu banyak menyebutkan bidang ilmu yang tidak ada kaitannya dengan topik tulisan)
- Menggunakan tanda baca yang tepat dan konsisten untuk memisahkan unsur-unsur kalimat. Tanda baca adalah simbol-simbol yang digunakan untuk memberikan petunjuk tentang cara membaca, mengucapkan, atau memahami kalimat. Tanda baca dapat membantu penulis menunjukkan intonasi, nada, ritme, atau emosi dalam kalimat. Tanda baca juga dapat membantu pembaca membedakan antara kalimat utama dan kalimat tambahan, antara klausa utama dan klausa anak, antara kata benda dan kata sifat, dll.
Contoh:
- “Saya suka makan nasi goreng, mie goreng, dan bakso.” (Tepat: menggunakan koma untuk memisahkan unsur-unsur sejenis dalam kalimat)
- “Saya suka makan nasi goreng mie goreng dan bakso.” (Tidak tepat: tidak menggunakan koma untuk memisahkan unsur-unsur sejenis dalam kalimat)
- Mengatur urutan kata atau frasa sesuai dengan pola kalimat yang umum digunakan dalam bahasa Indonesia. Pola kalimat adalah susunan atau rangkaian kata atau frasa yang membentuk sebuah kalimat. Pola kalimat dapat menunjukkan fungsi atau peran dari setiap unsur dalam kalimat, seperti subjek, predikat, objek, keterangan, dll. Pola kalimat juga dapat menunjukkan hubungan atau keterkaitan antara unsur-unsur dalam kalimat, seperti sebab-akibat, syarat-kondisi, tujuan-hasil, dll.
Contoh:
- “Saya pergi ke sekolah dengan sepeda.” (Umum: menggunakan pola S-P-O-K)
- “Dengan sepeda saya pergi ke sekolah.” (Tidak umum: menggunakan pola K-S-P-O)
- Menyesuaikan gaya bahasa dengan tujuan, sasaran, dan media penulisan. Gaya bahasa adalah cara atau teknik yang digunakan penulis untuk menyampaikan isi dan pesan tulisan. Gaya bahasa dapat mencerminkan karakter, sikap, atau pandangan penulis terhadap topik atau pembaca. Gaya bahasa juga dapat mempengaruhi respon atau reaksi pembaca terhadap tulisan. Gaya bahasa yang baik adalah gaya bahasa yang sesuai dengan tujuan penulisan (informasi, persuasi, hiburan), sasaran penulisan (umum, khusus, akademik), dan media penulisan (buku, majalah, surat kabar, blog).
Contoh:
- “Pada artikel ini, penulis akan membahas secara ilmiah tentang dampak positif dan negatif dari penggunaan media sosial bagi remaja.” (Formal: menggunakan gaya bahasa yang sesuai dengan tujuan informasi, sasaran akademik, dan media buku)
- “Yuk, simak artikel seru ini tentang tips dan trik mengatur waktu belajar di era digital. Jangan sampai ketinggalan ya!” (Informal: menggunakan gaya bahasa yang sesuai dengan tujuan hiburan, sasaran umum, dan media blog)
Cara Membuat Kalimat Efektif
Untuk membuat kalimat efektif, penulis dapat menerapkan beberapa langkah berikut:
- Menentukan pokok pikiran atau ide utama yang ingin disampaikan dalam kalimat. Pokok pikiran atau ide utama adalah hal yang paling penting atau esensial dalam sebuah kalimat. Pokok pikiran atau ide utama biasanya berisi tentang siapa atau apa yang menjadi fokus perhatian dalam kalimat. Pokok pikiran atau ide utama dapat membantu penulis menentukan arah dan batasan dari kalimat.
Contoh:
- “Pemerintah akan memberikan bantuan sosial kepada masyarakat terdampak pandemi Covid-19.” (Pokok pikiran: pemberian bantuan sosial oleh pemerintah)
- Menambahkan informasi pendukung yang relevan dan bermanfaat untuk pembaca. Informasi pendukung adalah informasi yang dapat menjelaskan, mengembangkan, atau memperkuat pokok pikiran atau ide utama dalam sebuah kalimat. Informasi pendukung biasanya berisi tentang bagaimana, kapan, di mana, mengapa, atau berapa yang berkaitan dengan pokok pikiran atau ide utama. Informasi pendukung dapat membantu pembaca memahami lebih detail dan mendalam tentang isi dan pesan kalimat.
Contoh:
- “Pemerintah akan memberikan bantuan sosial kepada masyarakat terdampak pandemi Covid-19 **sebesar Rp 600.000 per bulan selama tiga bulan sebesar Rp 600.000 per bulan selama tiga bulan.” (Informasi pendukung: jumlah, durasi, dan frekuensi bantuan sosial)
- Menghapus informasi yang tidak perlu atau mengulang-ulang ide utama. Informasi yang tidak perlu adalah informasi yang tidak memberikan nilai tambah atau manfaat bagi pembaca. Informasi yang tidak perlu biasanya berisi tentang hal-hal yang sudah diketahui, sudah dijelaskan, atau sudah disimpulkan sebelumnya. Informasi yang tidak perlu dapat mengurangi keefektifan dan keterbacaan kalimat.
Contoh:
- “Pemerintah akan memberikan bantuan sosial kepada masyarakat terdampak pandemi Covid-19 sebesar Rp 600.000 per bulan selama tiga bulan untuk membantu mereka mengatasi kesulitan ekonomi akibat pandemi Covid-19.” (Informasi yang tidak perlu: alasan pemberian bantuan sosial sudah tersirat dari kata ‘terdampak’)
- Memilih kata-kata yang tepat dan sesuai dengan makna yang ingin disampaikan. Kata-kata yang tepat adalah kata-kata yang dapat menggambarkan atau menyatakan hal-hal yang spesifik, konkret, dan akurat. Kata-kata yang tepat dapat membantu penulis menunjukkan nuansa, intensitas, atau emosi dalam kalimat. Kata-kata yang tepat juga dapat membantu pembaca memvisualisasikan atau merasakan isi dan pesan kalimat.
Contoh:
- “Pemerintah akan memberikan bantuan sosial kepada masyarakat terdampak pandemi Covid-19 sebesar Rp 600.000 per bulan selama tiga bulan.” (Tepat: menggunakan kata-kata yang spesifik, konkret, dan akurat)
- “Pemerintah akan memberikan bantuan kepada masyarakat yang kena musibah sebesar uang banyak tiap bulan selama beberapa waktu.” (Tidak tepat: menggunakan kata-kata yang umum, abstrak, dan samar)
- Mengecek kembali kalimat yang telah dibuat dan memperbaiki kesalahan jika ada. Mengecek kembali kalimat adalah proses untuk menilai kembali kualitas dan kebenaran dari kalimat yang telah dibuat. Mengecek kembali kalimat dapat membantu penulis menemukan dan memperbaiki kesalahan-kesalahan yang mungkin terjadi dalam penulisan, seperti kesalahan ejaan, tata bahasa, tanda baca, logika, atau fakta. Mengecek kembali kalimat juga dapat membantu penulis memastikan bahwa kalimat sudah sesuai dengan ciri-ciri kalimat efektif.
Contoh:
- “Pemerintah akan memberikan bantuan sosial kepada masyarakat terdampak pandemi Covid-19 sebesar Rp 600.000 per bulan selama tiga bulan.” (Sudah dicek: tidak ada kesalahan dalam kalimat ini)
- “Pemerinta akan memberi bantuan sosial ke masyarakat terdampak pandemi covid 19 sebesar rp 600000 perbulan selama tiga bulan.” (Belum dicek: ada kesalahan ejaan, tanda baca, dan spasi dalam kalimat ini)
Tips dan Trik Meningkatkan Kemampuan Menulis Kalimat Efektif
Selain menerapkan langkah-langkah di atas, penulis juga dapat meningkatkan kemampuan menulis kalimat efektif dengan cara-cara berikut:
- Membaca banyak tulisan-tulisan berkualitas dari berbagai sumber dan genre. Membaca dapat membantu penulis menambah wawasan, kosa kata, dan gaya bahasa. Membaca juga dapat membantu penulis meniru atau mengadaptasi cara-cara menulis kalimat efektif dari penulis-penulis lain.
- Berlatih menulis secara rutin dan konsisten. Berlatih menulis dapat membantu penulis mengasah keterampilan dan mengembangkan kreativitas dalam menulis. Berlatih menulis juga dapat membantu penulis menemukan kekuatan dan kelemahan dalam menulis.
- Meminta masukan atau feedback dari orang lain. Meminta masukan atau feedback dapat membantu penulis mendapatkan perspektif atau sudut pandang yang berbeda dari pembaca. Meminta masukan atau feedback juga dapat membantu penulis mengetahui dan memperbaiki kesalahan-kesalahan yang mungkin tidak disadari dalam menulis.
Penutup
Kalimat efektif adalah kalimat yang dapat menyampaikan maksud dan tujuan penulis dengan jelas, tepat, dan singkat. Kalimat efektif memiliki beberapa ciri-ciri, seperti menggunakan kata-kata yang baku, menghindari kata-kata yang ambigu, berlebihan, atau tidak relevan, menggunakan tanda baca yang tepat dan konsisten, mengatur urutan kata atau frasa sesuai dengan pola kalimat yang umum, dan menyesuaikan gaya bahasa dengan tujuan, sasaran, dan media penulisan. Untuk membuat kalimat efektif, penulis dapat menerapkan beberapa langkah, seperti menentukan pokok pikiran atau ide utama, menambahkan informasi pendukung yang relevan dan bermanfaat, menghapus informasi yang tidak perlu atau mengulang-ulang ide utama, memilih kata-kata yang tepat dan sesuai dengan makna, dan mengecek kembali kalimat yang telah dibuat dan memperbaiki kesalahan jika ada. Selain itu, penulis juga dapat meningkatkan kemampuan menulis kalimat efektif dengan cara-cara seperti membaca banyak tulisan-tulisan berkualitas, berlatih menulis secara rutin dan konsisten, dan meminta masukan atau feedback dari orang lain. Dengan demikian, penulis dapat membuat tulisan yang efektif dan menarik bagi pembaca.