Manuskrip nusantara aksara pegon merupakan karya tulis peninggalan ulama dan cendekiawan masa silam yang memadukan huruf Arab yang dimodifikasi untuk menuliskan bahasa lokal seperti Jawa, Sunda, dan Madura di atas media kertas tradisional daluang.
Akar Sejarah dan Dinamika Literasi di Nusantara
Sejarah peradaban di kepulauan Nusantara menyimpan jejak literasi yang begitu kaya dan beraneka ragam. Sebelum kertas modern dikenal luas, para leluhur menuliskan ilmu pengetahuan, hukum tata negara, sastra, hingga ajaran spiritual di atas lembaran daun lontar, bilah bambu, dan kulit kayu. Masuknya Islam ke kepulauan ini membawa perubahan besar dalam budaya tulis-menulis masyarakat lokal. Transmisi keilmuan yang awalnya berpusat pada tradisi lisan mulai bertransformasi menjadi tradisi tulis yang teratur dan terdokumentasi rapi.
Dalam kajian Arkeologi Islam Nusantara, Ali Akbar (2022) menegaskan bahwa bukti materialitas peninggalan Islam tampak nyata melalui perpaduan antara kearifan lokal dan pengaruh peradaban luar. Manuskrip kuno bukan sekadar benda antik yang tersimpan di museum, melainkan rekaman hidup tentang cara berpikir masyarakat pada zamannya. Melalui naskah-naskah kuno ini, kita menyaksikan bagaimana para ulama Nusantara tidak menelan mentah-mentah kebudayaan luar, melainkan mengolahnya menjadi sarana komunikasi yang akrab dengan keseharian masyarakat setempat.
Mengenal Aksara Pegon: Jembatan Bahasa Lokal dan Huruf Arab
Aksara Pegon lahir dari kebutuhan nyata untuk menjembatani dakwah Islam dan pemahaman masyarakat lokal. Kata pegon konon berasal dari kata bahasa Jawa ‘pego’ yang bermakna menyimpang atau tidak lazim, karena abjad Arab yang digunakan disesuaikan agar mampu membunyikan fonem lokal yang tidak terdapat dalam bahasa Arab standar, seperti konsonan c, ng, ny, g, dan p.
Perbedaan Karakteristik Aksara Pegon dan Aksara Jawi
Di kalangan pengkaji filologi, sering kali timbul pertanyaan mengenai perbedaan antara aksara Pegon dan aksara Jawi. Aksara Jawi berkembang luas di wilayah persebaran rumpun bahasa Melayu di Sumatera dan Semenanjung Malaya. Nor Farhana binti Che Mat (2019) dalam telaah filologi manuskrip Melayu mencatat bahwa tradisi penulisan naskah serumpun menjadi instrumen utama dalam sirkulasi ilmu dan ketrampilan praktis masyarakat pada masanya. Aksara Jawi melayani dialek-dialek Melayu, sedangkan aksara Pegon dirancang khusus untuk memenuhi kebutuhan fonetis bahasa Jawa, Sunda, serta Madura dengan tanda titik tambahan yang khas.
Sistem Tanda Bunyi dan Makna Gandul Pesantren
Ciri paling menonjol dari penulisan manuskrip beraksara Pegon adalah teknik terjemahan antarkalimat yang dikenal sebagai metode ‘jenggotan’ atau ‘makna gandul’. Para santri dan ulama menuliskan arti kata perkata tepat di bawah baris teks bahasa Arab miring dengan ukuran huruf lebih kecil. Setiap kata diberi kode kedudukan gramatikal seperti ‘utawi’ (sebagai mubtada atau subjek), ‘iku’ (sebagai khabar atau predikat), dan ‘kelawan’ (menunjukkan keterangan). Metode ini memungkinkan pembaca memahami struktur kalimat bahasa Arab sekaligus menghayati pesan kitab secara mendalam.
Kertas Daluang: Bahan Ramah Lingkungan Warisan Leluhur
Keistimewaan manuskrip nusantara aksara pegon tidak hanya terletak pada isi teks dan aksaranya, tetapi juga pada media tulisnya yang menggunakan kertas daluang. Kertas daluang dibuat secara tradisional dari serat kulit pohon saeh (Broussonetia papyrifera). Proses pembuatannya menuntut kesabaran tinggi, keahlian tangan terampil, dan ketelitian luar biasa. Kulit kayu pilihan direndam, dipukul-pukul dengan pemukul khusus dari kuningan atau batu hingga pipih melebar, diperam dalam proses fermentasi alami, lalu dihaluskan dengan daun pisang kering atau cangkang kerang.
Kertas daluang memiliki daya tahan alami yang sangat mengagumkan. Struktur serat kayu yang rapat dan pengolahan tanpa bahan kimia asam membuat lembaran daluang mampu bertahan ratusan tahun tanpa mudah lapuk dimakan ngengat atau rayap. Ketika bangsa Eropa mulai memperkenalkan kertas pabrikan bergaris air (watermark), para juru tulis pesantren tetap setia memanfaatkan daluang karena ketersediaan bahan baku lokal dan keanggunan fisiknya yang bernilai seni tinggi.
Komparasi Media dan Karakteristik Naskah Kuno
Untuk mempermudah pemahaman mengenai keragaman naskah kuno di Nusantara, tabel berikut menyajikan perbandingan antara media tulis tradisional daluang, kertas Eropa, serta media daun lontar:
| Parameter Pembanding | Kertas Daluang | Kertas Eropa (Watermark) | Daun Lontar (Rontal) |
|---|---|---|---|
| Bahan Baku Utama | Kulit pohon saeh (mulberry kertas) | Serat kapas, linen, dan bubur kayu | Daun pohon siwalan (Borassus flabellifer) |
| Aksara Dominan | Aksara Pegon, Jawi, dan Arab Gundul | Aksara Pegon, Latin, dan Jawi | Aksara Jawa Kuno, Bali, dan Sunda Kuno |
| Karakteristik Fisik | Berserat alami, lentur, dan tebal | Halus, tipis, memiliki cap air produsen | Kaku, sempit memanjang, diikat tali |
| Daya Tahan Fisik | Sangat tinggi terhadap kelembapan tropis | Rentan terhadap oksidasi asam lama | Mudah rapuh bila cuaca terlalu kering |
| Penggunaan Tradisional | Naskah pesantren, tafsir, dan tasawuf | Surat diplomatik, arsip, dan catatan niaga | Kidung sastra, babad, dan mantra kuno |
Khazanah Ulama: Ragam Tema Pengetahuan yang Diwariskan
Karya-karya yang tertulis dalam manuskrip beraksara Pegon mencakup spektrum ilmu yang sangat luas. Para ulama tidak membatasi tulisan mereka hanya pada ritus ibadah harian, melainkan merambah pada beragam aspek kemaslahatan hidup masyarakat:
- Kajian Akidah dan Ilmu Kalam: Penjelasan konsep ketuhanan, sifat-sifat wajib bagi Tuhan, serta pemurnian keyakinan yang disajikan dengan analogi sederhana yang mudah dicerna logika masyarakat pedesaan.
- Fikih dan Muamalah Praktis: Panduan hukum peribadatan, aturan sewa-menyewa tanah, transaksi jual beli hasil bumi, serta hukum keluarga yang disesuaikan dengan norma adat setempat tanpa melanggar prinsip syariat.
- Tasawuf dan Akhlak Terpuji: Ajaran pembersihan hati, adab bertetangga, etika santri terhadap guru, serta suluk spiritual para sufi besar yang digubah dalam tembang macapat penuh keindahan rasa.
- Ilmu Pengobatan Herbal (Tibbun Nabawi Lokal): Catatan ramuan obat tradisional berbahan rempah Nusantara, metode pernapasan, serta doa kesembuhan yang menggabungkan khazanah Islam dan kearifan botani kepulauan.
- Catatan Sejarah dan Babad Perjuangan: Kronik kepahlawanan perlawanan rakyat terhadap penjajah kolonial, nasihat kepemimpinan bagi para raja, serta silsilah keturunan tokoh-tokoh pembawa peradaban.
Baca juga:
Tantangan Konservasi dan Digitalisasi di Era Modern
Saat ini, ribuan manuskrip nusantara aksara pegon berada dalam kondisi yang memerlukan perhatian mendesak. Sebagian besar naskah berharga tersebut masih tersimpan di lemari-lemari tua keluarga pesantren, pedalaman desa, maupun koleksi pribadi masyarakat tanpa perawatan standar museum. Suhu lembap udara tropis, serangan jamur, paparan sinar matahari langsung, dan rayap menjadi ancaman nyata yang dapat memusnahkan lembaran sejarah bangsa ini selamanya.
Langkah penyelamatan yang terencana dapat dilakukan melalui tiga tahapan utama. Pertama, pembersihan fisik dan penanganan kuratif naskah menggunakan teknik deasidifikasi untuk menetralkan keasaman kertas daluang. Kedua, proses alih media digital resolusi tinggi agar teks dapat dibaca dan diteliti oleh generasi muda tanpa perlu menyentuh fisik naskah asli yang sudah rapuh. Ketiga, kajian transliterasi dan penerjemahan naskah ke dalam bahasa Indonesia modern agar kandungan ilmu para ulama masa lalu dapat diserap secara luas oleh masyarakat umum, akademisi, dan generasi penerus bangsa.