Karaeng Pattingalloang adalah salah satu tokoh besar dalam sejarah Indonesia yang mungkin belum banyak dikenal luas di luar wilayah Sulawesi Selatan. Ia adalah seorang cendekiawan, diplomat, sekaligus pemimpin yang hidup pada abad ke-17 di Kesultanan Gowa-Tallo. Selain menjadi penasihat utama sultan, ia juga dikenal luas karena minatnya yang mendalam terhadap ilmu pengetahuan dan pemahaman lintas budaya. Dengan penguasaan berbagai bahasa dan wawasan yang melampaui batas zamannya, Karaeng Pattingalloang mewakili sosok yang mengintegrasikan kekuasaan dan kecendekiawanan dengan cara yang jarang terlihat pada masa itu.
Kehidupan Awal Karaeng Pattingalloang
Lahir sekitar tahun 1600 di Tallo, Karaeng Pattingalloang memiliki nama lengkap I Mangadacinna Daeng Sitaba Sultan Mahmud Syah. Ia adalah putra dari I Wara’ Karaeng Lempangang, permaisuri dari Karaeng Matoaya, Sultan Abdullah Awalul Islam, yang menjadi raja Islam pertama di Kerajaan Tallo. Sebagai seorang bangsawan, Pattingalloang menerima pendidikan yang sangat baik sejak usia dini, terutama dalam hal ilmu pengetahuan dan agama. Lingkungan istana yang ia tempati menjadi pusat pembelajaran berbagai keahlian termasuk politik, militer, bahasa asing, serta budaya. Sejak usia muda, ia sudah menunjukkan kecerdasan dan ketertarikan yang besar terhadap ilmu pengetahuan.
Peran dalam Pemerintahan dan Kepemimpinan
Pada tahun 1639, Karaeng Pattingalloang diangkat menjadi Raja Tallo yang kedelapan sekaligus menduduki posisi sebagai Mangkubumi (semacam Perdana Menteri) Kesultanan Gowa-Tallo. Sebagai pemimpin politik, Pattingalloang menjadi tangan kanan Sultan Malikussaid, Raja Gowa ke-15, dan keduanya bekerja sama dalam memerintah dengan kebijakan yang bijaksana dan progresif. Karaeng Pattingalloang memiliki peran strategis dalam menyusun dan menerapkan kebijakan pemerintahannya. Pattingalloang dikenal sebagai seorang pemimpin yang berpikiran maju, yang memperhatikan kesejahteraan rakyatnya serta mendukung kegiatan perdagangan internasional di Makassar.
Kecakapan diplomatiknya menjadikannya seorang yang dihormati oleh para utusan dan pedagang dari Eropa, Arab, Tiongkok, dan bangsa lainnya. Kepiawaiannya dalam bernegosiasi serta pengetahuan yang mendalam mengenai dunia internasional membuatnya menjadi salah satu tokoh kunci dalam menjaga stabilitas politik dan ekonomi Makassar. Sultan Malikussaid bahkan pernah menyatakan bahwa ia hanya akan bersedia memerintah selama ditemani oleh Pattingalloang, menunjukkan betapa penting peran Pattingalloang dalam pemerintahan.
Kecintaan Terhadap Ilmu Pengetahuan dan Intelektual
Di antara ciri khas Karaeng Pattingalloang yang membuatnya berbeda dari banyak pemimpin lain pada zamannya adalah kecintaannya yang luar biasa terhadap ilmu pengetahuan. Pattingalloang tidak hanya fasih dalam bahasa lokal tetapi juga menguasai bahasa Portugis, Spanyol, Arab, dan Latin, yang memungkinkan dirinya mengakses literatur asing. Ia dikenal memiliki perpustakaan pribadi yang kaya akan koleksi buku, atlas, dan dokumen ilmiah dari Eropa, khususnya yang berkaitan dengan astronomi, geografi, matematika, dan filsafat. Ini adalah hal yang sangat langka di Nusantara pada abad ke-17, terutama di kalangan pemimpin dan bangsawan.
Pada tahun 1644, Karaeng Pattingalloang memesan sebuah globe besar dari Belanda, yang menggambarkan peta dunia dengan detail, sebagai bagian dari koleksi pribadinya. Globe ini bukan hanya alat dekorasi tetapi juga simbol minatnya yang mendalam terhadap geografi dan pengetahuan global. Ia mempercayai pentingnya memahami dunia secara lebih luas dan menerapkan wawasan itu dalam kepemimpinannya.
Pattingalloang adalah cendekiawan yang kritis dan terbuka terhadap pengetahuan. Dalam berbagai sumber, ia dikatakan sering berinteraksi dengan para ilmuwan dan misionaris Eropa yang datang ke Makassar, termasuk Alexandre de Rhodes, seorang misionaris terkenal. Meskipun ada upaya untuk mempengaruhinya dalam aspek keagamaan, Pattingalloang tetap teguh pada keyakinan Islamnya dan tidak terpengaruh oleh ajaran yang dibawa oleh misionaris tersebut.
Peran dalam Perdagangan dan Hubungan Internasional
Makassar, yang pada masa itu menjadi pusat perdagangan terbesar di Indonesia bagian timur, menjadi tempat pertemuan berbagai bangsa dan budaya. Karaeng Pattingalloang menyadari betul pentingnya menjaga hubungan baik dengan bangsa asing yang berdagang di Makassar. Ia menyambut baik kedatangan para pedagang dari berbagai negara, termasuk Portugis, Belanda, Spanyol, Inggris, dan lainnya. Kebijakan ini menjadikan Makassar sebagai salah satu pelabuhan terpenting di Nusantara pada masa itu dan memperkuat peran ekonomi Kesultanan Gowa-Tallo.
Selain itu, Pattingalloang juga memahami bahwa perkembangan teknologi dan ilmu pengetahuan dari bangsa Eropa dapat bermanfaat bagi Makassar. Oleh karena itu, ia selalu membuka diri untuk berdialog dengan para pedagang dan utusan asing, belajar dari mereka, dan menerapkan ilmu yang ia peroleh dalam pemerintahan serta kehidupan sehari-hari.
Namun, Pattingalloang tidak hanya bersikap terbuka tanpa batas. Ia juga cukup cerdik untuk menjaga keseimbangan kekuasaan antara kerajaan lokal dan bangsa asing yang kerap memiliki agenda kolonial. Kebijakannya berhasil menjaga Kesultanan Gowa-Tallo tetap berdiri teguh selama masa hidupnya, meskipun pada akhirnya tekanan kolonialisme menjadi tantangan besar setelah kematiannya.
Warisan dan Penghormatan kepada Karaeng Pattingalloang
Karaeng Pattingalloang wafat pada tahun 1654. Setelah kematiannya, namanya tetap dikenang sebagai sosok pemimpin yang bijaksana, intelektual yang terkemuka, dan pejuang diplomasi. Kontribusinya dalam menjaga stabilitas Makassar sebagai pusat perdagangan, kebijakan luar negerinya yang cerdas, dan dukungannya terhadap ilmu pengetahuan menjadi warisan yang tetap dihargai hingga hari ini.
Sebagai bentuk penghormatan, terdapat Museum Karaeng Pattingalloang di Benteng Somba Opu, Sulawesi Selatan. Museum ini menyimpan berbagai peninggalan sejarah terkait dirinya dan Kesultanan Gowa-Tallo. Di sana, para pengunjung dapat melihat berbagai artefak yang berkaitan dengan hidup dan perjuangan Pattingalloang, termasuk replika globe dan berbagai alat navigasi.