Menu Tutup

Memahami Tribalisme Politik

Tribalisme politik adalah fenomena di mana individu atau kelompok menunjukkan loyalitas kuat terhadap identitas suku, etnis, atau kelompok sosial tertentu dalam konteks politik. Fenomena ini sering kali mempengaruhi dinamika politik suatu negara, termasuk Indonesia.

Definisi Tribalisme Politik

Secara umum, tribalisme merujuk pada perilaku kesetiaan seseorang kepada kelompok suku atau grup sosial tertentu. Dalam konteks politik, tribalisme mengacu pada kecenderungan individu atau kelompok untuk mendukung atau menentang kebijakan dan kandidat politik berdasarkan afiliasi suku, etnis, atau kelompok sosial mereka. Hal ini dapat menyebabkan polarisasi dan fragmentasi dalam masyarakat.

Sejarah dan Perkembangan Tribalisme Politik di Indonesia

Indonesia, sebagai negara dengan keragaman etnis dan budaya yang luas, memiliki sejarah panjang terkait tribalisme politik. Pada masa kerajaan Hindu-Buddha, konsep tribalisme tercermin dalam struktur politik yang berbasis kesukuan. Misalnya, masyarakat Kerajaan Singasari menunjukkan kesetiaan dan kepatuhan kepada rajanya, yang mencerminkan perilaku tribalisme.

Pada era modern, tribalisme politik kembali mencuat, terutama selama proses demokratisasi pasca-reformasi. Politik identitas berbasis agama, etnis, atau wilayah menjadi lebih menonjol, yang sering kali dimanfaatkan oleh elit politik untuk meraih dukungan.

Dampak Tribalisme Politik

Tribalisme politik memiliki beberapa dampak signifikan, antara lain:

  • Polarisasi Sosial: Masyarakat terpecah menjadi kelompok-kelompok yang saling berseberangan, mengurangi kohesi sosial dan meningkatkan potensi konflik.
  • Diskriminasi dan Marginalisasi: Kelompok minoritas atau yang tidak dominan dapat mengalami diskriminasi dan marginalisasi dalam proses politik dan sosial.
  • Penghambat Demokrasi: Tribalisme politik dapat menghambat proses demokrasi yang sehat, karena keputusan politik lebih didasarkan pada loyalitas kelompok daripada pertimbangan rasional.

Contoh Kasus Tribalisme Politik di Indonesia

Salah satu contoh nyata tribalisme politik di Indonesia adalah selama Pemilihan Gubernur DKI Jakarta 2017. Isu-isu identitas, seperti agama dan etnis, menjadi sorotan utama dalam kampanye, yang memicu polarisasi di kalangan masyarakat.

Selain itu, fenomena dinasti politik di tingkat lokal juga mencerminkan tribalisme politik, di mana kekuasaan politik diwariskan dalam lingkup keluarga atau kelompok tertentu, mengabaikan prinsip meritokrasi.

Upaya Mengatasi Tribalisme Politik

Untuk mengurangi dampak negatif tribalisme politik, beberapa langkah dapat diambil:

  • Pendidikan Politik: Meningkatkan kesadaran masyarakat tentang pentingnya memilih berdasarkan kapasitas dan integritas kandidat, bukan semata-mata karena afiliasi kelompok.
  • Penguatan Identitas Nasional: Mendorong identitas nasional yang inklusif dan menghargai keragaman, sehingga loyalitas terhadap negara lebih diutamakan daripada kelompok tertentu.
  • Regulasi Kampanye: Menetapkan aturan yang melarang penggunaan isu-isu identitas yang dapat memecah belah dalam kampanye politik.
Posted in Sejarah

Artikel Lainnya