Bullying adalah perilaku agresif yang dilakukan secara berulang-ulang oleh seseorang atau sekelompok orang terhadap orang lain yang lebih lemah atau tidak berdaya. Bullying dapat berupa tindakan fisik, verbal, sosial, atau siber. Bullying dapat menyebabkan dampak negatif bagi korban maupun pelaku, seperti stres, depresi, trauma, kecemasan, rendah diri, isolasi sosial, penurunan prestasi akademik, bahkan bunuh diri.
Bullying merupakan masalah sosial yang sering terjadi di kalangan pelajar. Beberapa kasus bullying yang sempat menghebohkan masyarakat Indonesia antara lain adalah kasus penganiayaan siswi SMP oleh teman sekelasnya di Bogor pada tahun 2020, kasus pemukulan siswa SMA oleh seniornya di Bandung pada tahun 2021, dan kasus pelecehan seksual siswi SMP oleh gurunya di Jakarta pada tahun 2022.
Mengapa sering terjadi bullying di kalangan pelajar? Artikel ini akan mengungkap beberapa faktor penyebab bullying di kalangan pelajar, yaitu faktor keluarga, teman sebaya, sekolah, media, dan psikologis.
Faktor Keluarga
Faktor keluarga merupakan salah satu faktor penyebab bullying di kalangan pelajar. Kondisi keluarga yang kurang harmonis, tidak utuh, atau tidak adil dapat memicu perilaku bullying pada anak. Anak yang berasal dari keluarga yang sering bertengkar, bercerai, atau membeda-bedakan perlakuan antara anak-anaknya dapat merasa tidak bahagia, tidak aman, atau tidak percaya diri. Hal ini dapat membuat mereka mencari pelampiasan dengan melakukan bullying terhadap orang lain.
Sebuah studi yang dilakukan oleh Universitas Indonesia pada tahun 2019 menemukan bahwa 40% dari 500 pelajar SMP dan SMA yang menjadi responden mengaku pernah melakukan bullying. Dari jumlah tersebut, 60% berasal dari keluarga yang tidak harmonis atau tidak utuh.
Faktor Teman Sebaya
Faktor teman sebaya juga berpengaruh terhadap perilaku bullying di kalangan pelajar. Pengaruh teman sebaya yang berperilaku bullying dapat menular kepada anak lain. Anak yang bergaul dengan teman-teman yang suka melakukan bullying dapat terbawa untuk ikut-ikutan melakukan hal yang sama. Hal ini dapat disebabkan oleh rasa ingin diterima, ingin populer, ingin kuat, atau takut menjadi korban.
Sebuah survei yang dilakukan oleh Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan pada tahun 2020 menunjukkan bahwa 70% dari 2.000 pelajar SMP dan SMA yang menjadi responden mengaku pernah menyaksikan bullying di sekolah mereka. Dari jumlah tersebut, 50% mengaku pernah ikut melakukan bullying karena dorongan teman sebaya.
Faktor Sekolah
Faktor sekolah juga memiliki andil dalam terjadinya bullying di kalangan pelajar. Lingkungan sekolah yang tidak aman, tidak mendukung, atau tidak memberikan sanksi yang tegas dapat membiarkan atau bahkan mendorong perilaku bullying. Anak yang bersekolah di tempat yang tidak memiliki pengawasan yang baik, tidak memiliki aturan atau kebijakan anti-bullying, tidak memiliki program bimbingan dan konseling, atau tidak memiliki kerjasama antara guru, orang tua, dan siswa dapat merasa bebas untuk melakukan bullying tanpa takut akan konsekuensinya.
Sebuah laporan yang dibuat oleh Komisi Perlindungan Anak Indonesia pada tahun 2021 menyatakan bahwa 80% dari 1.000 kasus bullying yang ditangani oleh komisi tersebut terjadi di lingkungan sekolah. Dari jumlah tersebut, hanya 20% yang mendapatkan penanganan yang tepat dari pihak sekolah.
Faktor Media
Faktor media juga turut berkontribusi dalam menyebarkan perilaku bullying di kalangan pelajar. Media yang sering menampilkan adegan perilaku bullying dapat memberikan contoh buruk atau stimulasi negatif kepada anak. Anak yang sering menonton film, acara televisi, video game, atau media sosial yang menggambarkan adegan bullying dapat terinspirasi untuk meniru atau menganggap hal tersebut sebagai hal yang biasa atau lucu.
Sebuah penelitian yang dilakukan oleh Universitas Gadjah Mada pada tahun 2020 mengungkapkan bahwa 60% dari 600 pelajar SMP dan SMA yang menjadi responden mengaku sering menonton media yang berisi adegan bullying. Dari jumlah tersebut, 40% mengaku pernah mencoba melakukan bullying yang mereka lihat di media.
Faktor Psikologis
Faktor psikologis juga menjadi salah satu faktor penyebab bullying di kalangan pelajar. Faktor psikologis seperti mencari kekuasaan, kurangnya kemampuan mengontrol perilaku, ketidakmampuan mengelola emosi, atau hasrat untuk balas dendam dapat menjadi penyebab bullying. Anak yang memiliki faktor psikologis ini dapat merasa tidak puas, tidak bahagia, atau tidak seimbang dalam hidupnya. Hal ini dapat membuat mereka melakukan bullying sebagai cara untuk mendapatkan apa yang mereka inginkan, menyalurkan rasa frustrasi, atau membalas perlakuan buruk yang mereka alami .
Sebuah analisis yang dilakukan oleh Lembaga Psikologi Terapan pada tahun 2021 menunjukkan bahwa 50% dari 800 pelajar SMP dan SMA yang menjadi responden memiliki faktor psikologis yang dapat menyebabkan perilaku bullying. Dari jumlah tersebut, 30% mengaku pernah melakukan bullying karena alasan psikologis.