Menu Tutup

Pengaruh Kesultanan Cirebon terhadap Seni dan Sastra Jawa

Kesultanan Cirebon, yang berdiri pada abad ke-15, merupakan pusat penting bagi perkembangan budaya dan agama Islam di wilayah Jawa Barat. Kesultanan ini tidak hanya memainkan peran dalam menyebarkan Islam, tetapi juga menjadi tempat berkembangnya seni dan sastra yang memiliki pengaruh signifikan terhadap budaya Jawa. Berikut adalah uraian mendalam mengenai pengaruh Kesultanan Cirebon terhadap seni, sastra, dan kebudayaan Jawa.

1. Pengaruh Kesultanan Cirebon terhadap Seni Arsitektur

Salah satu pengaruh terbesar Kesultanan Cirebon terhadap budaya Jawa adalah dalam seni arsitektur. Arsitektur keraton Cirebon, seperti Keraton Kasepuhan dan Kanoman, merupakan perpaduan dari berbagai pengaruh budaya, termasuk Jawa, Islam, Tiongkok, dan Eropa. Gaya arsitektur ini terlihat dari ornamen, desain bangunan, dan simbol-simbol yang digunakan di keraton-keraton tersebut.

  • Keraton Kasepuhan: Bangunan ini menunjukkan elemen Hindu-Buddha dari Kerajaan Pajajaran, yang dipadukan dengan nilai-nilai Islam. Misalnya, dua patung macan putih di pintu masuk menggambarkan pewarisan dari Kerajaan Pajajaran, sementara kaligrafi Arab dan desain geometris memperlihatkan pengaruh Islam.
  • Pengaruh Tiongkok dan Eropa: Bentuk ukiran naga dan relief-relief lain di beberapa bagian keraton menunjukkan pengaruh budaya Tiongkok yang dibawa melalui perdagangan. Selain itu, pengaruh Eropa tampak pada bentuk pilar dan beberapa detail desain.

Arsitektur ini memperlihatkan kemampuan Kesultanan Cirebon dalam menggabungkan berbagai budaya yang ada, menciptakan bentuk arsitektur khas yang tetap relevan dan dihormati dalam seni bangunan tradisional Jawa.

2. Pengaruh dalam Seni Pertunjukan: Wayang dan Tari Topeng

Seni pertunjukan adalah elemen penting dalam budaya Jawa, dan Kesultanan Cirebon memainkan peran signifikan dalam pengembangannya.

  • Wayang Kulit Cirebon: Wayang di Cirebon memiliki karakteristik khas dengan kisah-kisah yang menggabungkan cerita lokal dan pengaruh Islam. Lakon seperti “Ambiya” dan cerita-cerita tentang para wali sangat populer di Cirebon. Wayang kulit digunakan sebagai media dakwah untuk menyebarkan ajaran Islam kepada masyarakat setempat.
  • Tari Topeng Cirebon: Tari topeng Cirebon juga memperlihatkan pengaruh Islam dalam kostum, gerakan, dan cerita yang disajikan. Tarian ini memiliki makna filosofis dan spiritual, dengan karakter yang mewakili nilai-nilai moral dan religius. Contoh tokoh dalam tari topeng ini adalah Panji, Rumyang, Tumenggung, dan Kelana, yang menggambarkan berbagai sifat manusia.

3. Sastra Jawa: Babad Cirebon

Kesultanan Cirebon juga menghasilkan karya sastra berpengaruh, salah satunya adalah “Babad Cirebon”.

  • Babad Cirebon: Karya ini menceritakan sejarah Kesultanan Cirebon, dari asal-usulnya hingga perkembangan kerajaannya. Babad ini ditulis dalam bentuk wawacan, yang merupakan bentuk sastra lisan dan tulisan tradisional Jawa. Babad ini juga mencatat tokoh-tokoh penting seperti Sunan Gunung Jati dan penyebar Islam lainnya. Keunikan lain adalah bahwa babad ini ditulis dalam aksara Arab Pegon, menandakan integrasi budaya Islam dan Jawa.

Babad Cirebon tidak hanya berfungsi sebagai catatan sejarah, tetapi juga sebagai bentuk pendidikan moral dan spiritual bagi masyarakat setempat.

4. Tradisi Keagamaan dan Akulturasi Budaya

Kesultanan Cirebon menjadi pusat akulturasi budaya yang memperkaya tradisi keagamaan di wilayah Jawa. Banyak tradisi keagamaan yang diselenggarakan hingga kini menjadi bukti dari pengaruh Cirebon.

  • Upacara Panjang Jimat: Salah satu tradisi yang terkenal adalah upacara Panjang Jimat, yang digelar untuk memperingati Maulid Nabi Muhammad. Tradisi ini bukan hanya sebuah ritual keagamaan, tetapi juga mengandung nilai budaya dan sosial yang mempererat hubungan masyarakat.
  • Tradisi Muludan dan Rajaban: Upacara Muludan untuk memperingati kelahiran Nabi Muhammad SAW, serta Rajaban, untuk memperingati peristiwa Isra Mikraj, juga memperlihatkan perpaduan budaya Islam dan tradisi lokal Jawa. Upacara ini biasanya diiringi dengan musik gembyung, sebuah musik tradisional khas Cirebon.

5. Kesenian Tradisional: Gamelan Sekaten dan Tarling

Kesultanan Cirebon juga berkontribusi terhadap perkembangan musik tradisional Jawa, termasuk gamelan dan musik tarling.

  • Gamelan Sekaten: Gamelan ini biasanya dimainkan dalam acara-acara keagamaan seperti Maulid Nabi. Instrumen yang digunakan dalam gamelan ini menciptakan suasana khidmat dan religius, serta menunjukkan akulturasi musik tradisional Jawa dengan nilai-nilai Islam.
  • Tarling: Musik tarling merupakan perpaduan dari gitar (tar) dan suling (ling). Musik ini berkembang di Cirebon dan dikenal dengan lirik yang menggambarkan kehidupan sosial masyarakat. Tarling menjadi ikon musik tradisional Cirebon dan dikenal di berbagai wilayah di Jawa Barat.

Kesimpulan

Kesultanan Cirebon memiliki pengaruh besar terhadap seni dan sastra Jawa, terutama dalam memperkenalkan dan mengintegrasikan unsur-unsur Islam ke dalam budaya lokal. Pengaruh ini terlihat dalam arsitektur, seni pertunjukan, sastra, serta tradisi keagamaan yang masih lestari hingga saat ini. Kesultanan Cirebon tidak hanya berfungsi sebagai pusat pemerintahan, tetapi juga sebagai pusat budaya dan spiritual yang memperkaya tradisi Jawa dan memperkuat identitas budaya yang dinamis.

Sumber:

  • Academia.edu. (n.d.). Kerajaan Cirebon: Religi dan Seni. Diakses pada https://www.academia.edu/28297641/Kerajaan_Cirebon_Religi_dan_Seni_pdf.
  • Kompasiana.com. (2023). Sejarah Tinta Kuno: Naskah Babad Cirebon. Diakses pada https://www.kompasiana.com/dsatrio04/654e5c7445274b2acb253f22/sejarah-tinta-kuno-naskah-babad-cirebon.
  • Pijarbelajar.id. (n.d.). Kerajaan Cirebon. Diakses pada https://www.pijarbelajar.id/blog/kerajaan-cirebon.
  • Academia.edu. (n.d.). Kontribusi Kesultanan Cirebon dalam Pembentukan Peradaban Islam di Wilayah Jawa Barat. Diakses pada https://www.academia.edu/103869238/KONTRIBUSI_KESULTANAN_CIREBON_DALAM_PEMBENTUKAN_PERADABAN_ISLAM_DI_WILAYAH_JAWA_BARAT.
Posted in Ragam

Artikel Lainnya