Menu Tutup

Peninggalan Arsitektur Kesultanan Demak: Masjid Agung Demak

Masjid Agung Demak merupakan salah satu peninggalan arsitektur paling berharga dari Kesultanan Demak, yang menandai awal penyebaran Islam di Pulau Jawa. Dibangun pada abad ke-15, masjid ini tidak hanya berfungsi sebagai tempat ibadah, tetapi juga sebagai pusat kegiatan sosial dan budaya masyarakat Jawa.

Sejarah Singkat Masjid Agung Demak

Masjid Agung Demak didirikan oleh Raden Patah, pendiri Kesultanan Demak, dengan bantuan Wali Songo. Pembangunan masjid ini mencerminkan perpaduan antara budaya Jawa dan ajaran Islam, yang terlihat dari arsitektur dan ornamen yang menghiasi bangunan tersebut. Masjid ini menjadi pusat penyebaran Islam di Jawa dan berperan penting dalam perkembangan peradaban Islam di Indonesia.

Arsitektur dan Desain Masjid

Arsitektur Masjid Agung Demak mencerminkan akulturasi budaya Jawa dan Islam. Bangunan utama masjid berbentuk joglo, yang merupakan rumah tradisional Jawa, dengan atap limas bersusun tiga yang melambangkan iman, Islam, dan ihsan. Empat tiang utama, dikenal sebagai soko guru, menopang struktur atap dan melambangkan empat sahabat Nabi Muhammad SAW. Salah satu tiang tersebut, soko tatal, diyakini terbuat dari serpihan kayu yang disatukan oleh Sunan Kalijaga, menunjukkan kreativitas dan kearifan lokal dalam konstruksi bangunan.

Ornamen dan Simbolisme

Masjid Agung Demak kaya akan ornamen yang sarat makna simbolis. Pintu utama, dikenal sebagai lawang bledheg, dihiasi dengan ukiran petir yang melambangkan kekuatan dan keagungan Allah. Selain itu, terdapat ornamen berbentuk kura-kura pada mihrab, yang dipercaya menunjukkan tahun pendirian masjid, yaitu 1401 Saka atau 1479 Masehi. Ornamen-ornamen ini mencerminkan perpaduan antara seni tradisional Jawa dan nilai-nilai Islam.

Fungsi Sosial dan Keagamaan

Selain sebagai tempat ibadah, Masjid Agung Demak berfungsi sebagai pusat kegiatan sosial dan pendidikan. Masjid ini menjadi tempat berkumpulnya ulama dan masyarakat untuk berdiskusi dan belajar tentang ajaran Islam. Hingga kini, masjid ini tetap menjadi pusat kegiatan keagamaan dan budaya, serta menjadi tujuan ziarah bagi umat Islam dari berbagai daerah.

Pelestarian dan Warisan Budaya

Sebagai situs bersejarah, Masjid Agung Demak telah mengalami beberapa renovasi untuk menjaga keaslian dan kelestariannya. Upaya pelestarian ini penting untuk mempertahankan nilai-nilai sejarah dan budaya yang terkandung dalam arsitektur dan fungsi masjid. Masjid ini juga menjadi simbol peradaban Islam di Jawa Tengah dan menjadi inspirasi bagi pembangunan masjid-masjid lainnya di Indonesia.

Kesimpulan

Masjid Agung Demak adalah salah satu peninggalan arsitektur yang mencerminkan akulturasi budaya Jawa dan Islam. Dengan arsitektur yang khas dan ornamen yang sarat makna, masjid ini tidak hanya berfungsi sebagai tempat ibadah, tetapi juga sebagai pusat kegiatan sosial dan budaya. Pelestarian masjid ini penting untuk menjaga warisan budaya dan sejarah yang berharga bagi generasi mendatang.

Sumber:

  • “BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah.” Universitas Islam Sultan Agung, repository.unissula.ac.id/7159/3/BAB%20I_1.pdf.
  • “Ikonografi Ornamen Lawang Bledheg Masjid Agung Demak.” Imajinasi, vol. 11, no. 2, 2017, journal.unnes.ac.id/nju/index.php/imajinasi/article/view/17469.
  • “Ruang Sakral dan Profan dalam Arsitektur Masjid Agung Demak, Jawa Tengah.” Inersia, vol. 10, no. 1, 2014, journal.uny.ac.id/index.php/inersia/article/viewFile/19491/10735.
  • “BAB III Profil Masjid Agung Demak A. Gambaran Umum Masjid Agung Demak.” Universitas Islam Negeri Walisongo, eprints.walisongo.ac.id/6481/4/BAB%20III.pdf.
  • Zaki, Muhammad. “Kearifan Lokal Jawa pada Wujud Bentuk dan Ruang Arsitektur Masjid Tradisional Jawa (Studi Kasus: Masjid Agung Demak).” Tesis, Universitas Diponegoro, 2017, eprints.undip.ac.id/60450/.
Posted in Ragam

Artikel Lainnya