Perang antara Kesultanan Demak dan Kerajaan Majapahit menandai transisi penting dalam sejarah Nusantara, khususnya dalam peralihan kekuasaan dari kerajaan Hindu-Buddha ke kesultanan Islam di Jawa. Konflik ini tidak hanya mencerminkan dinamika politik dan militer pada akhir abad ke-15 hingga awal abad ke-16, tetapi juga perubahan sosial dan keagamaan yang signifikan di wilayah tersebut.
Latar Belakang Sejarah
Kerajaan Majapahit mencapai puncak kejayaannya pada masa pemerintahan Hayam Wuruk dan Gajah Mada. Namun, setelah kematian Hayam Wuruk pada tahun 1389, Majapahit mulai mengalami kemunduran. Perebutan kekuasaan internal, seperti Perang Paregreg antara Wikramawardhana dan Wirabhumi, melemahkan stabilitas kerajaan dan mengurangi kontrol Majapahit atas wilayah-wilayah taklukannya.
Sementara itu, di pesisir utara Jawa, Kesultanan Demak mulai muncul sebagai kekuatan baru. Didirikan oleh Raden Patah, yang diyakini sebagai keturunan Raja Majapahit terakhir, Demak awalnya merupakan kadipaten di bawah Majapahit sebelum akhirnya melepaskan diri dan menjadi kesultanan Islam pertama di Jawa.
Penyebab Konflik
Beberapa faktor utama yang memicu konflik antara Demak dan Majapahit meliputi:
- Perbedaan Agama: Demak menganut Islam, sementara Majapahit berpegang pada Hindu-Buddha. Perbedaan ini menciptakan ketegangan antara kedua kerajaan.
- Perebutan Kekuasaan: Setelah kemunduran Majapahit, muncul kekosongan kekuasaan yang dimanfaatkan oleh Demak untuk memperluas pengaruhnya.
- Hubungan Keluarga: Raden Patah, pendiri Demak, diyakini sebagai putra Raja Majapahit terakhir, Brawijaya V. Hubungan keluarga ini menambah kompleksitas dalam konflik antara keduanya.
Jalannya Perang
Konflik antara Demak dan Majapahit berlangsung dalam beberapa tahap:
- Serangan Pertama (1478): Menurut beberapa sumber, pada tahun 1478, Demak menyerang Majapahit. Namun, beberapa sejarawan berpendapat bahwa pada tahun tersebut, Majapahit sebenarnya diserang oleh Girindrawardhana, bukan oleh Demak.
- Pertempuran Lanjutan (1524-1527): Pada periode ini, terjadi serangkaian pertempuran antara Demak dan Majapahit. Pada tahun 1524, pasukan Demak di bawah pimpinan Sunan Ngudung bertempur melawan pasukan Majapahit yang dipimpin oleh Raden Kusen. Dalam pertempuran ini, Sunan Ngudung gugur. Pada tahun 1527, di bawah pimpinan Sunan Kudus, Demak berhasil mengalahkan Majapahit, yang menandai berakhirnya kekuasaan Majapahit di Jawa.
Dampak dan Akibat
Kemenangan Demak atas Majapahit memiliki dampak signifikan:
- Peralihan Kekuasaan: Demak menjadi kekuatan dominan di Jawa, menggantikan Majapahit sebagai pusat kekuasaan.
- Penyebaran Islam: Dengan jatuhnya Majapahit, Islam menyebar lebih luas di Jawa, menggantikan dominasi Hindu-Buddha sebelumnya.
- Migrasi Budaya: Beberapa bangsawan dan seniman Majapahit yang tidak menerima kekuasaan Demak pindah ke Bali, yang kemudian menjadi pusat kebudayaan Hindu di Indonesia.
Kesimpulan
Perang antara Kesultanan Demak dan Kerajaan Majapahit mencerminkan dinamika kompleks dalam sejarah Jawa, di mana faktor politik, agama, dan hubungan keluarga saling berinteraksi. Kemenangan Demak menandai berakhirnya era kerajaan Hindu-Buddha di Jawa dan awal dominasi kesultanan Islam, yang membentuk arah perkembangan budaya dan agama di wilayah tersebut pada masa-masa berikutnya.
- Wikipedia bahasa Indonesia. “Majapahit.” Diakses pada https://id.wikipedia.org/wiki/Majapahit.
- Wikipedia bahasa Indonesia. “Kesultanan Demak.” Diakses pada https://id.wikipedia.org/wiki/Kesultanan_Demak.
- Pandeglang News. “Perang Demak dengan Majapahit: Pertarungan Sedarah hingga Raja Brawijaya Moksa.” Diakses pada https://www.pandeglangnews.co.id/babad/pr-1631936030/perang-demak-dengan-majapahit-pertarungan-sedarah-hingga-raja-brawijaya-moksa.
- Wikipedia bahasa Inggris. “Raden Patah.” Diakses pada https://en.wikipedia.org/wiki/Raden_Patah.
- History of Cirebon. “Perang Majapahit vs Demak.” Diakses pada https://www.historyofcirebon.id/2019/06/perang-majapahit-vs-demak.html.
- Wikipedia bahasa Inggris. “Majapahit.” Diakses pada https://en.wikipedia.org/wiki/Majapahit.