Menu Tutup

Sejarah dan Sumber Peninggalan Kesultanan Aceh Darussalam

Kesultanan Aceh Darussalam, yang berdiri pada tahun 1496, merupakan salah satu kerajaan Islam terkemuka di Nusantara. Dididirikan oleh Sultan Ali Mughayat Syah, kesultanan ini mencapai puncak kejayaannya di bawah pemerintahan Sultan Iskandar Muda pada awal abad ke-17. Untuk memahami sejarah dan perkembangan Kesultanan Aceh, berbagai sumber sejarah telah menjadi rujukan penting.

Sumber Tertulis

  1. Kitab Bustanussalatin: Ditulis oleh Syeikh Nuruddin ar-Raniri pada tahun 1637, kitab ini menggambarkan kehidupan Kerajaan Aceh pada abad ke-16 hingga ke-17. Bustanussalatin, yang berarti “Taman Raja-raja,” terdiri dari tujuh bab yang mencakup berbagai aspek, mulai dari penciptaan alam semesta hingga kisah para nabi dan raja-raja. Kitab ini menjadi salah satu sumber utama dalam memahami sejarah dan budaya Aceh pada masa itu.
  2. Hikayat Aceh: Merupakan naskah sejarah yang menceritakan perjalanan dan kepemimpinan Sultan Iskandar Muda. Ditulis dalam bahasa Melayu dengan aksara Arab, Hikayat Aceh memberikan wawasan mendalam tentang politik, budaya, dan hubungan internasional Kesultanan Aceh pada abad ke-17. Naskah ini juga menyoroti interaksi Aceh dengan kekuatan global seperti Tiongkok, Portugis, dan Turki Utsmani.

Sumber Arkeologis dan Artefak

  1. Masjid Raya Baiturrahman: Dibangun pada masa Sultan Iskandar Muda, masjid ini menjadi simbol kejayaan dan pusat kegiatan keagamaan di Kesultanan Aceh. Arsitekturnya yang megah mencerminkan kemakmuran dan keagungan kerajaan pada masa itu.
  2. Benteng Indrapatra: Benteng ini awalnya dibangun pada masa Kerajaan Lamuri dan kemudian digunakan oleh Kesultanan Aceh sebagai pertahanan melawan serangan Portugis. Struktur benteng yang kokoh menjadi bukti strategi militer Aceh dalam menghadapi ancaman eksternal.
  3. Makam Sultan Iskandar Muda: Terletak di Banda Aceh, makam ini dihiasi dengan kaligrafi indah pada batu nisannya, mencerminkan seni dan budaya Aceh pada masa kejayaannya. Makam ini menjadi tempat penting bagi mereka yang ingin mempelajari sejarah dan warisan Kesultanan Aceh.
  4. Meriam Kesultanan Aceh: Meriam yang dibuat oleh teknisi Aceh dengan mempelajari teknologi dari Turki Utsmani ini menunjukkan kemampuan teknis dan militer Kesultanan Aceh dalam mempertahankan wilayahnya dari ancaman luar.

Sumber Numismatik

Penggunaan mata uang emas oleh Kesultanan Aceh mencerminkan kemakmuran ekonomi dan peran pentingnya dalam perdagangan regional. Koin-koin emas ini, yang dikenal sebagai Dirham, digunakan dalam transaksi sehari-hari dan menjadi simbol kedaulatan ekonomi kerajaan.

Sumber Lisan dan Tradisi

Selain sumber tertulis dan artefak, tradisi lisan seperti hikayat dan syair juga memainkan peran penting dalam melestarikan sejarah Kesultanan Aceh. Kisah-kisah ini diturunkan dari generasi ke generasi, memberikan wawasan tentang nilai-nilai, norma, dan peristiwa penting dalam sejarah Aceh.

Dengan memanfaatkan berbagai sumber tersebut, kita dapat memperoleh gambaran yang komprehensif tentang sejarah, budaya, dan peran penting Kesultanan Aceh dalam perkembangan Islam dan peradaban di Nusantara.

Posted in Sejarah

Artikel Lainnya