Kerajaan Kediri, juga dikenal sebagai Kerajaan Panjalu, adalah salah satu kerajaan Hindu-Buddha yang pernah berjaya di Nusantara. Berdiri pada abad ke-11 hingga awal abad ke-13, kerajaan ini memainkan peran penting dalam sejarah Indonesia, khususnya di wilayah Jawa Timur.
Latar Belakang dan Pembentukan
Setelah runtuhnya Kerajaan Medang pada awal abad ke-11 akibat serangan dari Kerajaan Wurawari, Airlangga mendirikan Kerajaan Kahuripan sebagai penerus. Menjelang akhir pemerintahannya, untuk menghindari konflik antara dua putranya, Sri Samarawijaya dan Mapanji Garasakan, Airlangga membagi kerajaannya menjadi dua pada tahun 1042. Pembagian ini dilakukan oleh Mpu Bharada, seorang brahmana sakti. Wilayah barat menjadi Kerajaan Panjalu (Kediri) dengan ibu kota di Daha, sementara wilayah timur menjadi Kerajaan Jenggala dengan ibu kota di Kahuripan.
Letak Geografis
Kerajaan Kediri berpusat di kota Daha, yang kini dikenal sebagai Kota Kediri, terletak di tepi Sungai Brantas. Lokasi ini strategis karena Sungai Brantas merupakan jalur transportasi air utama yang menghubungkan berbagai wilayah di Jawa Timur, memfasilitasi perdagangan dan komunikasi.
Pemerintahan dan Raja-Raja
Kerajaan Kediri dipimpin oleh beberapa raja yang berperan penting dalam perkembangan kerajaan. Berikut adalah beberapa di antaranya:
- Sri Samarawijaya: Raja pertama Kerajaan Kediri setelah pembagian oleh Airlangga. Ia memulai fondasi pemerintahan di Daha.
- Sri Jayawarsa: Memerintah sekitar tahun 1104, dikenal melalui Prasasti Sirah Keting.
- Prabu Jayabaya: Memerintah sekitar tahun 1135–1157, dianggap sebagai raja terbesar Kediri. Di bawah kepemimpinannya, Kediri mencapai puncak kejayaan. Jayabaya juga dikenal dengan ramalan-ramalannya yang terkenal hingga kini.
- Sri Kameswara: Memerintah sekitar tahun 1181–1194, dikenal melalui karya sastra “Smaradhana” yang ditulis oleh Mpu Dharmaja.
- Kertajaya: Raja terakhir Kediri yang memerintah hingga tahun 1222. Pemerintahannya berakhir setelah kekalahannya oleh Ken Arok dari Tumapel.
Kehidupan Ekonomi
Ekonomi Kerajaan Kediri bertumpu pada pertanian dan perdagangan. Wilayahnya yang subur menghasilkan beras sebagai komoditas utama. Selain itu, perdagangan barang seperti emas, perak, kayu cendana, pinang, dan gerabah juga berkembang pesat. Kediri memiliki pelabuhan yang strategis, memfasilitasi perdagangan antara Indonesia bagian timur dan barat. Penggunaan uang emas sebagai alat tukar menunjukkan tingkat kemajuan ekonomi kerajaan ini.
Kehidupan Sosial dan Budaya
Masyarakat Kediri tidak menganut sistem kasta yang kaku. Martabat seseorang ditentukan oleh perilaku dan kontribusinya, bukan berdasarkan keturunan. Hal ini tercermin dalam kitab “Lubdhaka”.
Dalam bidang sastra, Kediri mengalami masa keemasan. Karya-karya seperti “Kakawin Bharatayuddha” oleh Mpu Sedah dan Mpu Panuluh, serta “Smaradhana” oleh Mpu Dharmaja, menjadi bukti tingginya apresiasi terhadap seni dan sastra pada masa itu.
Masa Kejayaan
Masa kejayaan Kerajaan Kediri terjadi pada pemerintahan Prabu Jayabaya. Di bawah kepemimpinannya, Kediri berhasil menguasai wilayah-wilayah penting dan memperluas pengaruhnya. Jayabaya juga dikenal dengan ramalannya yang hingga kini masih dibicarakan.
Keruntuhan
Kerajaan Kediri mengalami keruntuhan pada masa pemerintahan Kertajaya. Konflik dengan kaum brahmana yang menolak menyembahnya sebagai dewa menyebabkan ketegangan internal. Kaum brahmana kemudian meminta perlindungan kepada Ken Arok, penguasa Tumapel. Pada tahun 1222, dalam Pertempuran Ganter, pasukan Ken Arok berhasil mengalahkan Kertajaya, menandai berakhirnya Kerajaan Kediri dan awal berdirinya Kerajaan Singasari.
Peninggalan Sejarah
Beberapa peninggalan sejarah yang terkait dengan Kerajaan Kediri antara lain:
- Prasasti: Sejumlah prasasti seperti Prasasti Sirah Keting dan Prasasti Ngantang memberikan informasi tentang sejarah dan kehidupan sosial Kerajaan Kediri.
- Situs Tondowongso: Ditemukan pada tahun 2007 di Desa Gayam, Kediri, situs ini mengungkap arca-arca kuno yang diyakini berasal dari masa Kerajaan Kediri.
- Karya Sastra: Karya-karya seperti “Kakawin Bharatayuddha” dan “Smaradhana” menjadi warisan budaya yang menunjukkan tingginya peradaban sastra pada masa itu.
Referensi:
- Detik.com. (n.d.). Kerajaan Kediri: Sejarah Berdiri, Masa Kejayaan, dan Keruntuhan. Diakses pada 3 November 2024, dari https://www.detik.com/edu/detikpedia/d-5702819/kerajaan-kediri-sejarah-berdiri-masa-kejayaan-dan-keruntuhan.
- Inews Jatim. (n.d.). Sosok Jayabaya Raja Kediri yang Termasyhur, Dianggap sebagai Titisan Dewa Wisnu. Diakses pada 3 November 2024, dari https://jatim.inews.id/berita/sosok-jayabaya-raja-kediri-yang-termasyhur-dianggap-sebagai-titisan-dewa-wisnu.
- Museum Nusantara. (n.d.). Kerajaan Kediri. Diakses pada 3 November 2024, dari https://museumnusantara.com/kerajaan-kediri/.
- Pijar Belajar. (n.d.). Kerajaan Kediri: Sejarah, Raja-Raja, dan Peninggalannya. Diakses pada 3 November 2024, dari https://www.pijarbelajar.id/blog/kerajaan-kediri.