Medan Area adalah sebuah wilayah yang meliputi kota Medan dan sekitarnya di provinsi Sumatra Utara. Wilayah ini memiliki sejarah yang panjang dan kaya, mulai dari masa pra-kolonial, kolonial, hingga pasca-kemerdekaan Indonesia. Salah satu peristiwa sejarah yang paling penting dan berdampak di Medan Area adalah Pertempuran Medan Area, yang terjadi pada tahun 1945-1946 antara rakyat Indonesia melawan pasukan Sekutu dan NICA (Nederlandsch Indische Civiele Administratie). Pertempuran ini merupakan salah satu bentuk perlawanan rakyat Indonesia untuk mempertahankan kemerdekaan yang telah diproklamasikan pada 17 Agustus 1945.
Latar Belakang Pertempuran Medan Area
Pertempuran Medan Area tidak terlepas dari konteks sejarah yang lebih luas, yaitu Perang Dunia II dan pendudukan Jepang di Indonesia. Pada tahun 1942, Jepang berhasil mengalahkan Belanda dan menguasai Indonesia, termasuk Sumatra Utara. Jepang mendirikan pemerintahan militer di wilayah-wilayah yang didudukinya, termasuk di Medan. Selama pendudukan Jepang, rakyat Indonesia mengalami berbagai kesulitan dan penindasan, seperti kerja paksa (romusha), pengambilan paksa beras (serobot), dan kekurangan pangan.
Namun, di sisi lain, Jepang juga memberikan beberapa kesempatan bagi rakyat Indonesia untuk meningkatkan keterampilan dan kesadaran nasional. Misalnya, Jepang mendirikan organisasi-organisasi seperti PETA (Pembela Tanah Air), Heiho (bantuan tentara), Seinendan (pemuda), Keibodan (polisi), dan lain-lain. Organisasi-organisasi ini bertujuan untuk membantu Jepang dalam perang melawan Sekutu, tetapi juga menjadi sarana bagi rakyat Indonesia untuk berlatih militer dan menumbuhkan semangat juang.
Pada bulan Agustus 1945, Jepang menyerah kepada Sekutu tanpa syarat. Hal ini membuka peluang bagi rakyat Indonesia untuk merebut kemerdekaan dari penjajah. Pada tanggal 17 Agustus 1945, Soekarno dan Hatta memproklamasikan kemerdekaan Indonesia di Jakarta. Berita proklamasi ini menyebar ke seluruh penjuru nusantara, termasuk ke Medan. Rakyat Medan menyambut proklamasi dengan antusias dan merayakannya dengan mengibarkan bendera merah putih di berbagai tempat.
Namun, kemerdekaan Indonesia tidak diakui oleh Belanda dan Sekutu. Mereka berencana untuk mengembalikan kekuasaan kolonial di Indonesia dengan bantuan NICA, sebuah badan sipil yang dibentuk oleh Belanda untuk mengurus urusan administrasi di Indonesia. NICA bekerja sama dengan pasukan Sekutu yang dipimpin oleh Inggris untuk mendarat di berbagai daerah di Indonesia, termasuk di Medan.
Kronologi Pertempuran Medan Area
Pertempuran Medan Area dimulai pada tanggal 9 Oktober 1945, ketika pasukan Sekutu yang dipimpin oleh Brigadir Jenderal T.E.D Kelly mendarat di Pelabuhan Belawan, sekitar 20 km dari Medan. Pasukan Sekutu ini terdiri dari tentara Inggris, India, Gurkha, Australia, dan NICA. Mereka datang dengan alasan untuk membebaskan tawanan perang Sekutu yang ditahan oleh Jepang. Namun, tujuan sebenarnya mereka adalah untuk mengambil alih pemerintahan dari tangan Jepang dan menumpas gerakan kemerdekaan Indonesia.
Awalnya, rakyat Medan menyambut kedatangan pasukan Sekutu dengan baik. Mereka berharap bahwa pasukan Sekutu akan menghormati kemerdekaan Indonesia dan bekerja sama dengan pemerintah Indonesia yang baru. Namun, harapan itu sirna ketika pasukan Sekutu mulai menunjukkan sikap arogan dan provokatif. Mereka menginjak-injak bendera merah putih, merebut senjata dari rakyat Indonesia, menangkap dan menembak para pemimpin pergerakan kemerdekaan, dan melakukan berbagai tindakan represif lainnya.
Hal ini memicu kemarahan dan perlawanan dari rakyat Medan, terutama dari para pemuda dan Tentara Keamanan Rakyat (TKR), sebuah organisasi militer yang dibentuk oleh pemerintah Indonesia untuk menggantikan PETA. Mereka melakukan serangan-serangan gerilya terhadap pasukan Sekutu di berbagai tempat, seperti di jalan-jalan, hotel-hotel, gedung-gedung pemerintahan, dan markas-markas militer. Pertempuran ini berlangsung sengit dan menelan banyak korban jiwa di kedua belah pihak.
Salah satu titik klimaks pertempuran ini adalah pada tanggal 10 Desember 1945, ketika pasukan Sekutu melancarkan serangan besar-besaran terhadap kota Medan. Serangan ini bertujuan untuk menghancurkan basis-basis perlawanan rakyat Indonesia dan menguasai seluruh wilayah Medan. Pasukan Sekutu menggunakan senjata-senjata berat, seperti tank, meriam, pesawat tempur, dan bom. Serangan ini mengakibatkan kerusakan parah di kota Medan dan banyak warga sipil yang tewas atau luka-luka.
Namun, rakyat Medan tidak menyerah begitu saja. Mereka terus melawan dengan segala daya dan upaya yang mereka miliki. Mereka menggunakan senjata-senjata sederhana, seperti bambu runcing, parang, pisau, dan senapan buatan sendiri. Mereka juga mendapat bantuan dari rakyat di daerah-daerah sekitar Medan, seperti Binjai, Deli Serdang, Langkat, Tebing Tinggi, dan lain-lain. Mereka bersatu padu untuk mempertahankan kemerdekaan Indonesia dari ancaman penjajah.
Akhir Pertempuran Medan Area
Pertempuran Medan Area berakhir pada tanggal 28 Februari 1946, ketika pasukan Sekutu menandatangani perjanjian gencatan senjata dengan pihak Indonesia. Perjanjian ini disebut sebagai Perjanjian Linggarjati. Perjanjian ini mengakui kedaulatan Republik Indonesia atas Jawa, Sumatra, dan Madura. Namun, perjanjian ini juga mengharuskan Indonesia untuk bergabung dengan Negara Indonesia Timur (NIT), sebuah negara boneka yang dibentuk oleh Belanda di luar wilayah Republik Indonesia.
Perjanjian Linggarjati tidak memuaskan kedua belah pihak. Bagi Indonesia, perjanjian ini dianggap sebagai pengkhianatan terhadap cita-cita kemerdekaan yang seutuhnya. Bagi Belanda, perjanjian ini dianggap sebagai pengakuan sementara terhadap Indonesia yang masih harus diubah sesuai dengan kepentingan Belanda. Oleh karena itu, perjanjian ini tidak berlangsung lama dan segera dilanggar oleh kedua belah pihak. Konflik antara Indonesia dan Belanda pun berlanjut hingga tahun 1949.
Dampak Pertempuran Medan Area
Pertempuran Medan Area memiliki dampak yang besar bagi sejarah Indonesia maupun Sumatra Utara. Pertempuran ini menunjukkan bahwa rakyat Indonesia tidak mau tunduk kepada penjajah dan bersedia berkorban demi mempertahankan kemerdekaan. Pertempuran ini juga menjadi salah satu faktor yang mendorong Belanda untuk mengakui kedaulatan Indonesia secara de facto pada tahun 1949.
Di sisi lain, pertempuran ini juga menyebabkan kerugian yang besar bagi kota Medan dan sekitarnya. Banyak bangunan-bangunan bersejarah yang hancur atau rusak akibat pertempuran ini, seperti Istana Maimun, Masjid Raya Al-Mashun, Gedung Balai Kota Lama, Gedung Balai Kota Baru, dan lain-lain. Banyak pula warga sipil yang menjadi korban jiwa atau luka-luka akibat pertempuran ini. Selain itu, pertempuran ini juga menimbulkan trauma dan ketakutan bagi rakyat Medan, yang harus hidup di bawah ancaman perang.
Meskipun demikian, pertempuran ini juga meninggalkan warisan yang berharga bagi kota Medan dan sekitarnya. Pertempuran ini menginspirasi rakyat Medan untuk terus berjuang dan berkontribusi bagi kemajuan Indonesia. Pertempuran ini juga menjadi sumber kebanggaan dan identitas bagi rakyat Medan, yang dikenal sebagai kota pahlawan dan kota perjuangan.
Kesimpulan
Pertempuran Medan Area adalah salah satu peristiwa sejarah yang penting dan berdampak di wilayah Medan dan sekitarnya. Pertempuran ini merupakan salah satu bentuk perlawanan rakyat Indonesia melawan pasukan Sekutu dan NICA, yang ingin mengembalikan kekuasaan kolonial di Indonesia. Pertempuran ini berlangsung sengit dan menelan banyak korban jiwa di kedua belah pihak. Pertempuran ini berakhir dengan perjanjian gencatan senjata antara Indonesia dan Sekutu, yang mengakui kedaulatan Indonesia secara de facto. Pertempuran ini memiliki dampak yang besar bagi sejarah Indonesia maupun Sumatra Utara, baik dari segi kerugian maupun warisan.
Sumber:
(1) Medan – Wikipedia. https://en.wikipedia.org/wiki/Medan.
(2) Pertempuran Medan Area: Sejarah, Penyebab, Waktu Terjadi, Tokoh, dan …. https://medan.kompas.com/read/2022/01/25/190019578/pertempuran-medan-area-sejarah-penyebab-waktu-terjadi-tokoh-dan-akhir.
(3) Pertempuran Medan Area – Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas. https://id.wikipedia.org/wiki/Pertempuran_Medan_Area.
(4) Pertempuran Medan Area: Sejarah, Kronologi, dan Akhir Perang – Tirto.ID. https://tirto.id/pertempuran-medan-area-sejarah-kronologi-dan-akhir-perang-gbnU.
(5) Kota Medan – Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas. https://id.wikipedia.org/wiki/Kota_Medan.