Kesultanan Tidore yang terletak di Maluku Utara memiliki struktur pemerintahan yang khas dan memainkan peran penting dalam sejarah Indonesia. Sementara itu, Kesultanan Ternate, tetangga dekatnya, juga memiliki sejarah yang kaya dengan sultan-sultan yang berpengaruh.
Struktur Pemerintahan Kesultanan Tidore
Kesultanan Tidore menerapkan sistem pemerintahan monarki dengan Sultan sebagai pemimpin tertinggi. Sultan memegang otoritas penuh dalam pengambilan keputusan politik, ekonomi, dan sosial. Di bawah Sultan, terdapat lapisan bangsawan yang memegang berbagai jabatan penting, seperti panglima perang, menteri, dan pejabat lainnya. Struktur ini mencerminkan hierarki yang jelas antara Sultan, bangsawan, dan rakyat biasa.
Wilayah Kesultanan dibagi menjadi beberapa bagian, termasuk pulau Tidore dan sekitarnya. Setiap wilayah memiliki pemerintahan lokal yang dipimpin oleh pejabat yang ditunjuk oleh Sultan. Misalnya, wilayah pulau Tidore dibagi menjadi tiga pemerintahan: Bobato Yade Soasio, Sangaji, dan Gimalaha. Pembagian ini memastikan administrasi yang efektif dan terstruktur di seluruh wilayah Kesultanan.
Selain itu, Kesultanan Tidore memiliki hubungan erat dengan wilayah-wilayah lain, seperti Kepulauan Raja Ampat dan Papua. Wilayah-wilayah ini mengakui otoritas Kesultanan Tidore, yang menunjukkan pengaruh politik dan budaya yang luas dari Kesultanan ini.
Sultan Ternate
Kesultanan Ternate, yang juga terletak di Maluku Utara, memiliki sejarah panjang dengan sultan-sultan yang berpengaruh. Salah satu sultan terkenal adalah Sultan Baabullah, yang memerintah dari tahun 1570 hingga 1583. Di bawah kepemimpinannya, Ternate mencapai puncak kejayaan dan berhasil mengusir Portugis dari wilayah Maluku. Keberhasilan ini menunda penjajahan Barat atas Nusantara selama sekitar 100 tahun dan memperkokoh kedudukan Islam di wilayah tersebut.
Sultan Baabullah juga dikenal karena memperluas wilayah kekuasaan Ternate hingga mencakup bagian dari Filipina Selatan, Sulawesi Utara, dan Nusa Tenggara. Kepemimpinannya yang kuat dan visioner menjadikan Ternate sebagai salah satu kekuatan maritim utama di Nusantara pada masanya.
Setelah Sultan Baabullah, Kesultanan Ternate terus dipimpin oleh sultan-sultan yang berusaha mempertahankan kedaulatan dan kemakmuran kerajaan. Meskipun menghadapi berbagai tantangan, termasuk intervensi dari kekuatan kolonial seperti Belanda, Kesultanan Ternate tetap menjadi simbol penting dalam sejarah Indonesia.
Pada 18 Desember 2021, Hidayatullah Sjah resmi dikukuhkan sebagai Sultan Ternate ke-49, menggantikan ayahnya, Mudaffar Sjah. Pengukuhan ini melalui prosesi ritual adat Sinunako Sesikhalifat di lingkungan Kedaton Kesultanan Ternate. Dalam pidatonya, Sultan Hidayatullah Sjah menyatakan komitmennya untuk membangun hubungan dengan tiga kesultanan lainnya di Maluku Utara, yaitu Kesultanan Tidore, Kesultanan Jailolo, dan Kesultanan Bacan.
Kesultanan Tidore dan Kesultanan Ternate memiliki peran penting dalam sejarah Indonesia, khususnya dalam perlawanan terhadap kekuatan kolonial dan penyebaran Islam di wilayah timur Nusantara. Struktur pemerintahan yang terorganisir dan kepemimpinan sultan-sultan yang visioner menjadikan kedua kesultanan ini sebagai pilar penting dalam sejarah dan budaya Indonesia.