Sultan Nuku Muhammad Amiruddin adalah salah satu pahlawan nasional Indonesia yang dikenal karena perjuangannya melawan penjajahan Belanda di Maluku Utara. Sebagai Sultan Tidore, ia berhasil memimpin perlawanan yang gigih dan tak kenal lelah demi mempertahankan kedaulatan negerinya.
Latar Belakang dan Masa Muda
Lahir pada tahun 1738 di Soasiu, Tidore, Nuku adalah putra kedua dari Sultan Jamaluddin, penguasa Kesultanan Tidore periode 1757-1779. Sejak muda, Nuku menunjukkan bakat kepemimpinan dan semangat juang yang tinggi. Ia tumbuh dalam lingkungan kerajaan yang sarat dengan intrik politik dan tekanan dari pihak kolonial Belanda.
Pada tahun 1779, Sultan Jamaluddin ditangkap dan diasingkan ke Batavia oleh Belanda karena menolak kerja sama dengan mereka. Belanda kemudian mengangkat Patra Alam sebagai Sultan Tidore, meskipun bukan dari garis keturunan pewaris takhta yang sah. Hal ini memicu ketidakpuasan Nuku, yang merasa berhak atas takhta tersebut.
Ketidakadilan ini mendorong Nuku untuk memulai perlawanan terhadap Belanda. Ia menolak tunduk pada penguasa boneka yang diangkat oleh Belanda dan memilih untuk mengasingkan diri guna mengatur strategi perlawanan.
Strategi Perlawanan dan Aliansi
Dalam upayanya melawan Belanda, Nuku membangun aliansi dengan berbagai pihak. Ia berhasil menggalang dukungan dari kerajaan-kerajaan kecil di sekitar Pulau Seram dan Papua. Selain itu, Nuku juga menjalin hubungan dengan Inggris, yang saat itu merupakan pesaing utama Belanda di wilayah tersebut.
Nuku dikenal sebagai pemimpin yang cerdik dalam menerapkan strategi perang. Ia sering menggunakan taktik gerilya dan memanfaatkan pengetahuannya tentang medan lokal untuk mengalahkan pasukan Belanda. Kemampuan diplomasi dan kepemimpinannya membuatnya dijuluki “The Lord of Fortune” oleh sekutu-sekutunya.
Pada tahun 1797, Nuku berhasil merebut kembali Tidore dari tangan Belanda dan dinobatkan sebagai Sultan Tidore dengan gelar Sultan Saidul Jehad el Ma’bus Amiruddin Syah Kaicil Paparangan. Kemenangan ini menandai puncak perjuangannya dalam mempertahankan kedaulatan negerinya.
Warisan dan Pengakuan
Sultan Nuku meninggal pada 14 November 1805 di Tidore. Meskipun telah tiada, semangat juang dan kepemimpinannya tetap dikenang hingga kini. Atas jasa-jasanya, pemerintah Indonesia menganugerahkan gelar Pahlawan Nasional kepada Sultan Nuku berdasarkan Keputusan Presiden RI No. 071/TK/1995 tanggal 7 Agustus 1995.
Warisan perjuangan Sultan Nuku menjadi inspirasi bagi generasi penerus dalam mempertahankan kedaulatan dan identitas bangsa. Semangatnya terus hidup dalam ingatan rakyat Maluku Utara dan Indonesia pada umumnya.