Menu Tutup

Tahap Perkembangan Masyarakat Menurut Auguste Comte

Masyarakat adalah suatu kelompok manusia yang hidup bersama dan saling berinteraksi dalam suatu wilayah tertentu. Masyarakat memiliki ciri-ciri seperti adanya kesadaran bersama, norma-norma, nilai-nilai, bahasa, budaya, dan sejarah. Masyarakat juga mengalami perubahan dan perkembangan seiring dengan waktu dan situasi1.

Salah satu tokoh yang mencoba menjelaskan tentang perkembangan masyarakat adalah Auguste Comte. Ia adalah seorang filsuf dan sosiolog asal Perancis yang hidup pada abad ke-19. Ia dikenal sebagai bapak sosiologi karena ia adalah orang pertama yang mencetuskan istilah sosiologi sebagai ilmu yang mempelajari fenomena sosial secara sistematis dan ilmiah2.

Comte mengemukakan teori hukum tiga tahap (law of three stages) untuk menjelaskan tentang tahap-tahap perkembangan masyarakat dari masa primitif hingga masa modern. Teori ini merupakan salah satu karya terpenting Comte dalam bidang filsafat dan sosiologi. Teori ini juga mempengaruhi pemikiran-pemikiran sosiolog lainnya seperti Emile Durkheim, Herbert Spencer, dan Karl Marx3.

Dalam artikel ini, kita akan membahas lebih lanjut tentang teori hukum tiga tahap Comte, contoh-contoh dari setiap tahap, serta kelebihan dan kekurangan dari teori ini.

Tahap Teologis

Tahap teologis adalah tahap pertama dalam perkembangan masyarakat menurut Comte. Tahap ini ditandai dengan adanya kepercayaan terhadap kekuatan-kekuatan supranatural atau ilahi untuk menjelaskan fenomena alam dan sosial. Masyarakat pada tahap ini masih bersifat primitif, takhayul, dan tidak rasional1.

Comte membagi tahap teologis menjadi tiga sub-tahap, yaitu:

  • Fetisisme: masyarakat menyembah benda-benda alam seperti batu, pohon, gunung, sungai, dll sebagai dewa-dewa yang memiliki kekuatan magis1. Contoh: masyarakat Mesir kuno yang menyembah matahari (Ra), sungai Nil (Hapi), kucing (Bastet), dll4.
  • Politeisme: masyarakat percaya adanya banyak dewa-dewa yang menguasai berbagai aspek alam dan kehidupan manusia1. Contoh: masyarakat Yunani kuno yang percaya pada dewa-dewa Olimpus seperti Zeus (dewa langit), Poseidon (dewa laut), Athena (dewa kebijaksanaan), dll4.
  • Monoteisme: masyarakat percaya adanya satu Tuhan yang menciptakan dan mengatur segala sesuatu di alam semesta1. Contoh: masyarakat Yahudi, Kristen, dan Islam yang percaya pada Tuhan Yang Maha Esa4.

Tahap Metafisik

Tahap metafisik adalah tahap kedua dalam perkembangan masyarakat menurut Comte. Tahap ini ditandai dengan mulainya penggunaan akal budi dan rasionalitas untuk mencari penyebab-penyebab abstrak dari fenomena alam dan sosial. Masyarakat pada tahap ini mulai meninggalkan kepercayaan terhadap dewa-dewa dan beralih ke konsep-konsep metafisik seperti esensi, hakikat, tujuan, dll1.

Comte tidak membagi tahap metafisik menjadi sub-tahap, tetapi ia menyebutkan beberapa contoh dari pemikiran metafisik, yaitu:

  • Filsafat Yunani: para filsuf Yunani seperti Plato, Aristoteles, Socrates, dll mencoba menjelaskan tentang asal-usul alam dan manusia dengan menggunakan konsep-konsep seperti ide-ide, bentuk-bentuk, substansi-substansi, dll.
  • Filsafat Skolastik: para filsuf Kristen seperti Thomas Aquinas, Anselmus, Agustinus, dll mencoba menyelaraskan ajaran agama dengan akal budi dengan menggunakan konsep-konsep seperti hukum alam, hukum ilahi, telos, dll.
  • Filsafat Modern: para filsuf modern seperti Descartes, Kant, Hegel, dll mencoba menjelaskan tentang sifat dan batas-batas pengetahuan manusia dengan menggunakan konsep-konsep seperti rasionalisme, empirisme, idealisme, dll.

Tahap Positif

Tahap positif adalah tahap ketiga dan terakhir dalam perkembangan masyarakat menurut Comte. Tahap ini ditandai dengan adanya penerapan metode ilmiah dan empiris untuk menemukan hukum-hukum yang mengatur fenomena alam dan sosial. Masyarakat pada tahap ini sudah mencapai tingkat kemajuan dan peradaban yang tinggi1.

Comte juga membagi tahap positif menjadi enam sub-tahap, yaitu:

  • Matematika: ilmu yang mempelajari tentang kuantitas, struktur, ruang, dan perubahan. Contoh: aritmatika, aljabar, geometri, kalkulus, dll.
  • Astronomi: ilmu yang mempelajari tentang benda-benda langit dan fenomena-fenomena yang terjadi di luar atmosfer bumi. Contoh: planet-planet, bintang-bintang, galaksi-galaksi, lubang hitam, dll.
  • Fisika: ilmu yang mempelajari tentang materi dan energi serta interaksi-interaksi antara keduanya. Contoh: mekanika, termodinamika, optik, elektromagnetisme, dll.
  • Kimia: ilmu yang mempelajari tentang susunan, struktur, sifat, dan perubahan materi pada tingkat atom dan molekul. Contoh: unsur-unsur kimia, senyawa-senyawa kimia, reaksi-reaksi kimia, dll.
  • Biologi: ilmu yang mempelajari tentang kehidupan dan organisme-organisme hidup serta proses-proses yang terjadi di dalamnya. Contoh: sel-sel biologi, jaringan-jaringan biologi, sistem-sistem biologi, evolusi biologi, dll.
  • Sosiologi: ilmu yang mempelajari tentang masyarakat dan fenomena-fenomena sosial serta proses-proses yang terjadi di dalamnya. Contoh: kelompok-kelompok sosial, lembaga-lembaga sosial, struktur-struktur sosial, perubahan-perubahan sosial, dll.

Kesimpulan

Dari pembahasan di atas, kita dapat menyimpulkan bahwa teori hukum tiga tahap Comte adalah teori yang menjelaskan tentang tahap-tahap perkembangan masyarakat dari masa primitif hingga masa modern. Teori ini didasarkan pada asumsi bahwa masyarakat mengalami kemajuan seiring dengan perkembangan pengetahuan mereka. Teori ini juga mencerminkan pandangan Comte tentang sosiologi sebagai ilmu positif yang tertinggi di antara ilmu-ilmu lainnya.

Sumber:

  • (1) Auguste Comte Dan Hukum Tiga Tahap [PDF] – Academia.edu Link
  • (2) Makalah Masyarakat Modern Menurut Pandangan Auguste Comte, George – Academia.edu Link
  • (3) Auguste Comte.docx | Iilo Mesakh – Academia.edu Link
  • (4) Auguste Comte [PDF] | Indah Meitasari – Academia.edu Link
Posted in Ragam

Artikel Lainnya