Menu Tutup

Tipe Sosialisasi Berdasarkan Tahapan (Menurut Mead)

George Herbert Mead, salah satu tokoh penting dalam bidang sosiologi, menyumbangkan pemahaman yang mendalam tentang proses sosialisasi manusia. Mead berpendapat bahwa sosialisasi adalah proses yang terus-menerus, di mana individu belajar nilai, norma, dan peran sosial yang berlaku di masyarakat. Proses ini tidak hanya terjadi pada masa kanak-kanak, tetapi berlangsung sepanjang hayat.

Mead membagi proses sosialisasi menjadi beberapa tahap, yang masing-masing memiliki karakteristik dan signifikansi yang berbeda. Mari kita bahas satu per satu tahap-tahap tersebut.

1. Tahap Persiapan (Preparatory Stage)

Tahap persiapan merupakan tahap awal sosialisasi yang dimulai sejak seorang individu lahir. Pada tahap ini, bayi dan anak kecil belum memiliki kemampuan untuk mengambil peran orang lain. Mereka lebih fokus pada meniru tindakan orang dewasa di sekitar mereka tanpa memahami makna di balik tindakan tersebut.

  • Karakteristik:

    • Imitasi: Anak-anak pada tahap ini cenderung meniru segala sesuatu yang dilakukan oleh orang dewasa, seperti berbicara, berjalan, atau bermain.
    • Egosentrisme: Anak-anak belum mampu menempatkan diri pada posisi orang lain dan melihat dunia hanya dari perspektif mereka sendiri.
    • Perkembangan bahasa: Bahasa mulai berkembang pesat pada tahap ini, namun masih terbatas pada kata-kata sederhana dan kalimat pendek.
  • Contoh:

    • Seorang bayi meniru ibunya yang sedang tersenyum.
    • Seorang anak kecil bermain masak-masakan dengan meniru ibunya yang sedang memasak.

2. Tahap Bermain (Play Stage)

Setelah melewati tahap persiapan, anak-anak memasuki tahap bermain. Pada tahap ini, anak-anak mulai mampu mengambil peran orang lain secara individual. Mereka sering bermain peran sebagai tokoh-tokoh yang mereka kenal, seperti ibu, ayah, guru, atau tokoh dalam cerita.

  • Karakteristik:

    • Peran tunggal: Anak-anak hanya mengambil satu peran dalam satu waktu.
    • Imajinasi: Anak-anak menggunakan imajinasi mereka untuk menciptakan dunia permainan yang sesuai dengan peran yang mereka ambil.
    • Perkembangan ego: Melalui permainan peran, anak-anak mulai mengembangkan konsep diri atau ego.
  • Contoh:

    • Seorang anak perempuan bermain boneka, membayangkan bonekanya sebagai seorang ibu yang sedang mengurus anaknya.
    • Seorang anak laki-laki bermain superhero, membayangkan dirinya memiliki kekuatan super untuk menyelamatkan dunia.

3. Tahap Berperan (Game Stage)

Tahap berperan merupakan tahap terakhir dalam proses sosialisasi menurut Mead. Pada tahap ini, anak-anak mulai mampu mengambil banyak peran sekaligus dan memahami hubungan antara peran-peran tersebut. Mereka mulai menyadari adanya aturan sosial yang mengatur interaksi antara individu dalam masyarakat.

  • Karakteristik:

    • Peran ganda: Anak-anak dapat mengambil beberapa peran sekaligus dan memahami hubungan antara peran-peran tersebut.
    • Generalisasi lainnya: Anak-anak mulai memahami perspektif orang lain yang lebih luas, tidak hanya terbatas pada orang-orang yang mereka kenal.
    • Perkembangan kesadaran diri: Anak-anak mulai mengembangkan kesadaran diri yang lebih kompleks dan memahami posisi mereka dalam masyarakat.
  • Contoh:

    • Seorang anak bermain sepak bola bersama teman-temannya, di mana setiap anak memiliki peran yang berbeda (penjaga gawang, pemain tengah, penyerang) dan harus bekerja sama untuk mencapai tujuan bersama.
    • Seorang anak mengikuti kegiatan pramuka, di mana ia belajar tentang kerja sama, disiplin, dan tanggung jawab.

4. Tahap Penerimaan Norma Kolektif (Generalized Other)

Tahap ini merupakan kelanjutan dari tahap berperan, di mana individu telah internalisasi nilai-nilai dan norma-norma sosial yang berlaku di masyarakat. Individu pada tahap ini telah mengembangkan apa yang disebut Mead sebagai “generalized other”, yaitu pandangan umum tentang apa yang diharapkan oleh masyarakat dari dirinya.

  • Karakteristik:

    • Internalisasi nilai: Individu telah mengadopsi nilai-nilai dan norma-norma sosial sebagai bagian dari dirinya sendiri.
    • Kesadaran akan peran sosial: Individu memahami peran sosialnya dalam masyarakat dan berusaha untuk berperilaku sesuai dengan harapan masyarakat.
    • Pembentukan identitas sosial: Individu telah membentuk identitas sosial yang unik, namun tetap sesuai dengan nilai-nilai dan norma-norma sosial yang berlaku.
  • Contoh:

    • Seorang remaja memutuskan untuk melanjutkan studi ke perguruan tinggi karena ia memahami bahwa pendidikan tinggi adalah hal yang penting untuk mencapai kesuksesan dalam hidup.
    • Seorang dewasa bekerja keras untuk memenuhi kebutuhan keluarganya karena ia merasa bertanggung jawab untuk memberikan kehidupan yang layak bagi keluarganya.

Kesimpulan

Proses sosialisasi menurut Mead adalah sebuah perjalanan panjang yang dimulai sejak lahir dan terus berlangsung sepanjang hayat. Melalui berbagai tahap sosialisasi, individu belajar untuk berinteraksi dengan orang lain, memahami nilai-nilai dan norma-norma sosial, serta membentuk identitas diri yang unik.

Posted in Ragam

Artikel Lainnya