Penyebaran agama Islam di wilayah Kalimantan Utara digerakkan oleh figur-figur agung yang mendedikasikan hidupnya untuk menegakkan nilai-nilai tauhid di perbatasan maritim Nusantara. Kajian mengenai tokoh-tokoh penyebar agama Islam di Kalimantan Utara memperlihatkan keteladanan para sultan berwawasan keagamaan, ulama sufi asal Yaman, serta pendidik perintis yang membina masyarakat pesisir dan pedalaman Borneo utara.
Para tokoh ini berhasil memadukan syiar agama dengan pemberdayaan ekonomi dan penguatan integritas hukum kesultanan, mewariskan fondasi religius yang lestari hingga era modern.
Baca juga:
1. Sultan Amiril Mukminin (Wira Anyar)
Wira Anyar atau Sultan Amiril Mukminin adalah pendiri dan peletak fondasi keislaman Kesultanan Bulungan pada tahun 1731 M. Memiliki garis keturunan bangsawan pedalaman, beliau secara sadar memilih memeluk Islam dan mengubah tatanan kepemimpinan menjadi kesultanan bercorak Ahlussunnah wal Jama’ah.
Kepemimpinan beliau mengedepankan pendekatan damai kepada seluruh komunitas suku Dayak di pedalaman Sungai Kayan. Beliau merumuskan aturan tata niaga yang adil dan melarang praktik penindasan, menjadikan Kesultanan Bulungan dihormati oleh pedagang nusantara maupun bangsa asing.
2. Sultan Muhammad Kasimuddin (Datu Mansyur)
Sultan Muhammad Kasimuddin merupakan sultan Kesultanan Bulungan yang bertahta pada akhir abad ke-19. Beliau adalah sosok penguasa yang sangat mencintai ilmu dan para ulama. Di bawah kepemimpinannya, Tanjung Palas menjelma sebagai pusat pengajian kitab kuning terkemuka di utara Kalimantan.
Legasi monumental beliau adalah pembangunan Masjid Kasimuddin (Masjid Tua Tanjung Palas), sebuah mahakarya arsitektur kayu ulin dengan hiasan kaligrafi Arab yang megah. Beliau juga mengangkat para qadhi resmi untuk menegakkan hukum keluarga Islam dan wakaf bagi kesejahteraan umat.
3. Habib Alawy bin Syekh Alkaff Qatmyr (1837–1942 M)
Salah satu figur ulama sufi paling terkemuka di Kalimantan Utara adalah Habib Alawy bin Syekh Alkaff Qatmyr. Beliau adalah ulama keturunan Rasulullah SAW yang lahir di Kota Tarim, Hadramaut, Yaman, pada tahun 1837 M.
Setelah menimba ilmu kepada para wali dan ulama besar di Tarim, Habib Alawy berlayar ke Nusantara dan menetap di Kesultanan Bulungan. Dakwah beliau berfokus pada keteladanan akhlak tasawuf, pengajaran membaca Al-Qur’an, serta pembacaan wirid dan Ratib al-Haddad di kalangan masyarakat pesisir dan keluarga istana. Beliau wafat pada usia lanjut (105 tahun) pada tahun 1942 M dan makamnya di Tanjung Palas menjadi salah satu destinasi ziarah utama di Kaltara.
4. Datu Adil (Raja Pandita Tidung)
Di lingkungan masyarakat suku Tidung, figur Datu Adil (bergelar Raja Pandita) di Pulau Tarakan memegang peran historis penting dalam membimbing kehidupan beragama masyarakat maritim. Memadukan kharisma adat suku Tidung dengan kepatuhan syariat, beliau mendirikan surau-surau pengajian di muara-muara sungai dan melindungi nelayan muslim dari ancaman bajak laut Sulu.
5. Guru Mansyur dan Para Perintis Madrasah Tarakan
Memasuki awal abad ke-20, syiar Islam di Kalimantan Utara diperkuat oleh gerakan pendidikan formal yang dipelopori oleh Guru Mansyur dan para dai madrasah di Kota Tarakan. Mereka mendirikan sekolah-sekolah diniyah Islamiyah yang mengajarkan bahasa Arab, fikih ibadah, dan tafsir bagi anak-anak pekerja tambang minyak dan nelayan, memastikan transmisi nilai Islam tetap hidup di tengah arus modernisasi.
| Nama Tokoh | Peran / Posisi | Kontribusi Strategis bagi Kaltara |
|---|---|---|
| Sultan Amiril Mukminin | Sultan Pertama Bulungan (1731 M) | Institusionalisasi sistem kesultanan Islam dan pengayoman suku pedalaman |
| Sultan M. Kasimuddin | Sultan Bulungan Abad ke-19 | Pembangunan Masjid Kasimuddin Tanjung Palas & beasiswa tholabul ilmi |
| Habib Alawy Alkaff | Ulama Sufi Tarim (1837–1942 M) | Dakwah tasawuf, pengajaran Ratib, dan keteladanan akhlakul karimah |
| Datu Adil | Pemimpin Adat Dinasti Tidung | Penguatan syariat di kalangan pelaut, nelayan, dan masyarakat pulau terluar |
Perpaduan perjuangan para sultan dan ulama ini menegaskan bahwa keislaman di Kalimantan Utara berakar pada ketulusan dakwah, integritas akhlak, dan kecintaan mendalam pada ilmu pengetahuan.