Zat aditif makanan adalah zat atau campuran dari beberapa zat yang ditambahkan ke dalam makanan baik pada saat produksi, pemrosesan, pengemasan, atau penyimpanan dan bukan sebagai bahan baku dari makanan tertentu1. Zat aditif makanan digunakan untuk berbagai tujuan, seperti menjaga atau meningkatkan keamanan, kesegaran, rasa, tekstur, atau tampilan makanan2. Zat aditif makanan terdapat dalam bentuk alami maupun sintetis atau buatan3. Di Indonesia, zat aditif makanan disebut juga bahan tambahan pangan (BTP) dan penggunaannya diawasi oleh Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM)2.
Jenis-Jenis Zat Aditif Makanan
Menurut organisasi kesehatan dunia (WHO) dan organisasi pangan dan pertanian internasional (FAO), jenis zat aditif makanan dapat digolongkan menjadi tiga kategori utama, yaitu3:
- Zat perasa makanan, yaitu zat yang ditambahkan ke dalam makanan untuk meningkatkan aroma dan memperkuat rasa. Zat perasa makanan bisa berasal dari bahan alami, seperti kacang, buah-buahan, sayuran, atau rempah-rempah, atau bahan sintetis yang mirip dengan rasa makanan tertentu.
- Enzyme preparation, yaitu zat yang diperoleh melalui proses ekstraksi dari tanaman, produk hewani, atau mikroorganisme, seperti bakteri. Enzyme preparation digunakan sebagai alternatif zat aditif yang berbahan kimia dalam proses pemanggangan kue, pembuatan jus buah, fermentasi anggur dan bir, serta pembuatan keju.
- Zat aditif lainnya, yaitu zat yang memiliki fungsi spesifik, seperti pengawet, antioksidan, penstabil, pewarna, pemanis, pengatur keasaman, pengembang, dan sebagainya.
Fungsi Zat Aditif Makanan
Fungsi zat aditif makanan tergantung pada jenisnya. Berikut adalah beberapa fungsi zat aditif makanan yang umum digunakan2:
- Pengawet, yaitu zat yang mencegah atau menghambat kerusakan makanan akibat kuman agar tidak mudah membusuk. Contoh zat pengawet adalah natrium nitrit, natrium sulfit, asam benzoat, kalsium benzoat, nisin, nitrat, natrium nitrat, dan asam propionat.
- Antioksidan, yaitu zat yang mencegah atau menghambat kerusakan makanan akibat oksidasi. Contoh zat antioksidan adalah vitamin C, vitamin E, butylated hydroxyanisole (BHA), dan butylated hydroxytoluene (BHT).
- Pengatur keasaman, yaitu zat yang memberikan rasa asam, menetralkan rasa, atau menjaga rasa asam yang sudah ada. Zat ini juga menjaga warna asli makanan dan kadar pH makanan sehingga mencegah pertumbuhan kuman berbahaya. Contoh zat pengatur keasaman adalah asam sitrat, asam laktat, asam asetat, dan asam fosfat.
- Pewarna, yaitu zat yang memberikan atau memperbaiki warna makanan agar lebih menarik. Zat ini bisa berasal dari bahan alami, seperti bit, kunyit, atau klorofil, atau bahan sintetis, seperti tartrazin, indigotin, atau eritrosin.
- Pemanis, yaitu zat yang memberikan atau menambah rasa manis pada makanan. Zat ini bisa berasal dari bahan alami, seperti gula, madu, atau sirup, atau bahan sintetis, seperti aspartam, sukralosa, atau stevia.
- Penstabil, yaitu zat yang menjaga konsistensi rasa dan tekstur makanan. Contoh zat penstabil adalah agar-agar, gelatin, karagenan, dan pektin.
- Pengembang, yaitu zat yang membuat roti dan kue lebih mengembang. Contoh zat pengembang adalah baking soda, baking powder, dan ragi.
Dampak Zat Aditif Makanan
Zat aditif makanan umumnya aman digunakan, tetapi ada beberapa jenis zat aditif yang diduga dapat menimbulkan efek samping bagi kesehatan. Efek samping zat aditif makanan bisa bervariasi, tergantung pada jenis, dosis, frekuensi, dan sensitivitas individu3. Berikut adalah beberapa contoh efek samping zat aditif makanan yang perlu diwaspadai2:
- Alergi, yaitu reaksi imun yang berlebihan terhadap zat aditif tertentu. Gejala alergi bisa berupa gatal, ruam, bengkak, sesak napas, atau syok anafilaksis. Contoh zat aditif yang dapat menyebabkan alergi adalah sulfit, pewarna sintetis, dan monosodium glutamat (MSG).
- Kanker, yaitu pertumbuhan sel abnormal yang tidak terkendali akibat zat aditif yang bersifat karsinogenik. Contoh zat aditif yang dapat meningkatkan risiko kanker adalah nitrit, nitrat, asam benzoat, dan pewarna sintetis.
- Gangguan saraf, yaitu kerusakan atau perubahan fungsi sistem saraf akibat zat aditif yang bersifat neurotoksik. Contoh zat aditif yang dapat mempengaruhi saraf adalah aspartam, MSG, dan pewarna sintetis.
- Gangguan hormonal, yaitu ketidakseimbangan atau penurunan produksi hormon akibat zat aditif yang bersifat endokrin disruptor. Contoh zat aditif yang dapat mengganggu hormon adalah BHA, BHT, dan pewarna sintetis.
- Gangguan pencernaan, yaitu iritasi atau peradangan pada saluran pencernaan akibat zat aditif yang bersifat iritan. Contoh zat aditif yang dapat menyebabkan gangguan pencernaan adalah asam sitrat, asam fosfat, dan MSG.
Untuk menghindari efek samping zat aditif makanan, sebaiknya konsumsi makanan yang mengandung zat aditif dalam jumlah yang sewajarnya dan sesuai dengan anjuran BPOM. Selain itu, perhatikan juga label makanan yang mencantumkan informasi mengenai zat aditif yang digunakan, termasuk nama kimiawi, kode, dan fungsi. Jika Anda mengalami gejala yang mencurigakan setelah mengonsumsi makanan yang mengandung zat aditif, segera konsultasikan dengan dokter untuk mendapatkan penanganan yang tepat.
Sumber:
(1) Pengertian Zat Aditif, Macam, Fungsi, Dampak, dan Contohnya. https://gurusains.com/zat-aditif/.
(2) Zat Aditif pada Makanan, Kenali Jenis dan Efek Sampingnya – Hello Sehat. https://hellosehat.com/nutrisi/fakta-gizi/efek-zat-aditif-pada-makanan/.
(3) Jenis Zat Aditif pada Makanan, Kegunaan dan Efek Sampingnya. https://www.alodokter.com/memahami-zat-aditif-pada-makanan-kegunaan-serta-efek-sampingnya.
(4) Apa sih Zat Aditif Itu? Yuk, Ketahui Jenis dan Efeknya bagi Tubuh …. https://www.ruangguru.com/blog/apa-sih-zat-aditif-itu.
(5) Zat Aditif – GuruPendidikan.Com. https://www.gurupendidikan.co.id/zat-aditif/.