Ekonomi dalam Islam tidak sekadar merinci tata cara keuangan, namun juga mengakui nilai-nilai etika dan moral sebagai landasan yang kuat. Pemberdayaan ekonomi berbasis etika merupakan konsep yang ditanamkan melalui ajaran-ajaran Sunnah Nabi Muhammad SAW, yang menawarkan pandangan holistik terhadap keberlanjutan ekonomi.
Salah satu aspek sentral dalam Sunnah Nabi adalah konsep keadilan ekonomi. Nabi Muhammad menekankan pentingnya meratakan distribusi kekayaan dan menegaskan hak masyarakat untuk merasakan manfaat dari sumber daya alam dan kekayaan bersama. Prinsip ini tercermin dalam praktik zakat, wajib pajak keagamaan yang diwujudkan untuk membantu fakir miskin dan mengurangi kesenjangan ekonomi.
Selain itu, Nabi Muhammad memberikan contoh nyata dalam mempromosikan kewirausahaan yang bertanggung jawab. Beliau mendukung usaha-usaha kecil dan menengah, mendorong para sahabat untuk berdagang, serta memberikan dorongan kepada individu untuk berinovasi. Dalam kerangka ini, konsep bisnis yang memperhatikan dampak sosial dan lingkungan menjadi nilai utama, sejalan dengan prinsip-prinsip etika yang tercermin dalam ajaran Islam.
Pentingnya keadilan dan kesetaraan dalam transaksi ekonomi juga ditekankan dalam Sunnah Nabi. Nabi Muhammad menentang riba atau bunga, mengajarkan agar transaksi ekonomi didasarkan pada saling menguntungkan dan meminimalkan risiko bagi semua pihak. Ini menciptakan fondasi kuat untuk keberlanjutan ekonomi yang adil dan berkelanjutan.
Lebih dari sekadar aspek material, Sunnah Nabi juga menyoroti nilai-nilai seperti kejujuran, amanah, dan transparansi dalam urusan ekonomi. Beliau secara konsisten menekankan pentingnya memenuhi komitmen, menjauhi penipuan, dan melibatkan diri dalam transaksi yang adil. Prinsip-prinsip ini tidak hanya menghasilkan ekonomi yang berkelanjutan, tetapi juga mendorong pembangunan masyarakat yang kuat dan etis.
Dengan merenungi Sunnah Nabi, kita dapat menemukan inspirasi untuk membangun sistem ekonomi yang lebih berorientasi pada nilai-nilai etika dan moral. Pemberdayaan ekonomi berbasis etika, sebagaimana diajarkan oleh Nabi Muhammad, bukan hanya tentang mencari keuntungan material semata, tetapi juga menciptakan keberlanjutan yang melibatkan seluruh komunitas dalam upaya bersama untuk kesejahteraan bersama.