Menu Tutup

Kiai Ahmad Mustofa Bisri: Guru Besar NU yang Berkomitmen pada Pendidikan dan Toleransi

Kiai Ahmad Mustofa Bisri, atau yang akrab disapa Gus Mus, adalah sosok ulama besar yang telah memberikan kontribusi luar biasa dalam pengembangan Islam di Indonesia, khususnya dalam konteks organisasi Nahdlatul Ulama (NU). Beliau tidak hanya dikenal sebagai pemimpin spiritual, tetapi juga sebagai seorang Guru Besar yang berkomitmen pada pembangunan pendidikan dan toleransi.

Gus Mus lahir pada 18 Agustus 1942 di Rembang, Jawa Tengah, dan tumbuh dalam lingkungan keluarga yang sarat dengan nilai-nilai keislaman. Ayahnya, Kiai Bisri Syansuri, adalah seorang ulama yang memiliki pengaruh besar di masyarakat. Semenjak muda, Gus Mus telah menunjukkan minatnya pada ilmu agama, dan kecerdasannya segera mencuat, mengantarkannya untuk menempuh pendidikan di Pesantren Tebuireng, Jombang, Jawa Timur.

Pesantren Tebuireng, yang dipimpin oleh kakeknya, Kiai Hasyim Asy’ari, adalah tempat di mana Gus Mus mendalami ilmu agama dan tradisi keislaman NU. Pendidikan formalnya ditempuh di Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Sunan Kalijaga Yogyakarta, tempat beliau memperdalam pemahaman agamanya. Kesungguhan dan ketekunan Gus Mus dalam mengejar ilmu agama membuatnya dikenal sebagai ulama muda yang berpotensi.

Setelah menyelesaikan pendidikannya, Gus Mus aktif dalam berbagai kegiatan keislaman dan organisasi NU. Namun, salah satu fokus utamanya adalah pada bidang pendidikan. Beliau terlibat dalam pembangunan pesantren dan mengadvokasi pentingnya pendidikan agama yang berkualitas. Gus Mus percaya bahwa pendidikan adalah kunci untuk mengangkat martabat umat, dan inilah yang membuatnya terlibat secara aktif dalam mengembangkan lembaga-lembaga pendidikan di NU.

Gus Mus menekankan pentingnya pendidikan yang tidak hanya mengajarkan aspek keagamaan, tetapi juga membuka ruang bagi pemahaman yang lebih luas, terutama terkait dengan nilai-nilai kehidupan berbangsa dan bernegara. Beliau mengajarkan bahwa Islam harus dihayati dalam konteks kekinian, mengingat perubahan zaman yang begitu cepat.

Tidak hanya sebagai tokoh pendidikan, Gus Mus juga dikenal sebagai pelopor toleransi di kalangan NU. Beliau mendukung dialog antaragama dan mempromosikan sikap saling menghargai antarumat beragama. Konsep kebhinekaan yang diusungnya tidak hanya sebagai slogan, tetapi diwujudkan melalui tindakan nyata, seperti partisipasinya dalam berbagai forum lintas agama.

Gus Mus juga terlibat dalam kegiatan-kegiatan kemanusiaan, terutama dalam rangka mendukung perdamaian dan keadilan sosial. Pemikirannya yang inklusif dan moderat membuatnya dihormati oleh berbagai kalangan, tidak hanya di Indonesia, tetapi juga di tingkat internasional.

Dengan dedikasinya pada pendidikan dan toleransi, Gus Mus telah menjadi teladan bagi banyak generasi NU. Beliau bukan hanya seorang ulama besar, tetapi juga seorang pemimpin yang membawa NU ke arah yang lebih progresif dan inklusif. Semangat dan kontribusi Gus Mus dalam memajukan pendidikan dan memperkuat toleransi tetap menjadi warisan berharga yang terus menginspirasi.