Isra’ Mi’raj, peristiwa ajaib dalam kehidupan Nabi Muhammad SAW, telah menjadi landasan keimanan bagi umat Islam selama berabad-abad. Peristiwa ini, terdiri dari dua tahap penting, yaitu Isra’ (perjalanan malam) dan Mi’raj (kenaikan ke langit). Meskipun terdapat beragam sudut pandang dan interpretasi, Isra’ Mi’raj terus menjadi fokus perdebatan dan kajian dalam dunia sejarah dan keagamaan.
Isra’ Mi’raj terjadi pada tahun kedelapan misi kenabian Nabi Muhammad SAW di Mekah. Peristiwa ini dimulai ketika Malaikat Jibril membawa Rasulullah dari Masjidil Haram ke Masjidil Aqsa dalam semalam. Fakta ini tercatat dalam beberapa riwayat hadis dan merupakan bagian integral dari sejarah Islam. Namun, banyak aspek dari perjalanan ini memunculkan pertanyaan dan kebingungan di kalangan sejarawan dan peneliti.
Sejarawan sering menyoroti ketidakjelasan geografis Isra’ Mi’raj. Perjalanan malam yang mencakup jarak begitu jauh, dari Mekah ke Yerusalem, menimbulkan pertanyaan mengenai dimensi fisik peristiwa ini. Apakah Isra’ Mi’raj adalah perjalanan fisik yang sesungguhnya ataukah lebih bersifat spiritual dan simbolis? Ini menjadi salah satu misteri yang terus memicu diskusi di kalangan cendekiawan Islam.
Keajaiban Mi’raj, yaitu kenaikan Rasulullah ke langit, menjadi puncak peristiwa ini. Rasulullah SAW naik melalui tujuh langit, bertemu dengan para nabi dan malaikat, dan akhirnya sampai ke Sidrat al-Muntaha, batas tertinggi pencapaian. Kenaikan ini mengejutkan dan memukau, membuka pintu untuk tafsir-tafsir teologis dan mistis.
Keberhasilan Nabi Muhammad SAW melewati tujuh langit dan bertemu dengan Allah menggugah rasa ingin tahu tentang alam semesta dan dimensi-dimensi yang tak terlihat. Bagaimana mungkin seorang manusia bisa melakukan perjalanan sejauh itu dalam waktu singkat? Pertanyaan ini menggiring kita ke medan filosofis dan metafisik, mengajukan ragam interpretasi tentang alam gaib dan keajaiban ilahi.
Meski banyak pertanyaan muncul, kaum muslim percaya bahwa Isra’ Mi’raj adalah tanda kebesaran Allah dan bukti kenabian Muhammad SAW. Peristiwa ini bukan hanya tentang perjalanan fisik melintasi ruang dan waktu, tetapi juga mengandung makna spiritual yang mendalam. Isra’ Mi’raj mengajarkan umat Islam tentang ketinggian spiritual dan keagungan Allah yang melampaui pemahaman manusia.
Misteri Isra’ Mi’raj tidak hanya mempertanyakan dimensi fisiknya, tetapi juga menyentuh esensi keimanan dan kepercayaan umat Islam. Ini adalah peristiwa yang mengajarkan bahwa batas-batas alam semesta tidak dapat mengekang kekuasaan Allah. Meskipun misterius, Isra’ Mi’raj tetap menjadi sumber inspirasi dan kekaguman bagi umat Islam, mengingatkan mereka akan keajaiban penciptaan dan kebesaran Sang Pencipta.