Pada abad ke-19, Kalimantan Selatan menjadi saksi dari salah satu pemberontakan yang paling mencolok dalam sejarah perlawanan terhadap kolonialisme Belanda. Pemberontakan ini dipimpin oleh seorang tokoh pejuang yang penuh semangat, Pangeran Antasari. Pemberontakan Banjar, yang terjadi antara tahun 1859 hingga 1906, tidak hanya merupakan perlawanan fisik, tetapi juga mencerminkan keberanian dan tekad masyarakat Banjar untuk mempertahankan kedaulatan dan kebebasan mereka.
Pangeran Antasari, seorang bangsawan yang dihormati di Kalimantan Selatan, memainkan peran sentral dalam pemberontakan ini. Dia tidak hanya memiliki keahlian militer yang kuat, tetapi juga dikenal karena kepemimpinannya yang bijaksana. Pangeran Antasari melihat ancaman terhadap kedaulatan Banjar oleh penetrasi kolonial Belanda, dan inilah yang mendorongnya untuk memimpin gerakan perlawanan.
Perang melawan Belanda dimulai pada tahun 1859, ketika pasukan Belanda di bawah pimpinan Mayor Van der Kun menyerbu Martapura, ibu kota Kesultanan Banjar. Pangeran Antasari, bersama para pejuang Banjar, menjalankan taktik gerilya yang berhasil menghambat kemajuan pasukan Belanda. Konflik ini tidak hanya bersifat militer, tetapi juga mencakup perlawanan politik dan diplomatis.
Pada tahun 1862, Pangeran Antasari menulis surat terkenal kepada Gubernur Jenderal Hindia Belanda, Rochussen, menyampaikan ketidakpuasannya terhadap tindakan kolonial Belanda. Dalam surat tersebut, Pangeran Antasari menegaskan tekadnya untuk melawan penjajahan dan mempertahankan wilayahnya. Namun, respons Belanda terhadap tuntutan ini hanya berupa penolakan dan penindasan lebih lanjut.
Perlawanan Banjar mencapai puncaknya pada pertempuran besar di Sungai Tabuk pada tahun 1862. Meskipun pasukan Banjar di bawah pimpinan Pangeran Antasari berhasil memberikan perlawanan sengit, namun akhirnya mereka harus menyerah akibat kekuatan dan persediaan yang lebih besar dari pasukan Belanda. Pangeran Antasari sendiri tertangkap dan diasingkan ke Pulau Java.
Meskipun Pangeran Antasari sendiri dikalahkan, semangat perlawanan tetap hidup di kalangan masyarakat Banjar. Pada awal abad ke-20, perlawanan kembali meletus di Banjarmasin dan sekitarnya, terutama selama Perang Banjar (1899-1905). Pada tahun 1905, Pangeran Antasari meninggal di Pulau Rupat, tetapi warisan perjuangannya tetap menginspirasi gerakan-gerakan kemerdekaan di masa yang akan datang.
Pemberontakan Banjar dan kepemimpinan Pangeran Antasari adalah simbol ketahanan dan keberanian masyarakat Kalimantan Selatan dalam menghadapi dominasi kolonial Belanda. Peristiwa ini tidak hanya mencerminkan kegigihan perlawanan fisik, tetapi juga menunjukkan pentingnya persatuan dan semangat juang dalam menghadapi penjajah. Pangeran Antasari dan Pemberontakan Banjar tetap menjadi bagian integral dari warisan sejarah Indonesia yang memupuk semangat kebangsaan dan perjuangan untuk keadilan serta kebebasan.