Peristiwa kenabian Nabi Muhammad SAW menjadi salah satu momen paling krusial dalam sejarah agama Islam. Nabi Muhammad lahir di Mekah pada abad ke-6 Masehi, di tengah-tengah masyarakat Arab yang pada saat itu tengah terjebak dalam berbagai konflik sosial, ekonomi, dan politik. Nabi Muhammad tumbuh sebagai seorang anak yatim piatu setelah kehilangan kedua orang tuanya dalam usia muda. Meskipun demikian, kehidupan awalnya dipenuhi dengan kejujuran, kebijaksanaan, dan integritas yang tinggi, yang membawanya dikenal sebagai Al-Amin, yang berarti “yang terpercaya.”
Seiring bertambahnya usia, Nabi Muhammad mulai mengasingkan diri untuk merenung dan berkontemplasi di Gua Hira, sebuah gua di pegunungan dekat Mekah. Pada salah satu malam yang dikenal sebagai Malam Lailatul Qadar, atau “Malam Kemuliaan,” ketika beliau berusia 40 tahun, peristiwa yang menentukan terjadi. Saat itu, Malaikat Jibril menampakkan diri kepadanya dan menyampaikan wahyu pertama dari Allah SWT. Wahyu tersebut adalah permulaan dari serangkaian wahyu ilahi yang kemudian dihimpun menjadi Al-Quran, kitab suci umat Islam.
Kedatangan wahyu itu menandai dimulainya kenabian Nabi Muhammad, dan dari sinilah dimulainya misi penyampaian ajaran Islam. Dengan teguhnya keyakinan akan wahyu ilahi yang diterimanya, Nabi Muhammad mulai menyebarkan ajaran tauhid dan pesan moral yang menyuarakan kesatuan, keadilan, dan kemanusiaan. Namun, awal perjalanan dakwahnya tidak selalu mulus. Beliau dan para pengikutnya menghadapi penindasan dan penolakan yang keras dari penguasa dan masyarakat Mekah yang pada waktu itu masih berpegang teguh pada sistem kepercayaan politeistik.
Peningkatan jumlah pengikut Nabi Muhammad yang terus berlanjut akhirnya memicu perlawanan yang lebih intensif dari orang-orang kafir Mekah. Pada tahun 622 Masehi, Nabi Muhammad dan para pengikutnya melakukan hijrah ke Madinah, sebuah peristiwa yang menjadi titik balik dalam sejarah Islam dan dimulainya penyebaran Islam sebagai agama yang meraih pengakuan luas. Di Madinah, Nabi Muhammad berhasil membangun persatuan di antara suku-suku yang sebelumnya terpecah-belah, dan menetapkan fondasi bagi masyarakat Islam yang berlandaskan prinsip-prinsip persaudaraan, keadilan, dan kesetaraan.
Selama bertahun-tahun di Madinah, Nabi Muhammad tidak hanya menjadi pemimpin agama, tetapi juga pemimpin politik dan sosial yang bijaksana. Beliau menyusun Piagam Madinah, sebuah dokumen konstitusi yang mengatur hak-hak dan kewajiban semua warga negara, termasuk Muslim dan non-Muslim, serta menegaskan prinsip-prinsip persamaan di hadapan hukum. Peristiwa-peristiwa ini menandai peran penting Nabi Muhammad dalam membentuk masyarakat yang berlandaskan kesetaraan, keadilan, dan perdamaian.
Dengan semangat dan ketekunan yang luar biasa, Nabi Muhammad terus menyebarkan ajaran Islam hingga akhir hayatnya. Misi kenabiannya tidak hanya berdampak pada penyebaran agama Islam di Semenanjung Arab, tetapi juga membentuk dasar bagi peradaban Islam yang berkembang pesat di masa mendatang. Peristiwa kenabian Nabi Muhammad tidak hanya menjadi bagian integral dari sejarah Islam, tetapi juga memberikan inspirasi dan pedoman bagi jutaan umat Muslim di seluruh dunia hingga saat ini.