Pertumbuhan ekonomi adalah peningkatan nilai barang dan jasa yang diproduksi oleh suatu negara dalam periode tertentu. Pertumbuhan ekonomi dapat mengukur tingkat produktivitas dan daya saing suatu negara. Pertumbuhan ekonomi juga dapat mempengaruhi kesejahteraan, kemiskinan, pengangguran, pendapatan, distribusi, dan lingkungan.
Negara-negara maju adalah negara-negara yang memiliki tingkat kemajuan yang tinggi dalam berbagai bidang, seperti ekonomi, sosial, politik, budaya, pendidikan, kesehatan, teknologi, dan lingkungan. Negara-negara maju memiliki standar hidup yang relatif tinggi, kesejahteraan yang merata, kestabilan politik, demokrasi, hak asasi manusia, dan perlindungan lingkungan. Negara-negara maju juga mampu mengatasi berbagai masalah yang dihadapi oleh negara berkembang atau negara terbelakang, seperti kemiskinan, kelaparan, penyakit, konflik, korupsi, dan polusi.
Pertumbuhan ekonomi negara-negara maju pada tahun 2021-2023 mengalami perbaikan seiring dengan respons kebijakan dan kerja sama internasional untuk mengatasi dampak pandemi COVID-19. Namun, laju pertumbuhan ekonomi negara-negara maju tidak merata dan masih dihadapkan pada berbagai tantangan dan risiko.
Menurut data dari Bank Indonesia, perekonomian global pada tahun 2021 melanjutkan perbaikan dengan laju pertumbuhan sebesar 2,7% secara tahunan atau year on year (yoy). Perbaikan ini didukung oleh pent-up demand baik dari pasar domestik maupun eksternal, seiring dengan pelonggaran restriksi mobilitas dan stimulus kebijakan. Divergensi laju pertumbuhan ekonomi terutama disebabkan oleh perbedaan akses terhadap vaksin dan besaran stimulus kebijakan antarnegara.
Sejalan dengan tingkat vaksinasi yang jauh lebih baik dan stimulus kebijakan yang lebih besar, pemulihan ekonomi di negara maju (advanced economies/AEs) relatif lebih cepat dibandingkan negara berkembang (emerging economies/EMs). Pada paruh pertama 2021, perekonomian global secara umum melanjutkan tren perbaikan, setelah terkontraksi sangat dalam pada triwulan II 2020. Pada triwulan I 2021, perekonomian AS berhasil keluar dari zona kontraksi, sementara Tiongkok dan India melanjutkan tren pertumbuhan ekonomi yang positif. Pertumbuhan ekonomi Tiongkok triwulan I 2021 bahkan mencapai 18,3%, ditopang oleh peningkatan konsumsi dan jasa seiring normalisasi aktivitas masyarakat, kenaikan permintaan ekspor, ekspansi industri, serta dipengaruhi faktor base effect. Pada triwulan II 2021, pertumbuhan ekonomi makin kuat terutama di AS (12,2%), Kawasan Euro (14,2%), Jepang (7,6%), dan India (20,1%). Selain dipengaruhi oleh dukungan stimulus kebijakan dan percepatan vaksinasi, kinerja tersebut juga dipengaruhi oleh faktor base effect pertumbuhan ekonomi yang sangat rendah pada triwulan II 2020.
Pertumbuhan ekonomi global kembali tumbuh melambat dan berada di bawah prediksi pada triwulan III 2021 akibat penyebaran COVID-19 varian Delta dan hambatan suplai. Kasus infeksi COVID-19 varian Delta yang meluas pada kawasan Asia, Eropa, dan Amerika, kembali menyebabkan penerapan pembatasan mobilitas. Hal ini berdampak pada penurunan aktivitas konsumsi dan produksi di beberapa negara. Selain itu, hambatan suplai yang disebabkan oleh gangguan rantai pasok global dan kelangkaan energi juga menimbulkan tekanan inflasi di beberapa negara. Peningkatan permintaan di tengah terjadinya hambatan suplai dan kelangkaan energi memberi tekanan kenaikan inflasi global yang lebih lama dari perkiraan.
Menurut data dari International Monetary Fund (IMF)2, pertumbuhan ekonomi global pada tahun 2021 diproyeksikan sebesar 5,9%, sedikit lebih rendah dari perkiraan sebelumnya sebesar 6%. Pertumbuhan ekonomi negara maju diproyeksikan sebesar 5,2%, sedikit lebih tinggi dari perkiraan sebelumnya sebesar 5,1%. Pertumbuhan ekonomi negara berkembang diproyeksikan sebesar 6,4%, lebih rendah dari perkiraan sebelumnya sebesar 6,7%. Pada tahun 2022, pertumbuhan ekonomi global diproyeksikan sebesar 4,9%, sedikit lebih tinggi dari perkiraan sebelumnya sebesar 4,8%. Pertumbuhan ekonomi negara maju diproyeksikan sebesar 4,5%, sedikit lebih rendah dari perkiraan sebelumnya sebesar 4,6%. Pertumbuhan ekonomi negara berkembang diproyeksikan sebesar 5,1%, sedikit lebih tinggi dari perkiraan sebelumnya sebesar 5%.
Dari data tersebut, dapat dilihat bahwa pertumbuhan ekonomi negara-negara maju pada tahun 2021-2022 masih lebih tinggi dibandingkan dengan rata-rata pertumbuhan ekonomi global. Hal ini menunjukkan bahwa negara-negara maju memiliki daya tahan yang lebih baik dalam menghadapi dampak pandemi COVID-19. Namun, pertumbuhan ekonomi negara-negara maju juga mengalami perlambatan pada triwulan III 2021 dan diproyeksikan akan melambat lagi pada tahun 2022. Hal ini menunjukkan bahwa negara-negara maju masih menghadapi berbagai tantangan dan risiko yang dapat menghambat pemulihan ekonominya.
Beberapa tantangan dan risiko yang dihadapi oleh negara-negara maju dalam meningkatkan pertumbuhan ekonominya adalah sebagai berikut:
- Pandemi COVID-19. Pandemi COVID-19 masih menjadi ancaman utama bagi kesehatan dan perekonomian dunia. Penyebaran virus varian baru yang lebih menular dan mematikan dapat menyebabkan kenaikan kasus infeksi dan kematian, serta memaksa penerapan pembatasan mobilitas yang lebih ketat. Hal ini dapat mengganggu aktivitas konsumsi dan produksi, serta menimbulkan ketidakpastian bagi pelaku usaha dan masyarakat. Selain itu, ketimpangan akses terhadap vaksin dan obat-obatan antarnegara juga dapat memperpanjang durasi pandemi dan memperlebar kesenjangan pembangunan.
- Hambatan suplai dan inflasi. Hambatan suplai yang disebabkan oleh gangguan rantai pasok global dan kelangkaan energi juga menjadi tantangan bagi pertumbuhan ekonomi negara-negara maju. Hambatan suplai dapat menurunkan kapasitas produksi dan menimbulkan kelangkaan barang-barang tertentu. Hal ini dapat meningkatkan biaya produksi dan harga barang-barang, sehingga menimbulkan tekanan inflasi. Inflasi yang tinggi dapat menggerus daya beli masyarakat dan menurunkan permintaan agregat. Selain itu, inflasi yang tinggi juga dapat memicu kenaikan suku bunga dan volatilitas nilai tukar, sehingga mengganggu stabilitas keuangan.
- Normalisasi kebijakan moneter. Normalisasi kebijakan moneter adalah proses pengetatan kebijakan moneter yang dilakukan oleh bank sentral setelah memberikan stimulus kebijakan moneter yang longgar untuk merangsang perekonomian. Normalisasi kebijakan moneter biasanya dilakukan dengan cara menaikkan suku bunga acuan atau mengurangi pembelian aset keuangan (quantitative easing/QE). Normalisasi kebijakan moneter dapat menjadi tantangan bagi pertumbuhan ekonomi negara-negara maju jika dilakukan terlalu cepat atau terlalu lambat. Jika dilakukan terlalu cepat, normalisasi kebijakan moneter dapat menimbulkan dampak negatif bagi perekonomian, seperti penurunan investasi, konsumsi, dan ekspor, serta meningkatkan beban utang dan defisit anggaran. Jika terlalu lambat, normalisasi kebijakan moneter dapat menimbulkan risiko overheating, yaitu kondisi di mana perekonomian tumbuh lebih cepat dari kapasitasnya, sehingga menimbulkan inflasi dan ketidakseimbangan ekonomi. Normalisasi kebijakan moneter juga dapat menimbulkan ketidakpastian dan volatilitas pasar keuangan global, terutama bagi negara-negara berkembang yang rentan terhadap arus modal keluar.
- Ketegangan geopolitik dan perdagangan. Ketegangan geopolitik dan perdagangan adalah konflik atau persaingan antarnegara atau kelompok negara yang berkaitan dengan kepentingan politik, ekonomi, atau keamanan. Ketegangan geopolitik dan perdagangan dapat menjadi tantangan bagi pertumbuhan ekonomi negara-negara maju jika menimbulkan eskalasi atau perang yang dapat mengganggu stabilitas dan kerja sama internasional. Beberapa contoh ketegangan geopolitik dan perdagangan yang terjadi di dunia saat ini adalah antara AS dan Tiongkok, AS dan Iran, AS dan Rusia, AS dan Korea Utara, Inggris dan Uni Eropa (Brexit), serta antara Turki dan Yunani.