Riwayat Awal Kenabian Nabi Muhammad: Perspektif Sejarah
Pada abad ke-6 Masehi, di tengah-tengah padang pasir Arab yang tandus, terjadi peristiwa yang mengubah jalan sejarah umat manusia. Di kota Mekah, Nabi Muhammad bin Abdullah dilahirkan pada tahun 570 Masehi. Meski terlahir dalam keluarga yang tidak begitu berpengaruh, Muhammad tumbuh menjadi seorang yang dikenal akan kejujurannya dan kebijaksanaannya. Namun, kisah kenabian dan perjalanan spiritualnya dimulai belakangan, ketika ia telah mencapai usia paruh baya.
Ketika Muhammad berusia empat puluh tahun, tepatnya pada malam yang dikenal sebagai “Lailatul Qadr,” ia mendapatkan wahyu pertama dari Allah melalui perantaraan Malaikat Jibril. Dalam keadaan terkejut dan bingung, Muhammad diberitahu bahwa ia dipilih sebagai rasul terakhir dan penutup para nabi. Awalnya, Muhammad sendiri bingung dengan tugas yang diberikan kepadanya, namun dengan bimbingan dan dukungan istri pertamanya, Khadijah, ia menerima panggilan kenabiannya.
Penerimaan pertamanya atas wahyu ini tidak selalu lancar. Muhammad mengalami penentangan yang keras dari kalangan Mekah yang lebih konservatif dan keras terhadap perubahan. Mereka menolak untuk mengakui kebenaran wahyu yang Muhammad terima dan memperlakukannya dengan sikap skeptis dan sinis. Sebagai seorang pemuda yang tumbuh dalam kebudayaan politeistik, transisi Muhammad menuju kepercayaan monoteistik Allah bukanlah tanpa rintangan.
Namun demikian, Muhammad terus menyerukan pesan tauhid dan keadilan sosial, yang mulai menarik perhatian orang-orang yang lelah akan ketidakadilan sosial yang merajalela di tengah masyarakat Arab pada saat itu. Pesannya tentang persaudaraan, keadilan, dan perlakuan yang adil terhadap sesama manusia, yang merupakan inti dari ajaran Islam, mulai memikat beberapa pengikut yang setia.
Ketika pengikutnya tumbuh, tekanan dan penindasan terhadap komunitas muslim meningkat. Pemimpin Mekah menganggap ajaran-ajaran Muhammad sebagai ancaman terhadap otoritas dan kekuasaan mereka. Serangkaian penindasan dan penganiayaan terhadap komunitas Muslim memaksa mereka untuk mencari perlindungan di kota Yathrib, yang kemudian dikenal sebagai Madinah.
Di Madinah, Nabi Muhammad tidak hanya menjadi pemimpin rohani, tetapi juga pemimpin politik. Ia membangun kesepakatan antara suku-suku yang berbeda dan menegakkan hukum yang adil untuk semua. Ini merupakan titik balik penting dalam sejarah awal Islam, karena Madinah menjadi pusat pertumbuhan dan pengembangan agama Islam yang akhirnya menyebar ke seluruh Semenanjung Arab.
Dengan kematangan politik dan ketegasan agama, Muhammad akhirnya kembali ke Mekah sebagai pemenang. Ia mampu menaklukkan kota tersebut tanpa pertumpahan darah, menegakkan keadilan dan menghapuskan praktik-praktik penyembahan berhala yang meluas di sekitar Ka’bah. Kemenangan ini menandai kelahiran kerajaan Islam di bawah kepemimpinan Nabi Muhammad, yang pada akhirnya menjadi pijakan bagi penyebaran Islam ke seluruh dunia.
Sebagai penutup para nabi, Nabi Muhammad memperjuangkan ajaran-ajaran agama yang mencakup aspek spiritual, moral, sosial, dan politik. Riwayat awal kenabian Nabi Muhammad ini tidak hanya menjadi sejarah agama Islam, tetapi juga sebuah cermin bagi perjalanan manusia dalam menghadapi tantangan, mengatasi ketidakpastian, dan menegakkan keadilan di dunia.