Hadis-Hadis Nabi Tentang Seni Rupa

Seni rupa merupakan salah satu seni yang sudah lama dikenal dan dilakukan oleh umat manusia. Baik berupa gambar lukisan, mural dan patung-patung.

Bahkan dalam perkembangannya, seni rupa dijadikan salah satu mata kuliah di beberapa universitas di dunia, bahkan dibuka fakultas tersendiri yang berkaitan dengannya.

Selain sebagai peninggalan peradapan kuno dan terus lestari sampai saat ini, seni rupa juga dijadikan sebagai salah satu hobi. Bahkan sebagian orang menjadikannya sebagai salah satu profesi yang menghasilkan keuntungan materi.

Menyikapi fenomena tersebut, perlu kiranya dikaji dari sudut pandang hukum Islam dengan memaparkan pendapat para ulama tentang seni rupa, baik pembuatannya, seni rupa dijadikan objek transaksi, dan penghasilan yang diperoleh dari seni rupa tersebut. Dan yang tak kalah penting dari itu semua adalah dalil-dali yang dijadikan pijakan hukum oleh para ulama dalam pendapatnya.

Sebelum masuk pada kajian hukum Islam tentang seni rupa, penting untuk dibahas lebih dulu pengertian gambar, lukisan, photografi, dan semua hal yang berkaitan dengan seni rupa.

Pengertian seni rupa adalah cabang kesenian yang membentuk sebuahkarya seni dengan menggunakan media yang dapat ditangkap secara kasat mata dan juga dapat dirasakan ataupun disentuh dengan indera peraba.

Ketika bicara masalah seni rupa, tentu sangat erat kaitannya dengan unsur yang dikandungnya. Titik, garis, bidang, bentuk, ruang, warna, tekstur, gelap terang dan lain sebagainya. Dari pengertian ini maka lukisan, sketsa, ilustrasi, ukiran relief, dan patung termasuk di dalamnya.

Dalam bahasa Arab ada beberapa kata yang bisa mewakili istilah seni rupa, diantaranya kalimat tashwir, tamatsil, dan rasm.

Tashwir adalah proses pembuatan suatu bentuk rupa tertentu yang membedakan antara satu bentuk dengan bentuk lainnya.[1]

Atau tashwir juga bisa diartikan sebagai upaya menyerupakan (mencontoh) dengan suatu bentuk yang sudah ada, baik berupa bentuk tiga dimensi (3D) seperti patung, maupun dalam goresan di bidang datar seperti gambar dan lukisan.

[1] Lisan al-โ€˜Arab, Ibn Mandhur, “ุตูˆุฑ”

1. Hadits Pertama

Dari Abu Hurairah radhiyallahuanhu beliau berkata bahwa Rasulullah SAW bersabda:

ู‚ุงู„ูŽ ุงู‡ู„ู„ููŽู‘ ุนูŽู‡ุฒ ูˆูŽุฌูŽ ู‡ู„ ูˆูŽู…ูŽู†ู’ ุฃุธู„ู…ู ู…ู…ูู‡ู†ู’ ุฐูŽู‡ูŽุจูŽ ูŠู’ูŽูŽู„ู‚ู ูƒูŽุฎูŽู„ู’ู…ู‚ูŠ ููŽ ู„ู’ูŠุฎู’ู„ูู‚ููˆุง ุจ ุนูˆุถูŽุฉู‹ ุฃูˆู’ ู„ู…ูŠุฎู’ู„ู‚ููˆุง ุฐูŽู‡ุฑุฉู‹

โ€Allah โ€™Azza wa Jalla berfirman, โ€œSiapakah yang lebih zhalim dibandingkan orang yang ingin menciptakan sebagaimana ciptaan-Ku. Maka hendaknya mereka menciptakan lalat atau semut kecil (jika mereka memang mampu)!โ€ (HR. Bukhari, Muslim dan Ahmad)

2. Hadits Kedua

ู‚ูŽุงู„ูŽ ุงู‡ู„ู„ููŽู‘ ุนูŽู‡ุฒ ูˆุฌูŽ ู‡ู„ ูˆูŽู…ูŽู†ู’ ุฃุธู„ู…ู ู…ู…ูู‡ู†ู’ ุฐูŽู‡ูŽุจูŽ ูŠูŽูŽู„ู‚ู ูƒูŽุฎูŽู„ู’ู…ู‚ู‰ ููŽ ู„ู’ูŠุฎู’ู„ู‚ููˆุง ุฐูŽู‡ุฑุฉู‹ ุฃูˆู’ ู„ู…ูŠุฎู’ู„ู‚ููˆุง ุญูŽุจู‡ุฉู‹ ุฃูˆู’ ุดูŽุนู…ูŠุฑุฉู‹

โ€œAllah โ€˜Azza wa Jalla berfirman, โ€œSiapakah yang lebih zholim dibandingkan orang yang menciptakan sebagaimana ciptaan-Ku. Hendahlahย  menciptakan semut kecil, biji atau gandum (jika mereka memang mampu)! โ€ (HR. Bukhari )

Hadis Dari Ibnu Umar radhiallahu โ€™anhuma, bahwa Rasulullahย  Shalallahu โ€™alaihi Wasallam bersabda: ย ุฅย  ู‡ู† ุงู„ู‡ุฐูŠู†ูŽ ูŠุตู†ุนูˆู†ูŽ ู‡ู…ุฐู‡ ุงู„ุตู‘ููˆูŽุฑูŽ ูŠุนู‡ุฐุจูˆู†ูŽ ูŠูˆู…ูŽ ุงู„ู‚ูŠุงู…ู…ุฉย  ูŠู‚ุงู„ู ย ู„ูŽูŽู… : ุฃุญูŠูˆุง ู…ุง ุฎู„ู‚ุชู…ู’

Orang yang membuatย  gambar-gambar ini akan diadzab di hari kiamat, kemudian dikatakan kepada mereka: โ€˜hidupkanlah apa yang kalian buat ini.โ€ (HR. Bukhari dan Muslim)

3. Hadits Ketiga

Hadis dari Abdullah bin Masโ€™ud radhiallahu โ€™anhu, beliau berkata bahwa Rasulullah SAW bersabda:

ุฅ ู‡ู† ุฃุดู‡ุฏ ุงู„ู†ู‡ุง ู…ุณ ุนุฐุงุจู‹ู‹ ุนู†ุฏูŽ ุงู‡ู…ู„ู„ูŽู‘ ูŠูˆู…ูŽ ุงู„ู‚ูŠุงู…ู…ุฉ ุงู„ู…ุต ู…ูˆุฑูˆู†ูŽ

Sesungguhnya orang yang paling keras adzabnya di sisi Allah pada Hari kiamat adalah tukang gambar. (HR. Bukhari dan Muslim)

4. Hadits Keempat

Hadis dari Ummul Mukminin โ€˜Aisyah radhiyallahu โ€˜anha :

ุนูŽู†ู’ ุนูŽุงุฆู…ุดูŽุฉูŽ ุฑ ู…ุถูŠูŽ ุงู‡ู„ู„ููŽู‘ ุนูŽู†ู’ ู‡ูŽุง ู‚ุงู„ุชู’: ู‚ู…ุฏู…ูŽ ุฑุณููˆู„ ุงู‡ู…ู„ู„ูŽู‘ ุตูŽู„ู‡ู‰ ุงู‡ู„ู„ููŽู‘ ุนูŽู„ูŠู’ู…ู‡ ูˆูŽุณูŽู„ู‡ู…ูŽ ู…ู…ู†ู’ ุณูŽููŽุฑูุŒ ูˆูŽู‚ุฏู’ ุณูŽุชูŽูŽุชู ุณูŽู‡ู’ูˆูŽู‹ุฉ ู…ู„ู ุจู…ู…ู‚ุฑุงู… ูู…ูŠู…ู‡ ุชูŽูŽุงุซู…ูŠู„ุŒ ููŽ ู„ู‡ู…ุง ุฑุขู‡ู ุฑุณููˆู„ ุงู‡ู…ู„ู„ูŽู‘ ุตูŽู„ู‡ู‰ ุงู‡ู„ู„ููŽู‘ ุนูŽู„ูŠู’ู…ู‡ ูˆูŽุณูŽู„ู‡ู…ูŽ ู‡ูŽุชูƒูŽู‡ูุŒ ูˆูŽุชูŽ ู„ู‡ูˆู†ูŽย  ูˆุฌู’ู‡ูู‡ู. ููŽ ู‚ูŽุงู„: ูŠูŽูŽ ุนูŽุงุฆู…ุดูŽุฉู: ุฃุดูŽุฏู‘ู ุงู„ู†ู‡ุง ู…ุณ ุนูŽุฐูŽุงุจู‹ู‹ ูŠ ูˆู’ู…ูŽุงู„ู…ู‚ูŠุงู…ูŽู…ุฉ ุงู„ู‡ู…ุฐูŠู†ูŽ ย ย ย ูŠุถูŽุงู‡ููˆู†ูŽ ู…ุจูู„ู’ู…ู‚ ุงู‡ู…ู„ู„ูŽู‘.ย  ู‚ุงู„ุชู’ ุนูŽุงุฆู…ุดูŽุฉู: ููŽ ู‚ูŽุทุนู’ู†ุงู‡ู ูุฌูŽุนูŽู„ู’ู†ุง ู…ู…ู†ู’ู‡ู ู…ูˆุณูŽุงุฏูŽุฉู‹ ุฃูˆู’ ู…ูˆุณูŽุงุฏูŽุช ู…ูŠู’ู’. ูˆูŽู…ูู ู…ุฑูˆูŽุงูŠุฉ ุฃู†ู‡ู‡ู ู‚ุงู„:ย  ุฅู…ู‡ู† ู…ู…ู†ู’ ุฃุดูŽ ู…ุฏ ุงู„ ู†ู‡ุง ู…ุณ ุนูŽุฐูŽุงุจู‹ู‹ ูŠ ูˆู’ู…ูŽ ุงู„ู…ู‚ูŠุงู…ูŽู…ุฉ ุงู„ู‡ู…ุฐูŠู†ูŽ ูŠุดูŽุจู… ู‡ููˆู†ูŽ ู…ุจูŽูู„ู’ู…ู‚ ุงู‡ู… ู„ู„ูŽู‘.

โ€œDari Aisyah Radhiyallahu โ€˜anha dia berkata: Rasulullahย  sallahu โ€˜alaihi wa sallam datang dari sebuah perjalanan, dan saya telah menutup bilikku dengan kain penutup (horden) yang bergambar. Ketika beliau melihatnya, kain tersebut tarimnya dan berubah raut wajah beliau. Kemudian beliau bersabda: โ€œWahai โ€˜Aisayah, orang yang paling berat adzabnya pada hari kiamat adalah adalah mereka yang memebuat penyerupaan (meniru) ciptaan Allah.โ€ Kemudian โ€˜Aisyah berkata: kemudia kain tersebut kami potong dan menjadikannya satu atau dua bantal. (HR. Bukhari dan Muslim)

5. Hadits Kelima

Hadis dari Ibn โ€˜Abbas radiyallahu โ€˜anhuma

ุนูŽ ู…ู† ุงุจ ู…ู† ุนูŽุจู‡ุงุณู ุฑูŽ ู…ุถูŠูŽ ุงู‡ู„ู„ููŽู‘ ุนูŽู†ู’ ู‡ูู…ูŽุง ุฃู†ู‡ู‡ู ุฌูŽุงุกู‡ู ุฑุฌูู„ูŒ ููŽ ู‚ูŽุงู„: ุฅู…ู… ู†ู‘ ุฑุฌูู„ูŒ ุฃุตูŽ ู…ูˆุฑู ู‡ูŽู…ุฐู…ู‡ ุงู„ุตู‘ููˆูŽุฑูŽ ูุฃูุชู…ู…ู†ู ูู…ูŠู‡ูŽุง. ููŽ ู‚ูŽุงู„: ุงุฏู’ู†ู ู…ู…ู… ู†ูุŒ ูุฏูŽู†ูŽูŽ ู…ู…ู†ู’ู‡ูุŒ ุซูู‡ ู‚ุงู„: ุงุฏู’ู†ู ู…ู…ู… ู†ูุŒ ูุฏูŽู†ูŽูŽ ู…ู…ู†ู’ู‡ูุŒ ุญูŽู‡ุชู‘ูŽ ูˆูŽุถูŽุนูŽ ูŠุฏูŽู‡ู ุนูŽู„ู‰ ุฑุฃู…ุณู…ู‡ุŒ ูˆูŽู‚ุงู„: ุฃู†ูŽ ุจู… ุฆูƒูŽ ู…ุจูุง ู…ุณูŽูŽุนู’ุชู ู…ู…ู†ู’ ุฑุณููˆู„ ุงู‡ู…ู„ู„ูŽู‘ุตูŽู„ู‡ู‰ ุงู‡ู„ู„ููŽู‘ ุนูŽู„ ูŠู’ู…ู‡ ูˆูŽุณูŽู„ู‡ู…ูŽ.ย  ู…ุณูŽูŽุนู’ุชู ุฑุณููˆู„ ุงู‡ู…ู„ู„ูŽู‘ ุตูŽู„ู‡ู‰ ุงู‡ู„ู„ููŽู‘ ุนูŽู„ูŽูŠู’ู…ู‡ ูˆูŽุณูŽู„ู‡ู…ูŽ ูŠ ู‚ููˆู„: ูƒูู„ ู…ูุตูŽ ู…ูˆุฑู ู…ูู ุงู„ู†ู‡ุงู…ุฑุŒ ูŠู’ููุนูŽู„ ู„ู‡ู ุจู…ูƒูู„ ุตููˆุฑุฉู ุตูŽู‡ูˆุฑู‡ูŽุง ู† ูู’ุณู‹ุงุŒ ููŽ ูŠู ุนูŽ ู…ุฐุจู‡ู ู…ูู ุฌูŽู‡ูŽู†ู‡ู…ูŽ ุซูู‡ ู‚ุงู„: ุฅู…ู†ู’ ูƒูู†ู’ุชูŽ ู„ุงูŽ ุจู‡ุฏ ูุงู…ุนู„ุงู‹ ูุงุตู’ู†ู…ุน ุงู„ ู‡ุดุฌูŽุฑูŽ ูˆูŽู…ูŽุง ู„ุงูŽย  ู† ูู’ุณูŽ ู„ู‡ู .

Dari Ibn โ€˜Abbas Radiyallahu โ€˜anhuma, bahwa ada seorang laki-laki datang kepada kepadanya dan berkata: saya adalah seorang yan membuat gambar ini, berikanlah saya fatwa tentang itu. Kemudian Ibn โ€˜Abbas berkata: mendekatlah kemari. Kemudian laki-laki itu mendekat. Ibn โ€˜Abbas kembali berkata: mendekatlah kemari. Kemudia laki-laki itu lebih mendekat lagi. Sampai askhirnya Ibn โ€˜Abbas meletakkan tangannya di atas kepala laki-laki tadi seraya berkata: saya akan berikan berita besar kepadamu dari yang saya dengar dari Rasulullah. Saya mendengar Rasulullah sallahu โ€˜alaihi wa sallam bersabda: setiap mushawwir (tukang gambar) masuk neraka. Kemudian setiap gambar yang dibuatknya diberi nyawa dan akan menyiksanya di neraka

Jahannam.โ€ Selanjutnya Ibn โ€˜Abbas berkata: Jika kamu harus menggambar, maka buatlah gambar pohon dan apa pun yang tidak bernyawa.ย 

6. Hadits Keenam

Hadis dari โ€˜Aisyah radhiyallahu โ€˜anha:

ูƒูู†ู’ุชู ุฃู„ุนูŽุจู ู…ุจู‹ู„ุจูŽ ู†ุง ู…ุช ู…ุนู†ู’ุฏูŽ ุงู„ู†ู‡ู…ู… ุจ ุตูŽู„ู‡ู‰ ุงู‡ู„ู„ููŽู‘ ุนูŽู„ูŠู’ู…ู‡ ูˆูŽุณูŽู„ู‡ู…ูŽูˆูƒูŽุงู†ูŽ ู…ู„ู ุตูŽูˆูŽุงู…ุญุจู ูŠ ู„ู’ุนูŽุจูŽู’ู’ ู…ูŽุนู…ูŠุŒ ููƒูŽุงู†ูŽ ย ุฑุณููˆู„ ุงู‡ู…ู„ู„ูŽู‘ ุตูŽู„ู‡ู‰ ุงู‡ู„ู„ููŽู‘ ุนูŽู„ูŠู’ู…ู‡ ูˆูŽุณูŽู„ู‡ู…ูŽ ุฅู…ุฐูŽุง ุฏูŽุฎูŽู„ ูŠูŽ ุชูŽ ู‚ูŽู‡ู…ุนู’ู†ูŽ ู…ู…ู†ู’ู‡ูุŒ ููŽ ูŠุณูŽ ู…ุฑูุจู ู‡ู† ุฅู… ู‡ู„ูŽูุŒ ููŽ ูŠูŽ ู„ู’ุนูŽุจูŽู’ู’ ู…ูŽุนู…ูŠ. )ุงู„ุจุฎุงุฑูŠ(

โ€œDulu sayaย  pernah bermain boneka-boneka di dekat Nabi sallahu โ€˜alaihi wa sallam. Saya punya beberapa teman yang biasa bermain denganku. Ketika Rasulullah masuk ke dalam rumah, mereka bersembunyi darinya. Lalu beliau menyerahkan boneka-boneka itu kepadaku, dan mereka pun bermain denganku.โ€ (HR. Bukhari)

Referensi: Fayyad Fawwaz, Tashwir : Seni Rupa Dalam Pandangan Islam, Jakarta Selatan: Rumah Fiqih Publishing, 2018