Keluarga Dan Sekolah Sebagai Pilar Pembudayaan Perilaku Anti Korupsi

Pengertian Korupsi

Kata korupsi berasal dari bahasa latin “corruptio” atau corruptus. Menurut para ahli bahasa, corruptio berasal dari kata corrumpere, suatu kata dari Bahasa Latin yang lebih tua. Kata tersebut kemudian menurunkan istilah corruption, korupsi diartikan sebagai kebusukan, keburukan, kebejadan, ketidakjujuran, dapat disuap, tidak bermoral, penyimpangan dari kesucianliteral berarti nation eating. Pengertian dari istilah gin muong menunjukkan adanya kerusakan yang luar biasa besar terhadap kehidupan suatu bangsa akibat dari adanya perilaku praktik korupsi.

Korupsi merupakan kejahatan yang mendapat perhatian masyarakat luas. Sejak era reformasi, korupsi menjadi kejahatan yang secara terus menerus mendapatkan perhatian untuk mendapatkan penanganan secara serius. Keseriusan untuk memberantas korupsi karena korupsi merupakan kejahatan yang mengurangi hak-hak warga negara dan menimbulkan kesengsaraan dikalangan masyarakat. Berbagai studi menunjukkan bahwa korupsi telah merusak sendi-sendi kehidupan masyarakat serta mengamputasi hak-hak masyarakat untuk mendapatkan kesejahteraan

Pendidikan Moral Sebagai Langkah Awal

Pendidikan sejatinya merupakan faktor pertama untuk mencerdaskan kehidupan bangsa, juga mempunyai integritas moral yang tinggi. Oleh karena itu, maju mundurnya suatu bangsa sangat ditentukan oleh maju mundurnya pendidikan. Ki Hajar Dewantara menyatakan bahwa pendidikan umumnya berarti daya upaya untuk memajukan budi pekerti (kekuatan batin), pikiran (intellect) dan jasmani anak-anak, selaras dengan alam dan masyarakatnya. Sedangkan di dalam Undang-undang Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional pasal 3 ditegaskan bahwa, pendidikan nasional berfungsi mengembangkan kemampuan dan membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermartabat.

Agar anak terlibat dalam proses pembudayaan nilai moral diperlukan adanya proses pembelajaran yang memfasilitasi pengalaman mereka untuk mengetahui nilai moral, mempraktekkan nilai moral, dan terbiasa berbuat sesuai dengan aturan moral yang berlaku. Dalam kaitan ini UNESCO (United Nations for Education Scientific and Cultural Organization) mengusulkan empat pilar belajar, yaitu: “learning to know, learningto do, learning to be, and learning to live together.”. Penerapan empat pilar tersebut dalam proses pembelajaran memungkinkan anak menguasai cara memperoleh pengetahuan, berkesempatan menerapkan pengetahuan yang dipelajarinya, dan berkesempatan untuk berinteraksi secara aktif dengan sesama anak sehingga dapat menemukan dirinya. Model pembelajaran seperti ini hanya dapat berlangsung dengan tenaga guru yang penuh konsentrasi, peralatan yang memadai, materi yang terpilih, dan waktu yang cukup tanpa harus mengejar target ujian nasional.

Ada kesan kuat bahwa baik guru, orang tua, maupun murid selalu didorong untuk mengejar dan menghimpun informasi keilmuan sebanyak mungkin namun melupakan aspek pendidikan yang fundamental, yaitu bagaimana menjalani hidup dengan terhormat. Ketika pendidikan tidak lagi menempatkan prinsip-prinsip moralitas agung sebagai basisnya, maka akan menghasilkan orang yang selalu mengejar materi dan pemenuhan tuntutan physical happiness yang durasinya hanya sesaat dan potensial membunuh nalar yang sehat dan nurani terdalam. Pendidikan yang sehat adalah yang secara sadar membantu anak  bisa merasakan, menghayati dan menghargai jenjang makna hidup dari yang bersifat fisikal sampai yang estetikal, moral dan spiritual. Selama ini dalam teori pendidikan terdapat tiga domain dalam taksonomi tujuan pendidikan: