Inflasi merupakan kenaikan harga jasa maupun barang secara umum dalam periode waktu tertentu. Hal ini memang umum terjadi di berbagai negara. Bagaimanapun juga, berbagai aspek kehidupan akan terpengaruh olehnya, seperti Obligasi Pemerintah.
Pengaruh inflasi terhadap instrumen investasi tersebut tentu harus Anda pahami sebagai investor. Dengan demikian, Anda bisa menerapkan strategi cerdas saat menghadapinya. Simak ulasan di bawah ini untuk mengetahuinya.
Inflasi Mengurangi Imbal Hasil Riil Obligasi Pemerintah
Pada obligasi, imbal hasil bisa dibedakan menjadi dua, yakni nominal dan riil. Imbal hasil nominal adalah banyaknya keuntungan yang diterima secara nominal. Bagaimanapun juga, imbal hasil yang sebenarnya Anda peroleh adalah riil. Berikut penjelasannya:
Konsep Imbal Hasil Riil
Imbal hasil riil merupakan keuntungan yang sebenarnya diperoleh setelah disesuaikan dengan inflasi. Inilah yang menunjukkan seberapa banyak daya beli Anda dari keuntungan tersebut.
Inflasi mampu mengikis nilai uang. Tanpa mempertimbangkannya, Anda bisa merasa bahwa keuntungan bertambah secara angka. Padahal, daya belinya bisa jadi menurun akibat kenaikan harga secara umum. Itulah mengapa imbal hasil riil perlu diketahui.
Rumus Imbal Hasil Riil
Ada dua rumus yang biasa digunakan yang semuanya dihitung dalam persen, yaitu:
- Rumus sederhana: Imbal Hasil Riil = Imbal Hasil Nominal – Tingkat Inflasi
- Rumus akurat: Imbal Hasil Riil = (1 + Imbal Hasil Nominal) / (1 + Tingkat Inflasi) – 1
Inflasi terhadap Harga Obligasi Pemerintah
Inflasi tidak hanya mempengaruhi imbal hasil riil, namun juga harga obligasi itu sendiri di pasar. Inilah penjelasannya:
Harga Turun
Saat terjadi inflasi, harga obligasi cenderung turun. Hal ini disebabkan bank sentral biasanya akan menaikkan suku bunga acuan. Dengan demikian, harga barang maupun jasa tetap terkendali dan ekonomi pun tetap berjalan sebagaimana mestinya.
Suku bunga memiliki hubungan terbalik dengan harga obligasi. Semakin tinggi suku bunga, maka obligasi baru dengan kupon lebih tinggi akan muncul. Akibatnya, obligasi lama yang sudah beredar menjadi kurang menarik dan harganya turun.
Keadaan di Pasar Sekunder
Obligasi lama tetap bisa dijual di pasar sekunder sebagai salah satu strategi investasi. Namun supaya laku, Anda perlu menurunkan harganya. Hal ini dapat memikat ketertarikan pembeli karena keuntungannya akan setara dengan bunga yang berlaku.
Inflasi terhadap Kupon dan Yield Obligasi Pemerintah
Nilai kupon dan yield obligasi bisa dipengaruhi oleh inflasi. Penjelasan di bawah ini bisa diperhatikan untuk memahaminya:
Hubungan dengan Kupon
Terdapat dua jenis kupon pada obligasi. Jenis pertama adalah fixed rate atau tetap. Sesuai namanya, nilai kupon ini tidak berubah sampai jatuh tempo meskipun inflasi sedang terjadi. Jadi, nilai riilnya bisa menurun.
Namun, hal ini berbeda pada obligasi dengan kupon floating with floor. Nilai kupon akan ikut naik seiring dengan inflasi tanpa batas atas. Itulah mengapa keuntungan Anda juga bisa ikut naik meskipun harga barang dan jasa sedang melambung.
Hubungan dengan Yield
Yield atau imbal hasil bergerak berlawanan dengan harga obligasi. Saat inflasi naik dan investor menjual obligasi untuk mengantisipasinya sehingga harganya turun, yield akan naik untuk menyesuaikan hal tersebut beserta suku bunga yang baru.

Dampak Inflasi bagi Investor Obligasi Pemerintah
Ketika inflasi terjadi, ada dua jenis aksi yang biasa dilakukan oleh investor, yakni menahan dan memperdagangkan. Keduanya memiliki efek tersendiri. Selain itu, ada juga risiko yang sering diabaikan seperti penjelasan berikut:
Investor yang Menahan hingga Tenor
Sebagian investor tetap menahan asetnya meskipun terjadi inflasi. Jadi, mereka akan tetap mendapatkan pokok modal saat jatuh tempo. Secara nominal, mereka memang tidak mengalami kerugian karena modal akan kembali secara utuh.
Bagaimanapun juga, inflasi membuat daya beli angka tersebut menurun. Hal ini membuat nilai pokok modal yang diperoleh menjadi lebih rendah jika dibandingkan dengan waktu mereka memulai investasi.
Investor yang Memperdagangkan
Investor lain kerap memilih untuk memperdagangkan asetnya di pasar sekunder demi menyelamatkan nilai modalnya. Namun, mereka tetap berpeluang mengalami kerugian modal bila terpaksa menjualnya saat harga jatuh akibat inflasi.
Di sisi lain, perlu diketahui bahwa tidak semua obligasi bisa diperdagangkan di pasar sekunder. Jadi, investor yang tidak bisa melakukannya tetap harus menahan aset hingga jatuh tempo.
Risiko yang Sering Diabaikan
Investor sering kesulitan memutar keuntungan ke aset yang imbal hasilnya bisa mengalahkan inflasi secara konsisten. Sekalipun bisa melakukannya, risiko yang lebih besar akan menghantui. Hal ini membuat investor harus mengambil langkah cerdas.
Mengantisipasi Inflasi bersama Perbankan Prioritas DBS Treasures
Inflasi menjadi salah satu faktor yang patut Anda waspadai saat berinvestasi obligasi. Namun, risikonya bisa diminimalkan bila Anda memilih mitra yang tepat, seperti perbankan prioritas DBS Treasures.
Bersama perbankan prioritas DBS Treasures, Anda bisa bertransaksi 24/7 melalui aplikasi DBS digibank untuk memudahkan strategi dalam mengantisipasi inflasi. Ini meliputi membeli, menjual, switching, bahkan registrasi SID atau Single Investor Identification.
Selain itu, kupon reguler dengan tingkat yang kompetitif juga dapat diperoleh. Menariknya, Anda berpeluang memperoleh potensi capital gain bagi beberapa jenis obligasi tertentu. Biaya tambahan pun tidak ada, hanya spread antara harga jual dan beli.
Kesempatan untuk didukung analisis pasar terkurasi dari tim ahli finansial yang akan mengomunikasikannva. Dapatkan peluang terkini yang sudah disesuaikan dengan profil risiko dan kebutuhan portfolio Anda, dimotori Artificial Intelligence/Machine Learning (AI-ML). Insight tersebut dilengkapi solusi terkurasi terkait investasi (Grow) dan asuransi (Protect), sehingga Anda dapat cepat dan yakin berinvestasi melalui media sesuai preferensi.
Memilih perbankan prioritas DBS Treasures sebagai mitra merupakan salah satu langkah cerdas dalam mengantisipasi inflasi saat berinvestasi obligasi pemerintah. Dengan demikian, segala strategi Anda dapat dilakukan secara tepat sasaran dan sesuai tujuan keuangan.