Keruntuhan Dinasti Umayyah

Dinasti Umayyah berjaya kurang lebih 90 tahun (661-750 M), namun pada akhirnya mengalami masa-masa kemunduran, ditandai dengan melemahnya sistem politik dan pemerintahan, di samping munculnya berbagai tekanan dari luar berupa pemberontakan.

Kekhalifahan Bani Umayyah sangat lemah dan tidak bisa mengendalikan pemerintahan dan keamanan, terutama setelah pemerintahan Hisyam bin Abdul Malik. Di kalangan keluarga khalifah sering terjadi pertikaian, misalnya yang dilatarbelakangi oleh perebutan kekuasaan untuk menduduki jabatan khalifah.

Khalifah Hisyam diteruskan oleh al-Walid II, Yazid III, Ibrahim, dan Marwan bin Muhammad, namun keempatnya hanya mampu memerintah sekitar tujuh tahun. Al-Walid memerintah selama satu tahun 3 bulan, kemudian digantikan oleh Yazid III yang hanya bertahan selama enam belas bulan. Selanjutnya digantikan oleh Ibrahim bin al-Walid bin Abdul Malik, tetapi bertahta tidak lebih dari tiga bulan dan digantikan oleh Marwan. Selama masa kepemimpinannya, Marwan disibukkan mengatasi berbagai pemberontakan, sampai akhirnya ia tewas di medan perang.

Diantara beberapa peristiwa yang mendorong kemunduran Bani Umayyah dapat diidentifikasi sebagai berikut:

  • Figur pewaris kekhalifahan yang Sepeninggal Hisyam, tidak ada lagi khalifah yang kuat, mampu memperkuat pemerintahan, serta menjaga keutuhan dan kewibawaan negara.
  • Tidak adanya ketentuan tata cara pengangkatan Akibatnya, terjadi perebutan kekuasaan di kalangan anggota keluarga Umayyah.
  • Pemindahan ibu kota dari Madinah ke Damaskus yang merupakan bekas ibu kota Kerajaan Byzantium. Gaya hidup mewah bangsawan Byzantium dianggap telah mempengaruhi dan ditiru oleh Dinasti
  • Para ulama merasa kecewa terhadap para Mereka dipandang tidak memiliki integritas keagamaan dan politik yang sesuai dengan syariat Islam.
  • Pertentangan yang sudah lama terjadi antara suku Arab Utara (disebut Arab Quraisy atau Mudariyah yang menempati Irak) dengan Arab Selatan (disebut Yamani atau Himyariyah yang mendiami wilayah Suriah) mencapai puncaknya. Hal tersebut karena para khalifah berpihak kepada suku Arab
  • Ketidakpuasan sejumlah pemeluk Islam non-Arab, yakni pendatang baru dari bangsa-bangsa yang dikalahkan (disebut “Mawali”). Mereka bersama-sama bangsa Arab mengalami beratnya peperangan, tetapi diperlakukan sebagai masyarakat kelas Golongan non-Arab, terutama di Irak dan wilayah bagian timur lainnya, merasa tidak puas karena status Mawali menggambarkan inferioritas. Ditambah lagi dengan keangkuhan bangsa Arab yang diperlihatkan pada masa Bani Umayyah.
  • Latar belakang terbentuknya Daulah Umayyah tidak bisa dipisahkan dari konflik politik yang terjadi di masa Khulafaur Rasyidin terakhir, yaitu Khalifah Ali bin Abi Ṭalib. Sisa-sisa kaum Syi`ah (pengikut Ali) dan Khawarij terus menjadi gerakan Penumpasan terhadap gerakan tersebut banyak menyedot kekuatan pemerintah.
  • Penyebab langsung tergulingnya Daulah Umayyah adalah munculnya kekuatan baru yang dipelopori oleh keturunan Abbas bin Abdul Muṭalib. Gerakan ini mendapat dukungan penuh dari Bani Hasyim, golongan Syi`ah, dan kaum Mawali yang merasa dikelasduakan oleh pemerintahan Bani Umayyah.

Keruntuhan Dinasti Umayyah benar-benar terjadi pada tahun 748 M. Pasukan Abbas bin Abdul Muṭalib yang didukung oleh pasukan Abu Muslim al-Khurasani menang dalam pertempuran Zab Hulu melawan pasukan Khalifah Marwan. Kekalahan ini menjadi akhir dari kekuasaan Dinasti Umayyah, sekaligus menjadi awal berdirinya Dinasti Abbasiyah mulai tahun 750 M hingga 1258 M.