Kualifikasi Qira’at Standart

Suatu hal yang paling penting dalam ilmu qira’at adalah memastikan apakah qira’at tersebut benar-benar berasal dari Nabi SAW., oleh karena itu usaha yang dilakukan para ulama qira’at untuk mengetahuinya adalah dengan menetapkan  pedoman  atau  persyaratan  tertentu  kepada  tiap-tiap  qira’at. Syarat-syarat yang dimaksud adalah:

  1. Sesuai dengan salah satu rasm (tulisan) mushaf  ‘Uthmani. Hal tersebut karena diyakini, dalam penulisan mushaf-mushaf itu para sahabat bersungguh-sungguh  dalam  membuat  rasm  (pola  penulisan  mushaf) sesuai dengan bermacam-macam dialek qira ‘at yang mereka ketahui. Misalnya disemua mushaf ditulis ملك يوم الدين tanpa alif pada lafal maliki yang cocok dengan rasm utsmani pada penulisan ayat ملك الناس dan menggunakan alif pada lafal maaliki pun sesuai dengan rasm utsmani pada ayat مالك الملك
  2. Sesuai  dengan  kaidah  bahasa  Arab,  sekalipun  dalam  satu  segi.  Oleh karena qira’at adalah sunnah yang harus diikuti, diterima apa adanya dan menjadi rujukan dengan berdasarkan isnad, bukan ra’yu (pemikiran). Yang dimaksud meskipun hanya dalam satu segi adalah satu segi dari ilmu nahwu, baik disepakati maupun diperselisihkan. Jika suatu qira’at telah tersebar luas, populer dan diterima para imam berdasarkan isnad yang sahih, maka sedikit berlawanan dengan kaidah nahwu tidak mengurangi ke-sahihan sesuatu qira’at, karena isnad inilah yang menjadi dasar terpenting dan sendi paling utama.
  3. Diriwayatkan secara mutawatir. Maksudnya adalah periwayatan oleh orang banyak dari orang yang banyak pula, sehingga menutup kemungkinan   mereka   dapat   melakukan   suatu kebohongan  secara  bersama-sama, sejak  dari  sanad  pertama  sampai kepada sanad yang terakhir.