Makna Akhlak Tasawuf

Ada dua pendekatan yang dapat digunakan untuk mendefinisikan akhlak, yaitu pendekatan etimoligi (kebahasaan), dan pendekatan terminologi (peristilahan). Dari sudut pandang etimologi (kebahasaan), akhlak berasal dari bahasa Arab, yaitu isim mashdar (bentuk infinitif) dari kata akhlaqayukhliquikhlaqan, sesuai dengan timbangan (wazan) tsulasi majid af’ala, yuf’ilu if’alan yang berarti al-sajiyah (perangai), ath-thabi’ah (kelakuan, tabi’at, watak dasar), al-‘adat (kebiasaan, kelaziman), al-maruah (peradaban yang baik), dan al-din (agama).

Namun akar kata akhlak dari akhlaqa sebagaimana tersebut di atas tampaknya kurang pas, sebab isim mashdar dari kata akhlaqa bukan akhlaq tetapi ikhlaq. Berkenaan dengan ini maka timbul pendapat yang mengatakan bahwa secara Linguistik kata akhlaq merupakan isim jamid atau isim ghair mustaq, yaitu isim yang tidak memiliki akar kata, melainkan kata tersebut memang sudah demikian adanya. Kata akhlaq adalah jamak dari kata khilqun atau khuluqun yang artinya sama dengan arti akhlaq. Baik kata akhlaq atau khuluq kedua-duanya dijumpai pemakaiannya baik dalam al-Qur’an, maupun al-Hadis. Seperti yang terdapat dalam QS. al-Qalam ayat 4.

Adapun akhlak secara terminologi adalah:

“Sifat yang tertanam dalam jiwa yang mendorongnya untuk melakukan perbuatan tanpa memerlukan pemikiran dan pertimbangan”.

Dengan demikian, ada lima ciri yang terdapat dalam perbuatan akhlak, yaitu: Pertama, perbuatan akhlak adalah perbuatan yang telah tertanam kuat dalam jiwa seseorang, sehingga telah menjadi kepribadiannya. Kedua, perbuatan akhlak adalah perbuatan yang dilakukan dengan mudah dan tanpa pemikiran. Ketiga, bahwa perbuatan akhlak adalah perbuatan yang timbul dari dalam diri orang yang mengerjakannya, tanpa ada paksaan atau tekanan dari luar. Perbuatan akhlak adalah perbuatan yang dilakukan atas dasar kemauan, pilihan dan keputusan yang bersangkutan. Keempat, bahwa perbuatan akhlak adalah perbuatan yang dilakukan dengan sesungguhnya, bukan main-main atau karena bersandiwara. Kelima, sejalan dengan ciri yang keempat, perbuatan akhlak (khususnya akhlak yang baik) adalah perbuatan yang dilakukan karena ikhlas semata-mata karena Allah, bukan karena ingin dipuji orang atau karena ingin mendapatkan sesuatu pujian.

Jika definisi tentang Ilmu Akhlak tersebut kita perhatikan dengan seksama, akan tampak bahwa ruang lingkup pembahasan Ilmu Akhlak adalah membahas tentang perbuatan-perbuatan manusia, kemudian menetapkannya apakah perbuatan tersebut tergolong perbuatan yang baik atau perbuatan yang buruk. Ilmu akhlak dapat pula disebut sebagai ilmu yang berisi pembahasan dalam upaya mengenal tingkah laku manusia, kemudian memberikan nilai atau hukum kepada perbuatan tersebut, yaitu apakah perbuatan tersebut tergolong baik atau buruk.

Selanjutnya berkenaan dengan manfaat mempelajari Ilmu Akhlak, Ahmad Amin mengatakan sebagai berikut: Tujuan mempelajari Ilmu Akhlak dan permasalahannya menyebabkan kita dapat menetapkan sebagian perbuatan lainnya sebagai yang baik dan sebagian perbuatan lainnya sebagai yang buruk. Misalnya bersikap adil termasuk baik, sedangkan berbuat zalim termasuk perbuatan buruk, membayar utang kepada pemiliknya termasuk perbuatan baik, sedangkan mengingkari utang termasuk perbuatan buruk.

Adapun pengertian tasawuf secara etimologi berasal dari bahasa Arab tashawwuf, mengikuti wazan tafa’ala yakni isim mashdar dari kata kerja tashawwafa yatashawwafu tasawwufan. Mengenai asal-usul dan akar kata tashawwuf sendiri terdapat perbedaan pendapat, antara lain berasal dari kata shafaun, artinya bersih atau jernih; shaffun, artinya barisan terdepan dalam ibadah shalat; shuffah, artinya serambi masjid, yaitu sekelompok sahabat Nabi Saw yang hidup sederhana dan tinggal di serambi masjid Nabawi yang disebut al-shuffah; selanjutnya dari kata shaufanah, yaitu nama pohon yang kurus dan hidup di padang pasir, atau pohon yang buahnya berbulu; Sophos, bahasa Yunani, artinya hikmah; dan terakhir shuf, artinya bulu domba.

Asal-usul kata tasawuf di atas, jika dilihat dari pengertiannya, maka semuanya ada korelasi dan relevansi dengan prilaku kehidupan seseorang yang mengamalkan ajaran tasawuf (sufi). Tetapi, jika ditinjau dari aspek kebahasaan, kata shuf yaitu kata yang terakhir dari asal-usul kata tasawuf di atas adalah kata yang lebih dekat dan tepat dengan kata shufi sebagai istilah bagi seseorang yang mengamalkan ajaran tasawuf. Sehingga ketika ada ungkapan Ar-Rajulu tashawwuf dapat diartikan dengan “Seorang laki-laki telah mengenakan pakaian wol kasar yang terbuat dari bulu domba” atau “Seorang laki-laki telah berpindah dari kehidupan biasa kepada kehidupan seorang sufi”.

Adapun tasawuf menurut terminologi adalah

“mengambil akan hakikat dan tidak mengaharapkan apa yang ada di tangan manusia”.

Dari menurut devinisi etimologis dan terminologis di atas, Inti tasawuf ialah adanya komunikasi seorang sufi dengan Allah Swt. sedekat-dekatnya setelah ia membersihkan jiwanya dari segala sesuatu yang mengotorinya dengan jalan melakukan akhlak yang terpuji dan meninggalkan akhlak tercela melalui tahapan-tahapan maqamat (at-taubah, al-zuhdu, al-shabru, al-faqr, al-tawadhu, al-taqwa, al-ridla, al-mahabbah, al-marifah) sehingga tercapailah hakikat.

Secara garis besar tasawuf terbagi menjadi tiga yaitu tasawuf falsafi, tasawuf akhlaki, tasawuf amali. Ketiga macam tasawuf ini berbeda dalam hal pendekatan yang digunakan. Pada tasawuf falsafi pendekatan yang digunakan adalah pendekatan rasio atau akal pikiran, karena dalam tasawuf ini menggunakan bahan-bahan kajian atau pemikiran yang terdapat di kalangan para filosof, seperti filsafat tentang Tuhan, manusia, hubungan manusia dengan Tuhan dan lain sebagainya. Selanjutnya pada tasawuf akhlaki pendekatan yang digunakan adalah pendekatan akhlak yang tahapannya terdiri dari takhalli (mengosongkan diri dari akhlak yang buruk), tahalli (menghiasinya dengan akhlak yang terpuji), dan tajalli (terbukanya dinding penghalang (hijab) yang membatasi manusia dengan Tuhan), sehingga Nur Ilahi tampak jelas padanya. Sedangkan pada tasawuf amali pendekatan yang digunakan adalah pendekatan amaliayah atau wirid, yang selanjutnya mengambil bentuk tarikat. Dengan mengamalkan tasawuf baik yang bersifat falsafi, akhlaki atau amali, seseorang dengan sendirinya berakhlak baik. Perbuatan yang demikian itu ia lakukan dengan sengaja, sadar, pilihan sendiri, dan bukan karena terpaksa.