Metodologi pembelajaran dalam Al Qur’an

Al Qur’an sebagai sumber utama ajaran Islam, yang wajib dipahami oleh setiap muslim, menampilkan metode dan cara yang sangat menarik sehingga memudahkan bagi mereka yang tertarik untuk mempelajarinya. Adapun beberapa metode yang dapat dijadikan contoh dari Al Qur’an antara lain :

Metode Kisah (cerita)

Isi Al Qur’an banyak memuat kisah-kisah tentang orang-orang terdahulu. Rasulullah dapat mengetahui kisah-kisah nabi dan umat sebelumnya melalui cerita yang diinformasikan oleh Al Qur’an.

Demikianlah kami kisahkan kepadamu (Muhammad) sebagian kisah umat yang Telah lalu, dan Sesungguhnya Telah kami berikan kepadamu dari sisi kami suatu peringatan (Al Quran) (Q.S.Thahaa:99)

Contoh-contoh kisah atau cerita dalam Al Qur’an :

– Kisah Nabi Yusuf :

  • Q.S. Yusuf: 6-7 = mimpi Yusuf sebagai nabi,
  • Q.S. Yusuf: 8-10 = saudara-saudaranya,
  • Q.S. Yusuf: 21-23 = Yusuf di Mesir,
  • Q.S. Yusuf: 34-35 = Yusuf dipenjara,
  • Q.S. Yusuf: 54-57 = Yusuf dipercaya Raja,
  • Q.S. Yusuf: 58-93 = Yusuf bertemu saudaranya,
  • Q.S. Yusuf: 94-101 = Yusuf bertemu oragtuanya.

– Kisah Nabi Musa :

  • Q.S. Al Qashas: 7-13 = Musa dilahirkan,
  • Q.S. Al Qashas: 14-19 = masa dewasa,
  • Q.S. Al Qashas: 20-22 = meninggalkan Mesir,
  • Q.S. Al Qashas: 23-28 = pertemuan dengan 2 anakperempuan,
  • Q.S. Al Qashas: 29-32 = mendapat wahyu,
  • Q.S. Al Qashas: 33-37 = Harun sebagai pembantunya,
  • Q.S. Al Qashas: 38-42 = keganasan fir’aun,
  • Q.S. Al Qashas: 43 = mendapat kitab Taurat

– Kisah Ashabul Kahfi :

  • Q.S. Al Kahfi: 10-11 = kisah Ashabul Kahfi,
  • Q.S. Al Kahfi: 14-16 = mengapa mereka masuk gua,
  • Q.S. Al Kahfi: 17-18 = keadaan di dalam gua,
  • Q.S. Al Kahfi: 19-20 = bangun dari tidur,
  • Q.S. Al Kahfi: 21 = sikap penduduk kota,
  • Q.S. Al Kahfi: 22 = perselisihan tentang jumlah mereka.
  • Q.S. Al Kahfi: 25 = lamanya mereka tertidur.[3]

Masih banyak lagi kisah-kisah dalam Al Qur’an. Kisah atau cerita dapat dijadikan salah satu metode dalam pendidikan dengan alasan :

  • Kisah selau memikat karena mengundang pembaca atau pendengar untuk mengikuti peristiwanya, merenungkan maknanya. Selanjutnya, makna-makna itu akan menimbulkan kesan dalam hati pembaca atau pendengar tersebut.
  • Kisah Qur`ani dan dapat menyentuh hati manusia karena kisah itu menampilkan tokoh, sehingga pembaca atau pendengar dapat ikut menghayati atau mersakan isi kisah itu, seolah-olah ia sendiri yang menjadi tokohnya.[4]

Metode Amtsal (perumpamaan)

Amtsal adalah bentuk jamak dari kata matsal dan mitsil “matsal” mengandung arti cerita-cerita perumpamaan (untuk pendidikan budi pekerti). Sedangkan menurut Istilah adalah penyerupaan suatu keadaaan dengan keadaan yang lain, demi tujuan yang sama, yaitu pengisah menyerupakan sesuatu dengan aslinya.[5] Dalam kamus bahasa Indonesia amsal adalah umpama atau perumpamaan.

Contoh-contoh perumpamaan dalam Al Qur’an :

Perumpamaan mereka adalah seperti orang yangmenyalakan api[*], Maka setelah api itu menerangi sekelilingnya Allah hilangkan cahaya (yang menyinari) mereka, dan membiarkan mereka dalam kegelapan, tidak dapat Melihat. (Q.S.Al Baqarah:17)

[*]  orang-orang munafik itu tidak dapat mengambil manfaat dari petunjuk-petunjuk yang datang dari Allah, Karena sifat-sifat kemunafikkan yang bersemi dalam dada mereka. keadaan mereka digambarkan Allah seperti dalam ayat tersebut di atas.

Perumpamaan orang-orang yang mengambil pelindung-pelindung selain Allah adalah seperti laba-laba yang membuat rumah. dan Sesungguhnya rumah yang paling lemah adalah rumah laba-laba kalau mereka Mengetahui.(Q.S.Al Ankabut:41)

Perumpamaan dapat dijadikan salah satu metode dalam pendidikan dengan alasan :