Pengertian Tuhan Menurut Pandangan Para Filosof

Pembahasan tentang eksistensi Tuhan secara filosofis sebenarnya menuntut pembuktian yang berdasarkan nalar. Inilah yang menjadi perdebatan kaum filsuf, kaum teolog dan kaum sufi. Menurut Amin Abdullah, perdebatan antar ketiganya dalam tradisi keilmuan Islam begitu sengit sehingga tak jarang terjadi saling mengkafirkan, memurtadkan dan mensekularkan. Beberapa argumen yang dikemukakan oleh para filsuf dengan argumaen burhani-nya, berkaitan dengan eksistensi Tuhan adalah sebagai berikut :

  1. Al-Kindi seorang filsuf Arab (w.sekitar 866 M) dengan argumen kebaruan (dalil al-huduts) nya. Ia mengatakan bahwa alam semesta ini betapapun luasnya adalah terbatas. Karena terbatas, alam tidak mmungkin memiliki awal yang tidak terbatas. Oleh karena itu, alamyang terbatas ini tidak mungkin bersifat azali ( tidak mempunya awal). Ia mesti memiliki titik awal dalam waktu, dan materi yang melekat padanya juga terbatas oleh gerak dan waktu.jika materi,gerak dan waktu dari alam ini terbatas, berarti alam semesta ini baru (hudust). Segala sesuatu yang baru bagi Al-Kindi pasti dicipta (muhdats ). Kalau alam dicipta maka memunculkan adaya pencipta. Itulah Tuhan sebagai sebab pertama. Dalam kajian filsafat argumen kebaruan Al-Kind disebut dengan argumen kosmologi,yang menggunakan hukum “sebab-akibat”.
  2. Ibnu Sina (w. 1037 M) melalui argumen kemungkinan ( dalil al-jawaz) atau kontingesi. Ia membagi wujud dalam tiga kategori ; Wujud Niscaya (wajib al-wujud) adalah wujud yang senantiasa harus ada dan tidak boleh tidak ada, wujud mungkin (mumkin al-wujud) adalah wujud yang boleh saja ada atau tiada, dan wujud mustahil (mumtani al-wujud) adalah wujud yang keberadaannya tidak terbayangkan oleh akal. Alam ini adalah wujud yang boleh ada dan boleh tidak ada. Karena alam merupakan wujud yang boleh ada, alam bukan wujud niscaya, namun karena alam juga boleh tidak ada maka dapat dikatakan wujud mustahi. Akan tetapi nyatanya bumi ini ada maka dipastikan sebagai wujud yang mungkin. Terma “mungkin” adalah potensial,kebalikan dari aktual. Dengan mengatakan bahwa alam ini mungkin pada dirinya,berarti sifat dasar alam adalah potensial,boleh ada dan tidak bisa mengada dengan sendirinya. Karena alam ini potensial, ia tidak mungkin ada (mewujud) tanpa adanya sesuatu yang telah aktual, yang telah mengubahnya dari potensial menjadi aktualitas. Itulah tuhan yang wujud niscaya. Argumen kemungkinan ini sering disebut dalil ontologi karena pendekatannya menggunakan filsafat wujud.
  3.  Ibnu Rusyd (w. 1198 M) dengan argumen rancangan (dalil al-inayah)nya. Dengan pemikiran rasional-religiusnya berpendapat bahwa perlengkapan (fasilitas) yang ada di alam ini diciptakan untuk kepentingan manusia. Hal ini merupakan bukti adanya Tuhan Yang Maha Pengasih lagi Penyayang. Melalui  “rahmat” yang ada di alam ini, membuktikan bahwa Tuhan ada. Selain itu penciptaan alam yang menakjubkan, seperti adanya khidupan organik, persepsi indrawi,dan pengenalan intelektual merupkan bukti lain adanya Tuhan melalui konsep penciptaan keserasian. Penciptaan ini secara rasional bukanlah suatu kebetulan, melainkan haruslah dirancang oleh agen yang dengan sengaja dan kebetulan dan bijaksana melakukannya dengan tujuan tertentu. Oleh karena berdasarkan pandangan adanya keserasian Tuhan, konsep Tuhan menurut Ibnu Rusyd ini sering disebut pandangan teleology.[20]
  4. Menurut Aristoteles Menurut Aristoteles, Tuhan adalah zat yang memberi arti kepada alam, akan tetapi dapat kita hubungi, artinya bukan Tuhan yang dapat kita sembah dan kita mintai. “ Tuhan”-nya Aristoteles merupakan “it” dan bukan “ he”. Hipotesa yang dikemukakan oleh Theisme. Theisme berarti bahwa Tuhan itu ada, dan merupakan suatu realitas yang bersifat transcendent dan mempunyai suatu maksud atau tujuan yang bersifat immanent. Theisme adalah kepercayaan bahwa Tuhan adalah zat yang menciptakan alam dunia. Kepercayaan ini bersifat realis oleh karena di dalamnya Tuhan merupakan sesuatu zat yang tersendiri dan tidak bersandar kepada pengetahuan kita terhadapnya.
  5. Menurut Al-Jurjani Dalam kitab al-Ta’rif mendefinisikan kata Allah sebagai nama yang menunjuk kepada Tuhan yang sebenarnya (al-Illah al-Haqq), yang merupakan kumpulan makna bagi seluruh nama-nama-Nya yang baik (al-asma al-husna).

Referensi: