Shalat Dzuhur setelah Shalat Jumat

Mayoritas ulama’ ahli fiqh dari kalangan madzhab Syafi’i, Hanafi, Maliki, dan Hambali, bersepakat atas dibolehkannya (jawaz) shalat dzuhur setelah shalat jum’at. Dengan beberapa sebab di bawah ini:

Ketika banyak didirikan shalat jum’at dalam satu tempat (kampung).

Ketika jama’ah jum’at tidak ada yang memenuhi syarat-syarat jum’at.

Ketika seorang ma’mum masbuk tidak menemui rekaatnya imam secara utuh.

Akan tetapi mayoritas ulama’ fiqh tersebut di atas berbeda pendapat mengenai hukum shalat dzuhur setelah shalat jum’at tersebut.

Imam Syafi’i berpendapat

Ketika terdapat suatu wilayah yang luas dan banyak penduduknya, lalu didirikan banyak masjid, maka shalat jum’ah harus dilakukan di masjid jami’.[1]

Imam ibnu abidin berpendapat.

Bahwa tidak    diperbolehkannya       shalat jum’ah dibanyak tempat dalam satu wilayah adalah pendapat yang masyhur dari kalangan madzhab

maliki. [2]

[1] . Kitab al-um li syafi’i. Juz.1,Hal.171.

[2] . Hasiyah ibnu abidin, juz.1,hal.542.

Sumber: Amaliah NU dan Dalilnya