Sistem Ekonomi pada Masa Khalifah Umar bin Khattab r.a.

Sekilas tentang Khalifah Umar ibn Khattab r.a.

Nama beliau adalah Umar bin Khattab, putera dari Nufail al-Quraisy, dari suku Bani Aidi. Di masa jahiliyyah, Umar bekerja sebagai seorang saudagar. Dia menjadi duta kaumnya di kala timbul peristiwa-peristiwa penting antara kaumnya dengan suku Arab yang lain.[3]Umar masuk Islam tatkaka berumur dua puluh enam tahun.[4]

Beliau diberi gelar dengan nama “ al-Fârûq“, karena dengan pribadi Umar itulah Allah membedakan antara yang hak dan yang batil. Sesuai dengan doa Nabi saw terhadapnya: “Ya Allah! Muliakan Islam dengan kehadiran Umar“.[5]

Umar menerima jabatan khalifah dengan wasiat dari Abu Bakar ra, kemudian disepakati oleh kaum muslimin saat itu. Abu Bakar mengambil inisiatif seperti ini, karena ia berpikir jika tidak dicalonkan siapa yang akan menggantikannya, ia khawatir akan terjadi perpecahan di kalangan umat Islam seperti sebelum pengangkatannya sebagai khalifah. Ketika itu hampir saja terjadi perebutan kekuasaan pemerintahan antar kaum muslimin. Terlebih lagi saat itu umat Islam sedang berperang menghadapi bangsa Persia dan Romawi.

Ketika Umar memegang tampuk kursi khilafah menggantikan Abu Bakar ra pada tahun 13 H, ia menyebut dirinya dengan gelar “Khalîfatu khalîfati Rasûlillâh“, yaitu pengganti penggantinya Rasulullah saw. Selain itu, gelar yang disandang oleh Umar dalam memegang urusan khilafah adalah “amîrul mukminîn“. Hal ini disebabkan karena gelar “khalîfatu khalîfati Rasûlillâh” terlalu panjang hingga sebagian sahabat berkumpul dan mengeluarkan ide dengan gelar baru: “Kami adalah orang-orang beriman sedangkan Umar adalah pemimpinnya (amir)”.[6]Sejak itulah gelar “amîrul mukminîn” untuk sang khalifah populer, dan Umar merupakan orang yang pertama kali mendapat gelar tersebut sebagai khalifah.

Saat Umar memerintah, wilayah kekuasaan Islam sudah begitu meluas, yang mana meliputi jazirah Arab, sebagain wilayah kekuasaan Romawi (Syria, Palestina, dan Mesir), serta seluruh kekuasaan Persia, termasuk Irak.[7]Karena luasnya wilayah kekuasaan Islam, maka Umar memerlukan usaha yang keras dan kontinyu, baik optimalisasi devisa negara, perencanaan sistem ekonomi, anggaran, operasional kerja ataupun pengawasannya.

Selama Umar memimpin pemerintahan, ia sangat memperhatikan rakyat yang dipimpinnya. Ia selalu mendengarkan keluhan dan protes rakyatnya, jalan ke pasar, keliling mengontrol rakyatnya di jalan, bahkan sering dengan menyamar sebagai rakyat biasa, sebab sulit membedakan antara penampilan dirinya dengan rakyat biasa jika tidak pernah mengenalnya.

Umar wafat pada hari rabu bulan dzulhijjah 23 H. Ia ditikam oleh seseorang yang bernama Abu Lu`lu`ah, ketika sedang memimpin solat subuh berjamaah. Periode pemerintahannya berlangsung selama 10 tahun 5 bulan 21 malam.