Sumber-sumber Tasawuf

Sebagaimana layaknya ilmu tauhid, ilmu fiqih, ilmu akhlaq, ilmu kalam, ulumul Al- Qur’an, ulumul hadis dan ilmu-ilmu lain dalam Islam yang penamaannya baru muncul setelah Rasul wafat, demikian juga dengan ilmu tasawuf, eksistensi namanya baru dike- nal jauh setelah Rasul wafat. Namun esensi ilmu tasawuf sesungguhnya bersumber dari Allah, Rasul, ijma’ sufi, ijtihad sufi dan qiyas sufi.

1. Allah

Allah merupakan Zat sumber ilmu tasawuf, tidak ada seorangpun yang mampu menciptakan ilmu tasawuf dari selain Zat Allah. Namun Allah mengajarkan secercah ilmu-Nya kepada para sufi lewat hidayah (ilham) baik langsung maupun dengan perantaraan lain selain Allah yang Allah kehendaki.

Ada kalanya lewat Al-Qur’an dengan metode iqro’ul Qur’an (membaca, meny- imak, menganalisa isi kandungan Al-Qur’an), ada pula melalui alam dengan cara perenungan sufi dan lain sebagainya yang pada intinya merupakan hidayah dari Allah, kemudian berwujud menjadi ide tercerahkan dalam nuansa pemikiran dan keyaqinan terunjam di hati untuk dimanifestasikan dalam realita kehidupan nyata sebagai bentuk pengabdian diri kepada Allah.

2. Rasulullah SAW

Rasul merupakan sumber kedua setelah Allah bagi para sufi dalam mendalami dan pengambangkan ilmunya, karena hanya kepada Rasul sajalah Allah menitipkan wahyu-Nya, tentulah Rasul pula yang lebih banyak tahu tentang sesuatu yang tersirat di balik yang tersurat dalam Al-Qur’an. Semua keterangan tersebut hanya ada di hadis Rasulullah, maka sumber yang kedua ilmu tasawuf adalah Hadis (Sunnah Rasul).

3. Pengalaman Sahabat

Setelah merujuk pada referensi Al-Qur’an dan Hadis, referensi selanjutnya bagi aktivitas tasawuf adalah pengetahuan dan tindakan para pengikut setia Rasu- lullah Muhammad saw. Pengalaman spiritual yang diperolehnya sebagai penunjang semuanya itu.

4. Ijma’ Sufi

Ijma’ Sufi (kesepakatan para ‘ulama tasawuf) merupakan esensi yang sangat penting dalam ilmu tasawuf, karenanya mereka dijadikan sebagai sumber yang ke tiga dalam ilmu tasawuf setelah Al-Qur’an dan Hadis.

5. Ijtihad Sufi

Dalam kesendiriannya, para sufi banyak menghadapi pengalaman aneh, pengala- man itu merupakan guru terbaik, namun Allah memberi akal untuk berfikir semak- simal mungkin sebagai alat pembeda antara kepositifan dengan kenegatifan dalam pengalaman.

6. Qiyas Sufi

Qiyas merupakan penghantar sufi untuk dapat berijtihad secara mandiri jika se- dang terpisah dari jama’ahnya.

7. Nurani Sufi

Setiap sufi positif, memiliki nurani yang tajam di hatinya, ada yang menyebutnya dengan istilah firasat, rasa, radar batin dan sebagainya merupakan anugerah Allah terhadap kaum sufi, bias dari keikhlashan, kesabaran dan ketawakkalannya dalam beribadah kepada Allah tanpa kenal lelah.

8. Amalan Sufi

Kaum sufi memegang teguh tradisi rahasia (menyembunyikan) nurani dan ama- linya, karena jika dua hal tersebut diketahui umum dapat menimbulkan kesalah fahaman, hal ini disebabkan dimensi tariqat (perjalanan) sufi merupakan dimensi batin (roh, rohani, jiwa, sesuatu esensi tersembunyi, gaib) yang tidak semua orang mampu menjalaninya, namun para sufi amat merindukannya disebabkan semata karena cinta kepadaNya.