Jenderal Soedirman adalah pahlawan nasional yang berperan dalam mempertahankan kemerdekaan Indonesia dari penjajahan Belanda dan sekutunya. Ia merupakan panglima besar pertama Tentara Nasional Indonesia (TNI) yang menjabat pada usia yang masih sangat muda, yaitu 29 tahun. Ia dikenal sebagai sosok yang berjiwa ksatria, berwibawa, berani, dan taat pada Islam.
Masa Kecil dan Pendidikan
Soedirman lahir di Purbalingga, Jawa Tengah, pada 24 Januari 1916. Ia merupakan anak dari pasangan Karsid Kartawiraji dan Siyem. Karena permasalahan ekonomi, Soedirman kecil diasuh oleh pamannya yang bernama Raden Cokrosunaryo. Setelah diadopsi, Soedirman diberi gelar kebangsawanan Jawa dan namanya menjadi Raden Soedirman.
Sejak saat itu, Soedirman besar dengan didikan etika dan tata krama priyayi serta kesederhanaan sebagai rakyat biasa. Berkat didikan awal tersebut, Soedirman tumbuh menjadi anak yang rajin dan aktif. Ia sangat gemar membaca buku-buku sejarah dan agama. Ia juga mengikuti kegiatan ekstrakurikuler seperti pramuka dan olahraga.
Pada usia 7 tahun, Soedirman masuk sekolah dasar di Cilacap. Ia menyelesaikan pendidikannya dalam waktu 4 tahun, padahal biasanya membutuhkan waktu 7 tahun. Kemudian ia melanjutkan pendidikan di sekolah menengah Muhammadiyah di Purwokerto. Di sana ia menunjukkan kemampuan dalam memimpin dan berorganisasi. Ia menjadi ketua OSIS, ketua klub debat, dan ketua kelompok pemuda Muhammadiyah.
Setelah lulus dari sekolah menengah pada tahun 1936, Soedirman melanjutkan pendidikan di Sekolah Tinggi Muallimin Muhammadiyah di Yogyakarta. Sekolah ini merupakan perguruan tinggi keguruan yang bertujuan untuk mencetak guru-guru Islam berkualitas. Namun, karena alasan kesehatan, Soedirman terpaksa berhenti kuliah pada tahun 1938.
Karier sebagai Guru dan Prajurit
Meskipun tidak menyelesaikan kuliahnya, Soedirman tetap memiliki cita-cita untuk menjadi guru. Ia mulai bekerja sebagai guru di sekolah dasar Muhammadiyah di Cilacap pada tahun 1936. Ia juga menjadi kepala sekolah di sana pada tahun 1939. Selain mengajar, ia juga aktif dalam kegiatan Muhammadiyah lainnya, seperti dakwah, sosial, dan kesehatan.
Pada tahun 1942, Jepang menduduki Indonesia dan menggantikan Belanda sebagai penjajah baru. Jepang membentuk tentara sukarela yang disebut Pembela Tanah Air (PETA) untuk membantu mereka melawan sekutu. Pada tahun 1944, Soedirman bergabung dengan PETA dan menjadi komandan batalion di Banyumas. Ia mengikuti latihan militer selama 3 bulan di Bogor.
Soedirman tidak sepenuhnya setia kepada Jepang. Ia bersama rekannya sesama prajurit PETA melakukan pemberontakan terhadap Jepang pada Oktober 1944. Pemberontakan ini dikenal sebagai Peristiwa Blitar. Akibatnya, Soedirman ditangkap dan diasingkan ke Bogor.
Perjuangan dalam Revolusi Nasional Indonesia
Pada tanggal 17 Agustus 1945, Indonesia memproklamirkan kemerdekaannya dari Jepang. Soedirman melarikan diri dari pusat penahanan dan pergi ke Jakarta untuk bertemu dengan Presiden Soekarno. Ia ditugaskan untuk mengawasi proses penyerahan diri tentara Jepang di Banyumas. Ia juga mendirikan divisi lokal Badan Keamanan Rakyat (BKR), cikal bakal TNI.
Pada tanggal 20 Oktober 1945, BKR diubah menjadi Tentara Keamanan Rakyat (TKR). Soedirman ditunjuk sebagai komandan Divisi V yang meliputi Jawa Tengah dan Daerah Istimewa Yogyakarta. Ia bertanggung jawab untuk menghadapi serangan Belanda yang ingin merebut kembali Indonesia.
Pada tanggal 12 November 1945, dalam sebuah pemilihan untuk menentukan panglima besar TKR di Yogyakarta, Soedirman terpilih menjadi panglima besar, sedangkan Oerip Soemohardjo, yang telah aktif di militer sebelum Soedirman lahir, menjadi kepala staf. Soedirman dilantik pada tanggal 18 Desember 1945 oleh Presiden Soekarno.
Sebagai panglima besar, Soedirman menghadapi berbagai tantangan, seperti kurangnya persenjataan, anggaran, dan disiplin prajurit. Ia juga harus mengatasi pemberontakan-pemberontakan dari kelompok-kelompok yang tidak puas dengan pemerintah pusat, seperti DI/TII, APRA, dan RMS. Selain itu, ia harus mengoordinasikan perlawanan terhadap agresi militer Belanda yang terjadi dua kali, yaitu pada tahun 1947 dan 1948.
Salah satu strategi yang dilakukan Soedirman untuk menghadapi Belanda adalah gerilya. Ia memimpin pasukannya untuk berpindah-pindah tempat dan melakukan serangan-serangan mendadak terhadap musuh. Ia melakukan hal ini meskipun kondisi kesehatannya tidak baik karena menderita tuberkulosis. Ia bahkan sempat dirawat di rumah sakit Magelang pada tahun 1948.
Salah satu peristiwa penting dalam perjuangan Soedirman adalah Serangan Umum 1 Maret 1949. Ini adalah serangan besar-besaran yang dilakukan oleh pasukan TNI dan rakyat Yogyakarta terhadap Belanda yang telah menduduki kota tersebut sejak Agresi Militer Belanda II. Serangan ini berhasil mengejutkan Belanda dan menunjukkan bahwa semangat perjuangan Indonesia masih tinggi.
Kematian dan Penghargaan
Setelah Belanda mengakui kedaulatan Indonesia pada tanggal 27 Desember 1949, Soedirman kembali ke Yogyakarta dan disambut dengan meriah oleh rakyat. Namun, ia tidak bisa menikmati kemerdekaan Indonesia dalam waktu lama. Ia meninggal dunia pada tanggal 29 Januari 1950 di rumah sakit Magelang karena penyakit tuberkulosis yang dideritanya.
Soedirman dimakamkan di Taman Makam Pahlawan Semaki, Yogyakarta, dengan upacara militer yang penuh hormat. Ia dianugerahi gelar pahlawan nasional Indonesia pada tahun 1950. Ia juga diberi pangkat jenderal anumerta pada tahun 1950 dan jenderal besar anumerta pada tahun 1997.
Soedirman dihormati sebagai salah satu tokoh terbesar dalam sejarah Indonesia. Nama dan wajahnya diabadikan dalam berbagai bentuk, seperti nama jalan, nama universitas, nama gedung, nama kapal perang, nama pesawat tempur, nama satuan militer, nama bank, nama taman, patung, prangko, uang kertas, dan lain-lain.
Soedirman adalah sosok yang patut diteladani oleh generasi muda Indonesia. Ia memiliki semangat juang yang tinggi, loyalitas yang kuat, kepemimpinan yang bijaksana, dan ketakwaan yang mendalam. Ia adalah panglima besar pertama Indonesia yang mengabdikan dirinya untuk bangsa dan negara hingga akhir hayatnya. <|im_end|