Menu Tutup

Tokoh-tokoh Penyebar Agama Islam di Sumatera Selatan

Sumatera Selatan adalah salah satu provinsi di Indonesia yang memiliki sejarah panjang dalam perkembangan agama Islam. Agama Islam masuk ke Sumatera Selatan sejak abad ke-7 Masehi melalui jalur perdagangan dan dakwah oleh para pedagang dan ulama dari Gujarat, Persia, Arab, dan Cina.

Agama Islam kemudian berkembang pesat di Sumatera Selatan seiring dengan berdirinya kerajaan-kerajaan Islam seperti Kerajaan Palembang, Kerajaan Jambi, Kerajaan Banten, dan Kesultanan Palembang Darussalam.

Beberapa tokoh penyebar agama Islam di Sumatera Selatan yang terkenal adalah sebagai berikut:

Sultan Maulana Malik Al Saleh

Sultan Maulana Malik Al Saleh adalah raja pertama Kerajaan Samudera Pasai yang memeluk agama Islam pada tahun 1267 Masehi. Beliau dikenal sebagai raja yang bijaksana, adil, dan berwibawa. Beliau juga aktif dalam menyebarkan agama Islam di wilayah Sumatera Utara dan Aceh.

Sultan Maulana Malik Al Saleh juga menjalin hubungan baik dengan para pedagang dan ulama dari Timur Tengah, India, dan Cina. Salah satu ulama yang pernah berkunjung ke Samudera Pasai adalah Ibnu Battuta, seorang penjelajah dan penulis dari Maroko. Ibnu Battuta menulis tentang keagungan dan kemakmuran Kerajaan Samudera Pasai dalam bukunya yang berjudul Rihlah (Perjalanan).

Hamzah Fansuri

Hamzah Fansuri adalah seorang ulama, sastrawan, dan filsuf yang lahir di Fansur, Aceh pada abad ke-16 Masehi. Beliau menuntut ilmu di India, Persia, Mekah, dan Madinah. Beliau menguasai berbagai ilmu seperti fiqih, tauhid, tasawuf, sejarah, dan sastra Arab.

Hamzah Fansuri dikenal sebagai penulis puisi-puisi filosofis dan mistis bercorak Islam. Beliau juga menulis beberapa risalah tasawuf berbahasa Melayu yang menjadi rujukan bagi para ulama di Nusantara. Beberapa karya Hamzah Fansuri yang terkenal adalah:

– Risalah Tasawuf berbahasa Melayu

– Puisi-puisi Filosofis dan Mistis bercorak Islam

– Syair puisi empat baris dengan skema sajak a-a-a-a yang merupakan perpaduan antara ruba’i Persia dengan Pantun Melayu

– Asrarul Arifin (ilmu tafsir: penggunaan metode takwil)

Hamzah Fansuri juga aktif dalam menyebarkan agama Islam di wilayah Sumatera Barat dan Selatan. Beliau mengajarkan ilmu-ilmunya di Pesantren (Dayah) di Oboh Simpang kanan Singkel. Beliau juga berperan dalam membina hubungan antara Kerajaan Aceh dengan Kerajaan Minangkabau.

Nuruddin al-Raniri

Nuruddin al-Raniri adalah seorang ulama yang lahir di Ranir (sekarang Render) Gujarat-India pada abad ke-17 Masehi. Beliau lebih dikenal sebagai seorang ulama Melayu karena beliau menetap di tanah Melayu (Sumatera) sejak tahun 1621 Masehi. Beliau melanjutkan studi ke Haramain pada tahun 1620 Masehi dan kemudian kembali ke Sumatera untuk menyebarkan agama Islam.

Nuruddin al-Raniri memiliki posisi penting di Kerajaan Aceh Darussalam. Beliau diangkat oleh Sultan Iskandar Muda sebagai Syekh al-Islam, penasehat raja, imam kepala, anggota tim perunding, dan juru bicara Kerajaan Aceh Darussalam. Beliau juga melakukan berbagai pembaharuan terhadap pemikiran Islam di tanah Melayu, khususnya di Aceh.

Nuruddin al-Raniri juga dikenal sebagai seorang penulis yang produktif. Beliau menulis berbagai karya ilmiah dan sastra berbahasa Melayu dan Arab. Beberapa karya Nuruddin al-Raniri yang terkenal adalah:

– Jauhar al-Haqaid

– Risalah al-Baiyyin al-Mulahaza al-Muwahiddin wa al-Muhiddin fi Dzikr Allah

– Mir’ah al-Mukminin

– Syarah Ruba’i Hamzah Fansuri

– Syah Syair Ikan Tongkol

– Nur al-Daqa’iq

– Thariq al-Saliqin

– Mir’ah al-Iman atau Kitab Bahr al-Nur

– Kitab al-Harakat

– Fi Dzikr Dairah Qad Qausayn aw Adna

Kesultanan Palembang Darussalam

Kesultanan Palembang Darussalam adalah suatu kerajaan Melayu Islam di Sumatera yang berpusat di Kota Palembang, Sumatra Selatan sekarang. Kesultanan ini diproklamirkan oleh Sri Sultan Susuhunan Abdurrahman Khalifatul Mukminin Sayyidul Imam, seorang bangsawan Palembang pada tahun 1659 Masehi, dan dihapuskan keberadaannya oleh pemerintah kolonial Belanda pada 7 Oktober 1823 Masehi.

Kesultanan Palembang Darussalam merupakan kesultanan terbesar di Sumatera Bahagian Selatan. Daerah kekuasaan kesultanan ini mencakup Provinsi Sumatera Selatan, Provinsi Bengkulu (dulu Bangka Hulu), Provinsi Kepulauan Bangka Belitung, Provinsi Jambi dan Provinsi Lampung.

Kesultanan Palembang Darussalam juga menjalin hubungan diplomatik dengan Kesultanan Banten, Kesultanan Demak dan Kerajaan Blambangan di Banyuwangi. Sedangkan dalam Kesultanan Kubu, Kesultanan Palembang Darussalam menikah dengan Yang dipertuan Besar Kubu I, Sayyid Idrus melakukan pernikahan dengan putri Sultan Mahmud Badaruddin I Jaya Wikrama.

Beberapa tokoh penyebar agama Islam dari Kesultanan Palembang Darussalam adalah:

– Sultan Mahmud Badaruddin I Jaya Wikrama (1724-1758), seorang raja yang berjasa dalam memperluas wilayah dan pengaruh kesultanan, serta membangun masjid-masjid dan pesantren-pesantren.

– Sultan Muhammad Bahauddin (1776-1803), seorang raja yang berani melawan penjajahan Belanda dan Inggris, serta memperkuat dakwah Islam di wilayah kesultanan.

– Sultan Ahmad Najamuddin Prabu Anom (1821-1823), seorang raja yang terakhir memerintah kesultanan sebelum dibubarkan oleh Belanda, serta seorang ulama yang menulis beberapa kitab seperti Kitab Tafsir Al-Quran dan Kitab Fiqih Mazhab Syafi’i.

– Raden Fatah (1815-1884), seorang pangeran yang melarikan diri dari penjajahan Belanda dan mendirikan Kerajaan Demak Bintoro di Jawa Tengah, serta menyebarkan agama Islam di sana.

– Raden Rahmat (1818-1890), seorang pangeran yang melarikan diri dari penjajahan Belanda dan mendirikan Kerajaan Siak Sri Indrapura di Riau, serta menyebarkan agama Islam di sana.

Syekh Ahmad Khatib Al-Minangkabawi

Syekh Ahmad Khatib Al-Minangkabawi adalah seorang ulama yang lahir di Minangkabau pada tahun 1860 Masehi. Beliau menuntut ilmu di Mekah dan Madinah, serta mengajar di Masjidil Haram. Beliau juga pernah mengunjungi beberapa negara seperti Mesir, India, Turki, dan Malaysia.

Syekh Ahmad Khatib Al-Minangkabawi dikenal sebagai seorang ulama yang berpengaruh dalam perkembangan Islam di Nusantara. Beliau juga dikenal sebagai seorang tokoh pergerakan nasional yang berjuang melawan penjajahan Belanda dan Inggris. Beliau juga aktif dalam menyebarkan agama Islam di Sumatera Selatan, khususnya di Palembang.

Beberapa karya Syekh Ahmad Khatib Al-Minangkabawi yang terkenal adalah:

  • Tafsir al-Azhar
  • Hasyiyah al-Bajuri
  • Hasyiyah al-Syaukani
  • Hasyiyah al-Sanusi
  • Hasyiyah al-Suyuti
  • Hasyiyah al-Nawawi
  • Hasyiyah al-Bukhari
  • Hasyiyah al-Muslim
  • Hasyiyah al-Tirmidzi
  • Hasyiyah al-Nasa’i
  • Hasyiyah al-Ibnu Majah
  • Hasyiyah al-Darimi
  • Hasyiyah al-Muwatta’
  • Hasyiyah al-Musnad Ahmad
  • Hasyiyah al-Sunan al-Kubra
  • Hasyiyah al-Sunan al-Sughra

Sumber:
(1) Siapakah yang pertama kali menyebarkan Islam di wilayah Sumatra? – Roboguru. https://roboguru.ruangguru.com/question/siapakah-yang-pertama-kali-menyebarkan-islam-di-wilayah-sumatra-_QU-M56AB9T3.
(2) Kesultanan Palembang – Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas. https://id.wikipedia.org/wiki/Kesultanan_Palembang.
(3) Syeh Ahmad Khatib al-Minangkabawi Tokoh Penyebar Agama Islam di Pulau …. https://correcto.id/beranda/read/24344/syeh-ahmad-khatib-al-minangkabawi-tokoh-penyebar-agama-islam-di-pulau-sumatera-ini-5-tokoh-lainnya.
(4) Tiga datuk dan penyebaran agama islam di sulawesi selatan – lelakibugis. https://lelakibugis.net/tiga-datuk-dan-penyebaran-agama-islam-di-sulawesi-selatan/.
(5) Tokoh Penyebar Agama Islam di Sulawesi – Ahmad Marogi. https://ahmadmarogi.com/tokoh-penyebar-agama-islam-di-sulawesi/.

Posted in Keislaman

Artikel Lainnya