Indonesia adalah negara yang memiliki sejarah panjang dalam perjuangan melawan penjajahan. Sejak abad ke-16, bangsa-bangsa Eropa datang ke Nusantara untuk mencari rempah-rempah dan sumber daya alam lainnya. Mereka kemudian menjajah Indonesia dengan berbagai cara, seperti monopoli perdagangan, perjanjian-perjanjian tidak adil, pajak-pajak tinggi, kerja paksa, dan penindasan terhadap rakyat. Namun, bangsa Indonesia tidak tinggal diam. Mereka melakukan berbagai perlawanan untuk mempertahankan tanah air dan martabat mereka.
Perlawanan yang dilakukan oleh bangsa Indonesia pada masa penjajahan Belanda dan Jepang memiliki beberapa ciri, antara lain:
- Perlawanan bersifat kedaerahan atau lokal, yaitu hanya melibatkan satu atau beberapa daerah saja. Hal ini disebabkan oleh kurangnya komunikasi dan koordinasi antar daerah, serta adanya perbedaan latar belakang suku, budaya, agama, dan politik.
- Perlawanan dilakukan secara fisik atau bersenjata, yaitu menggunakan senjata tradisional seperti keris, tombak, parang, pedang, meriam bambu, dan bedil. Perlawanan ini biasanya berbentuk serangan mendadak, gerilya, atau pertempuran terbuka.
- Perlawanan dipimpin oleh tokoh-tokoh karismatik atau disegani oleh masyarakat, seperti raja-raja, sultan-sultan, pangeran-pangeran, ulama-ulama, kyai-kyai, pemuka adat, dan pemuda-pemuda. Mereka memiliki pengaruh besar terhadap rakyat dan mampu menggerakkan massa untuk berjuang.
- Perlawanan bersifat sporadis atau musiman, yaitu tidak terjadi secara terus-menerus atau berkelanjutan. Hal ini disebabkan oleh keterbatasan sumber daya manusia dan material, serta adanya tekanan dan intimidasi dari pihak penjajah.
- Perlawanan belum terorganisir dengan baik, yaitu tidak memiliki strategi, taktik, dan tujuan yang jelas. Hal ini disebabkan oleh kurangnya pengetahuan dan pengalaman dalam berperang melawan musuh yang lebih kuat dan canggih.
Meskipun demikian, perlawanan kedaerahan ini tetap memiliki nilai sejarah yang penting dalam perjuangan bangsa Indonesia. Perlawanan ini menunjukkan semangat patriotisme, nasionalisme, dan heroisme dari para pejuang yang rela berkorban demi tanah air. Perlawanan ini juga menjadi inspirasi dan motivasi bagi generasi-generasi selanjutnya untuk melanjutkan perjuangan hingga meraih kemerdekaan.
Berikut ini adalah beberapa contoh perjuangan kedaerahan melawan penjajahan yang terjadi di Indonesia:
Perang Saparua Ambon (1817)
Perang ini dipicu oleh kebijakan-kebijakan kolonial Belanda yang merugikan rakyat Maluku, seperti kerja paksa, pajak tinggi, pemotongan gaji guru-guru pribumi, perekrutan tentara paksa, dan pembayaran tidak adil atas perahu-perahu yang dibuat oleh rakyat. Para tokoh dan pemuda Maluku kemudian sepakat untuk melakukan perlawanan terhadap Belanda.
Perlawanan ini dipimpin oleh Kapitan Pattimura (Thomas Matulessy), seorang mantan tentara Belanda yang beralih menjadi pejuang kemerdekaan. Ia dibantu oleh Christina Martha Tiahahu (putri dari Kapitan Paulus Tiahahu), Thomas Pattiwael (keponakan Pattimura), Lucas Latumahina (pemimpin rakyat Haria), dan Antoni Rebeta (pemimpin rakyat Nusalaut).
Perlawanan ini dimulai dengan menyerbu Benteng Duurstede di Pulau Saparua pada 16 Mei 1817. Benteng ini berhasil direbut oleh pasukan Pattimura setelah mengalahkan pasukan Belanda di bawah pimpinan Residen Van den Berg. Pattimura kemudian mengibarkan bendera merah putih di benteng tersebut sebagai simbol kemerdekaan.
Belanda tidak tinggal diam. Mereka mengirimkan bala bantuan dari Ambon, Batavia, dan Makassar untuk merebut kembali benteng Duurstede. Setelah beberapa kali pertempuran sengit, benteng ini akhirnya jatuh ke tangan Belanda pada 15 November 1817. Pattimura dan para pejuang lainnya berhasil melarikan diri dan melanjutkan perlawanan di daerah lain.
Belanda kemudian membuat sayembara untuk menangkap Pattimura dengan imbalan 1000 gulden. Setelah enam bulan bersembunyi, Pattimura akhirnya tertangkap oleh Belanda pada 23 November 1817. Ia kemudian dihukum gantung di alun-alun Ambon pada 16 Desember 1817. Christina Martha Tiahahu juga ditangkap dan dibuang ke Jawa untuk bekerja rodi. Ia meninggal dalam perjalanan karena sakit dan kelelahan.
Perang Diponegoro (1825-1830)
Perang ini dipicu oleh kebijakan Belanda yang mengambil tanah-tanah milik Kesultanan Yogyakarta tanpa persetujuan Sultan Hamengkubuwono III. Tanah-tanah tersebut digunakan untuk membangun jalan raya yang menghubungkan Semarang dan Surakarta. Salah satu tanah yang diambil adalah Tegalrejo, tempat tinggal Pangeran Diponegoro, putra mahkota Yogyakarta.
Pangeran Diponegoro merasa tersinggung dan marah atas tindakan Belanda tersebut. Ia kemudian mengadakan pertemuan dengan para ulama, kyai, dan tokoh masyarakat untuk merencanakan perlawanan terhadap Belanda. Ia juga mendapat dukungan dari sebagian besar rakyat Yogyakarta yang tidak puas dengan pemerintahan Sultan Hamengkubuwono III yang dianggap pro-Belanda.
Perlawanan ini dimulai dengan menyerang pasukan Belanda yang sedang membangun jalan raya di Tegalrejo pada 20 Juli 1825. Pasukan Belanda berhasil dipukul mundur oleh pasukan Diponegoro yang menggunakan senjata tradisional seperti keris, tombak, dan bedil. Perlawanan ini kemudian menyebar ke daerah-daerah lain di Jawa Tengah dan Jawa Timur.
Perlawanan ini dipimpin oleh Pangeran Diponegoro yang bergelar Imam Mahdi atau pemimpin agama Islam. Ia dibantu oleh para komandan perang seperti Kyai Mojo (pemimpin rakyat Bagelen), Sentot Alibasyah (pemimpin rakyat Pekalongan), Kyai Maja (pemimpin rakyat Kedu), dan Kyai Zakaria (pemimpin rakyat Demak).
Perlawanan ini menggunakan strategi gerilya, yaitu melakukan serangan mendadak dan mengejutkan musuh, kemudian menghilang di hutan atau pegunungan. Strategi ini cukup efektif untuk mengganggu pasukan Belanda yang lebih banyak dan lebih canggih. Perlawanan ini juga didukung oleh faktor alam, seperti iklim tropis, penyakit malaria, dan hewan buas yang menyulitkan pasukan Belanda.
Belanda menghadapi kesulitan dalam menumpas perlawanan Diponegoro. Mereka harus mengeluarkan biaya besar untuk mengirimkan pasukan dan persenjataan dari Eropa. Mereka juga harus menghadapi pemberontakan-pemberontakan lain di daerah-daerah seperti Palembang, Banten, Banjarmasin, Bone, dan Lombok.
Belanda kemudian mencoba melakukan diplomasi dengan Diponegoro. Mereka mengirimkan utusan-utusan untuk bernegosiasi dengan Diponegoro. Salah satu utusan tersebut adalah Jenderal De Kock, yang berhasil membujuk Diponegoro untuk bertemu dengannya di Magelang pada 28 Maret 1830. Namun, ternyata pertemuan tersebut adalah sebuah jebakan. Diponegoro ditangkap oleh pasukan Belanda tanpa perlawanan.
Dengan tertangkapnya Diponegoro, perlawanan rakyat Jawa melemah dan akhirnya berakhir pada 1830. Diponegoro kemudian dibuang ke Manado, dan kemudian ke Makassar, di mana ia meninggal pada 1855.
Perang Aceh (1873-1914)
Perang ini dipicu oleh keinginan Belanda untuk menguasai seluruh wilayah Indonesia, termasuk Aceh yang merupakan kerajaan Islam terbesar dan terkuat di Nusantara. Belanda menganggap Aceh sebagai ancaman bagi kepentingan mereka di Sumatera dan Malaka. Belanda juga ingin menguasai sumber daya alam Aceh, seperti emas, perak, lada, dan minyak bumi.
Perlawanan ini dipimpin oleh Sultan Mahmud Syah (1870-1874), Teuku Umar (1879-1899), Cut Nyak Dhien (1873-1908), dan Teuku Cik Ditiro (1881-1891). Mereka memiliki keberanian, kecerdasan, dan keterampilan dalam berperang melawan Belanda. Mereka juga memiliki dukungan dari rakyat Aceh yang taat beragama dan berjiwa pejuang.
Perlawanan ini menggunakan strategi perang tradisional dan modern. Perang tradisional meliputi serangan mendadak, gerilya, penghadangan, penyergapan, dan penggunaan senjata tradisional seperti rencong, badik, pedang, tombak, dan meriam. Perang modern meliputi penggunaan senjata api, bom, ranjau darat, telegraf, dan kapal perang yang didapat dari perdagangan dengan negara-negara lain seperti Turki, Inggris, dan Italia.
Belanda mengalami kesulitan dalam menaklukkan Aceh. Mereka harus menghadapi perlawanan yang gigih dan berani dari rakyat Aceh. Mereka juga harus menghadapi kondisi alam Aceh yang sulit, seperti hutan lebat, gunung berapi, sungai-sungai besar, dan iklim tropis. Mereka juga harus menghadapi tekanan internasional dari negara-negara lain yang tidak setuju dengan penjajahan Belanda di Aceh.
Belanda kemudian mencoba melakukan diplomasi dengan para pemimpin Aceh. Mereka mengirimkan utusan-utusan untuk bernegosiasi dengan Sultan Mahmud Syah, Teuku Umar, Cut Nyak Dhien, dan Teuku Cik Ditiro. Namun, semua usaha tersebut gagal karena para pemimpin Aceh menolak untuk tunduk kepada Belanda.
Belanda akhirnya berhasil mengakhiri perlawanan Aceh setelah melakukan operasi militer besar-besaran yang disebut “Pacification of Aceh” pada 1903-1914. Operasi ini dipimpin oleh Jenderal Van Heutsz yang dikenal sebagai “The Butcher of Aceh” karena kekejamannya terhadap rakyat Aceh. Operasi ini melibatkan penggunaan pasukan darat, laut, dan udara yang dilengkapi dengan senjata-senjata modern seperti senapan mesin, meriam berat, kapal perang, pesawat terbang, dan balon udara. Operasi ini juga melibatkan pembantaian massal, pembakaran desa-desa, pemusnahan tanaman pangan, penangkapan dan pembuangan tawanan perang, serta penghancuran pusat-pusat kebudayaan dan keagamaan Aceh.
Dengan demikian, perlawanan Aceh berakhir pada 1914. Belanda kemudian mengklaim bahwa mereka telah menundukkan Aceh dan menjadikannya sebagai bagian dari Hindia Belanda. Namun, semangat perjuangan rakyat Aceh tidak padam. Mereka tetap melakukan perlawanan sporadis hingga masa kemerdekaan Indonesia.
Sumber:
(1) Perjuangan Kedaerahan Melawan Penjajah | Sejarah Kelas XI – LATISPRIVAT.com. https://www.latisprivat.com/2022/10/perjuangan-kedaerahan-melawan-penjajah.html.
(2) Ciri Perlawanan Bangsa Indonesia pada Abad Ke-19 – Kompas.com. https://www.kompas.com/skola/read/2021/03/01/232632369/ciri-perlawanan-bangsa-indonesia-pada-abad-ke-19.
(3) Perjuangan bangsa Indonesia melawan penjajah awaln… – Roboguru. https://roboguru.ruangguru.com/question/perjuangan-bangsa-indonesia-melawan-penjajah-awalnya-bersifat-kedaerahan-tanpa-koordinasi-yang-baik_QU-E6WM1R9B.
(4) Pada masa penjajahan Belanda, perjuangan melawan p… – Roboguru. https://roboguru.ruangguru.com/forum/pada-masa-penjajahan-belanda-perjuangan-melawan-penjajah-selalu-bersifat-kedaerahan-sebelum-era_FRM-CZ8V4E30.