Menu Tutup

Latar Belakang Perjuangan Kedaerahan Melawan Penjajahan

Indonesia merupakan negara yang kaya akan sumber daya alam, budaya, dan sejarah. Namun, kekayaan tersebut juga menarik perhatian bangsa-bangsa asing yang ingin menguasai dan mengeksploitasi Indonesia. Sejak abad ke-16, Indonesia telah mengalami penjajahan oleh bangsa Eropa, seperti Portugis, Spanyol, Inggris, dan Belanda. Selain itu, pada abad ke-20, Indonesia juga sempat dijajah oleh Jepang.

Penjajahan yang berlangsung selama berabad-abad tentu saja menimbulkan penderitaan dan ketidakadilan bagi rakyat Indonesia. Oleh karena itu, berbagai perlawanan dan perjuangan dilakukan oleh bangsa Indonesia untuk membebaskan diri dari belenggu penjajah. Namun, perlawanan dan perjuangan tersebut tidak mudah dan tidak segera membuahkan hasil. Ada banyak faktor yang mempengaruhi keberhasilan atau kegagalan perlawanan dan perjuangan bangsa Indonesia.

Salah satu faktor yang penting adalah latar belakang perjuangan kedaerahan melawan penjajahan. Perjuangan kedaerahan adalah perjuangan yang dilakukan oleh suatu daerah atau kelompok etnis tertentu untuk mempertahankan hak-hak dan kepentingan mereka dari campur tangan penjajah. Perjuangan kedaerahan biasanya dipimpin oleh tokoh-tokoh lokal yang memiliki pengaruh dan karisma di masyarakat, seperti raja-raja, sultan-sultan, pangeran-pangeran, ulama-ulama, atau pemimpin-pemimpin adat.

Perjuangan kedaerahan memiliki beberapa ciri khas, antara lain:

  • Bersifat lokal atau terbatas pada suatu daerah atau kelompok etnis tertentu.
  • Bersifat fisik atau bersenjata, menggunakan senjata tradisional seperti keris, tombak, pedang, panah, atau senapan.
  • Bersifat sporadis atau tidak terorganisir dengan baik, tergantung pada kondisi politik dan ekonomi saat itu.
  • Bersifat defensif atau bertujuan untuk mempertahankan status quo dari ancaman penjajah.
  • Bersifat reaksioner atau dipicu oleh tindakan-tindakan penjajah yang merugikan atau menyinggung rakyat.

Latar belakang perjuangan kedaerahan melawan penjajahan dapat dibagi menjadi beberapa aspek, yaitu:

  • Aspek politik: Penjajah sering kali mengintervensi urusan dalam negeri daerah-daerah yang mereka kuasai, seperti mengganti raja-raja dengan boneka mereka sendiri, memecah belah kerajaan-kerajaan menjadi wilayah-wilayah kecil yang mudah dikendalikan, menghapuskan sistem pemerintahan tradisional dan menggantinya dengan sistem birokrasi kolonial, memaksakan hukum dan aturan mereka kepada rakyat tanpa menghormati adat istiadat setempat, dan sebagainya. Hal-hal ini menimbulkan ketidakpuasan dan ketidakpercayaan di kalangan raja-raja dan elit-elit lokal terhadap penjajah.
  • Aspek ekonomi: Penjajah mengambil keuntungan dari sumber daya alam daerah-daerah yang mereka jajah dengan cara monopoli perdagangan, menetapkan pajak-pajak yang tinggi dan sewenang-wenang, memaksakan tanam paksa atau cultuurstelsel yang merampas tanah-tanah milik rakyat untuk ditanami komoditas ekspor seperti tebu, kopi, tembakau, nila, dan sebagainya. Hal-hal ini menimbulkan kemiskinan dan kesengsaraan di kalangan rakyat.
  • Aspek sosial: Penjajah melakukan diskriminasi rasial terhadap rakyat dengan cara membedakan perlakuan antara orang Eropa dengan orang pribumi. Orang Eropa mendapat hak-hak istimewa seperti pendidikan, pekerjaan, kesehatan, dan hukum yang lebih baik daripada orang pribumi. Orang pribumi dianggap sebagai manusia kelas dua yang tidak beradab dan tidak berbudaya. Hal-hal ini menimbulkan rasa rendah diri dan marah di kalangan rakyat.
  • Aspek budaya: Penjajah mencoba menghapuskan atau mengubah budaya dan identitas bangsa Indonesia dengan cara melarang atau membatasi penggunaan bahasa, agama, seni, dan tradisi lokal. Penjajah juga mencoba menanamkan budaya dan ideologi mereka kepada rakyat dengan cara menyebarkan agama Kristen, pendidikan Barat, dan propaganda kolonial. Hal-hal ini menimbulkan rasa kehilangan dan ketakutan di kalangan rakyat.

Dari latar belakang perjuangan kedaerahan melawan penjajahan tersebut, dapat disimpulkan bahwa perjuangan kedaerahan merupakan bentuk perlawanan awal bangsa Indonesia terhadap penjajahan. Perjuangan kedaerahan menunjukkan semangat juang dan patriotisme yang tinggi dari rakyat Indonesia. Namun, perjuangan kedaerahan juga memiliki kelemahan-kelemahan, seperti kurangnya persatuan dan kesatuan antar daerah, kurangnya sumber daya dan strategi yang memadai, serta kurangnya visi dan misi yang jelas. Oleh karena itu, perjuangan kedaerahan sering kali gagal atau berhasil sebagian dalam mengusir penjajah.

Untuk mencapai kemerdekaan yang sesungguhnya, bangsa Indonesia membutuhkan perjuangan yang lebih luas dan lebih terorganisir, yaitu perjuangan nasional. Perjuangan nasional adalah perjuangan yang melibatkan seluruh bangsa Indonesia tanpa membedakan suku, agama, ras, atau golongan. Perjuangan nasional bersifat non-fisik atau tidak bersenjata, menggunakan senjata-senjata intelektual seperti pendidikan, pers, organisasi, diplomasi, dan sebagainya. Perjuangan nasional bersifat progresif atau bertujuan untuk menciptakan perubahan sosial yang lebih baik. Perjuangan nasional bersifat revolusioner atau dipicu oleh cita-cita dan idealisme untuk merdeka.

Perjuangan nasional mulai berkembang pada awal abad ke-20 dengan munculnya organisasi-organisasi pergerakan nasional seperti Budi Utomo, Sarekat Islam, Indische Partij, Jong Java, Jong Sumatra, Jong Minahasa, Jong Ambon, Jong Celebes, Jong Islamieten Bond, Perhimpunan Indonesia, Partai Nasional Indonesia, Partai Komunis Indonesia, Partai Sosialis Indonesia, Gerakan Rakyat Indonesia (Gerindo), Persatuan Bangsa Indonesia (Parindra), Gabungan Politik Indonesia (GAPI), Laskar Rakyat (PETA), Badan Penyelidik Usaha Persiapan Kemerdekaan Indonesia (BPUPKI), Panitia Persiapan Kemerdekaan Indonesia (PPKI), dan lain-lain.

Perjuangan nasional mencapai puncaknya pada tanggal 17 Agustus 1945 dengan proklamasi kemerdekaan Indonesia oleh Soekarno-Hatta. Namun, perjuangan nasional belum berakhir sampai di situ. Bangsa Indonesia masih harus menghadapi berbagai tantangan dan ancaman dari dalam maupun luar negeri untuk mempertahankan kemerdekaan dan kedaulatan negara. Oleh karena itu, perjuangan nasional harus terus dilanjutkan oleh generasi-generasi penerus bangsa dengan semangat yang sama atau bahkan lebih tinggi dari para pejuang kemerdekaan.

Sumber:
(1) Perjuangan Kedaerahan Melawan Penjajah | Sejarah Kelas XI – LATISPRIVAT.com. https://www.latisprivat.com/2022/10/perjuangan-kedaerahan-melawan-penjajah.html.
(2) Ciri Perlawanan Bangsa Indonesia pada Abad Ke-19 – Kompas.com. https://www.kompas.com/skola/read/2021/03/01/232632369/ciri-perlawanan-bangsa-indonesia-pada-abad-ke-19.
(3) Perjuangan bangsa Indonesia melawan penjajah awaln… – Roboguru. https://roboguru.ruangguru.com/question/perjuangan-bangsa-indonesia-melawan-penjajah-awalnya-bersifat-kedaerahan-tanpa-koordinasi-yang-baik_QU-E6WM1R9B.
(4) Pada masa penjajahan Belanda, perjuangan melawan p… – Roboguru. https://roboguru.ruangguru.com/forum/pada-masa-penjajahan-belanda-perjuangan-melawan-penjajah-selalu-bersifat-kedaerahan-sebelum-era_FRM-CZ8V4E30.

Posted in Ragam

Artikel Lainnya