Menu Tutup

Kehidupan Kerajaan Medang Kamulan: Sejarah, Ekonomi, Sosial, dan Budaya di Jawa Timur

Kerajaan Medang Kamulan, yang berdiri pada abad ke-10 di Jawa Timur, merupakan kelanjutan dari Kerajaan Mataram Kuno. Dididirikan oleh Mpu Sindok, kerajaan ini memainkan peran penting dalam sejarah Nusantara. Artikel ini akan membahas secara mendalam berbagai aspek kehidupan di Kerajaan Medang Kamulan, termasuk sejarah, politik, ekonomi, sosial budaya, agama, dan peninggalannya.

Sejarah dan Latar Belakang

Setelah runtuhnya Kerajaan Mataram Kuno di Jawa Tengah, Mpu Sindok memindahkan pusat pemerintahan ke Jawa Timur sekitar tahun 929 Masehi. Langkah ini dipicu oleh faktor-faktor seperti letusan Gunung Merapi dan ancaman dari Kerajaan Sriwijaya. Di Jawa Timur, Mpu Sindok mendirikan Dinasti Isyana dan memulai era baru yang dikenal sebagai Kerajaan Medang Kamulan.

Struktur Politik dan Pemerintahan

Kerajaan Medang Kamulan menganut sistem monarki dengan raja sebagai pemimpin tertinggi. Suksesi kepemimpinan biasanya berdasarkan garis keturunan. Beberapa raja yang pernah memerintah antara lain:

  • Mpu Sindok (929–947 M): Pendiri Dinasti Isyana dan pemimpin pertama Kerajaan Medang Kamulan.
  • Sri Isyana Tunggawijaya: Putri Mpu Sindok yang memerintah bersama suaminya, Sri Lokapala.
  • Sri Makutawangsawardhana: Raja yang memerintah setelah Sri Isyana Tunggawijaya.
  • Dharmawangsa Teguh (990–1016 M): Raja yang berupaya memperluas wilayah dan pengaruh kerajaan.
  • Airlangga (1019–1042 M): Raja yang memulihkan dan memajukan kerajaan setelah masa krisis.

Kehidupan Ekonomi

Ekonomi Kerajaan Medang Kamulan didominasi oleh sektor pertanian, terutama budidaya padi. Sungai Brantas berperan penting dalam irigasi lahan pertanian. Selain itu, perdagangan juga berkembang, dengan pelabuhan seperti Hujung Galuh menjadi pusat aktivitas niaga. Kerajaan ini menjalin hubungan dagang dengan wilayah lain di Nusantara dan Asia Tenggara.

Kehidupan Sosial dan Budaya

Masyarakat Kerajaan Medang Kamulan memiliki struktur sosial yang kompleks, terdiri dari bangsawan, pendeta, prajurit, petani, dan pedagang. Budaya kerajaan ini kaya dengan seni dan sastra. Mpu Sindok dikenal sebagai sastrawan yang menghasilkan banyak karya. Pada masa Airlangga, Mpu Kanwa menulis “Arjuna Wiwaha,” yang menggambarkan kepahlawanan dan nilai-nilai moral.

Kehidupan Agama

Kerajaan Medang Kamulan menganut agama Hindu, dengan pemujaan terhadap dewa-dewa seperti Siwa dan Wisnu. Mpu Sindok adalah penganut Hindu Siwa, sementara Airlangga cenderung kepada Hindu Waisnawa. Toleransi beragama tercermin dalam pembangunan candi-candi yang mencerminkan pengaruh Hindu dan Buddha.

Peninggalan Sejarah

Beberapa peninggalan penting dari Kerajaan Medang Kamulan antara lain:

  • Prasasti Mpu Sindok: Menjelaskan silsilah dan legitimasi Mpu Sindok sebagai raja.
  • Prasasti Lor: Berisi perintah Mpu Sindok untuk membangun candi dan tugu kemenangan.
  • Prasasti Bangil: Mencatat pembangunan tempat peristirahatan untuk mertuanya, Rakryan Bawang.
  • Candi-candi: Seperti Candi Gunung Wukir, Candi Kalasan, dan Candi Prambanan yang mencerminkan kemajuan arsitektur dan seni pada masa itu.

Runtuhnya Kerajaan Medang Kamulan

Kerajaan Medang Kamulan mengalami kemunduran setelah serangan dari Haji Wurawari yang didukung oleh Kerajaan Sriwijaya pada tahun 1016 M. Serangan ini menghancurkan ibu kota dan menewaskan Raja Dharmawangsa Teguh. Airlangga, yang selamat dari serangan tersebut, kemudian memulihkan kerajaan dan mendirikan Kerajaan Kahuripan.

Posted in Sejarah

Artikel Lainnya