Sel darah merah atau eritrosit adalah komponen darah yang berfungsi mengangkut oksigen dari paru-paru ke seluruh tubuh. Sel darah merah memiliki bentuk cakram pipih dengan bagian tengah yang cekung. Bentuk ini memungkinkan sel darah merah untuk bergerak dengan mudah di dalam pembuluh darah dan meningkatkan luas permukaan untuk pertukaran oksigen. Sel darah merah mengandung hemoglobin, yaitu protein yang mengikat oksigen dan memberi warna merah pada darah.
Jenis-Jenis Gangguan pada Sel Darah Merah
Ada beberapa jenis gangguan yang dapat memengaruhi sel darah merah, baik yang menurunkan jumlah, mengubah bentuk, maupun mengganggu fungsi sel darah merah. Berikut adalah beberapa contoh gangguan pada sel darah merah:
- Anemia. Anemia adalah kondisi di mana jumlah sel darah merah atau kadar hemoglobin dalam darah menjadi rendah. Hal ini menyebabkan tubuh kekurangan oksigen dan mengalami gejala seperti lemas, pucat, sesak napas, pusing, dan jantung berdebar. Anemia dapat disebabkan oleh berbagai faktor, seperti kekurangan zat besi, vitamin B12, atau asam folat, perdarahan berlebihan, kerusakan sumsum tulang, atau penyakit autoimun1.
- Anemia sel sabit. Anemia sel sabit adalah penyakit genetik yang menyebabkan sel darah merah berubah bentuk menjadi seperti sabit atau bulan sabit. Bentuk ini membuat sel darah merah lebih mudah pecah dan menyumbat pembuluh darah. Akibatnya, penderita anemia sel sabit dapat mengalami nyeri hebat, infeksi, stroke, atau kerusakan organ1.
- Polisitemia. Polisitemia adalah kondisi di mana jumlah sel darah merah dalam darah menjadi terlalu tinggi. Hal ini menyebabkan darah menjadi lebih kental dan menghambat aliran darah. Polisitemia dapat meningkatkan risiko terjadinya penggumpalan darah, stroke, atau serangan jantung. Polisitemia dapat disebabkan oleh gangguan pada sumsum tulang, dehidrasi, atau tinggal di ketinggian tinggi1.
- Talasemia. Talasemia adalah penyakit genetik yang menyebabkan produksi hemoglobin menjadi abnormal. Hemoglobin yang abnormal ini membuat sel darah merah lebih mudah rusak dan tidak dapat mengangkut oksigen dengan baik. Talasemia dapat menyebabkan anemia, pembesaran limpa, tulang yang rapuh, atau pertumbuhan yang terhambat2.
Penyebab dan Faktor Risiko Gangguan pada Sel Darah Merah
Gangguan pada sel darah merah dapat disebabkan oleh berbagai faktor, baik yang berasal dari dalam tubuh maupun dari luar tubuh. Beberapa penyebab dan faktor risiko gangguan pada sel darah merah adalah:
- Faktor genetik. Beberapa gangguan pada sel darah merah, seperti anemia sel sabit, talasemia, atau sferositosis, merupakan penyakit bawaan yang diturunkan dari orang tua. Faktor genetik ini tidak dapat dicegah, tetapi dapat dideteksi sejak dini dengan pemeriksaan darah atau tes DNA23.
- Kekurangan nutrisi. Nutrisi yang penting untuk pembentukan sel darah merah adalah zat besi, vitamin B12, asam folat, dan vitamin B6. Kekurangan nutrisi ini dapat menyebabkan anemia atau gangguan pada fungsi sel darah merah. Kekurangan nutrisi dapat disebabkan oleh pola makan yang tidak seimbang, gangguan pencernaan, atau penyakit kronis13.
- Perdarahan. Perdarahan yang berlebihan, baik yang terjadi akibat luka, operasi, menstruasi, maupun penyakit lambung, dapat menyebabkan kehilangan sel darah merah secara signifikan. Hal ini dapat menyebabkan anemia atau penurunan tekanan darah. Perdarahan yang berat memerlukan penanganan segera dengan transfusi darah atau obat-obatan13.
- Infeksi. Infeksi yang disebabkan oleh bakteri, virus, jamur, atau parasit dapat mengganggu produksi atau fungsi sel darah merah. Beberapa contoh infeksi yang dapat memengaruhi sel darah merah adalah malaria, demam berdarah, tifus, atau HIV. Infeksi dapat dicegah dengan menjaga kebersihan, imunisasi, atau penggunaan obat anti-malaria13.
- Penyakit autoimun. Penyakit autoimun adalah kondisi di mana sistem kekebalan tubuh menyerang jaringan tubuh sendiri, termasuk sel darah merah. Beberapa contoh penyakit autoimun yang dapat memengaruhi sel darah merah adalah lupus, rheumatoid arthritis, atau anemia hemolitik autoimun. Penyakit autoimun dapat diobati dengan obat-obatan yang menekan sistem kekebalan tubuh13.
- Penyakit kronis. Penyakit kronis yang berlangsung lama dapat mengganggu produksi atau fungsi sel darah merah. Beberapa contoh penyakit kronis yang dapat memengaruhi sel darah merah adalah gagal ginjal, kanker, diabetes, atau penyakit hati. Penyakit kronis dapat dikontrol dengan pengobatan yang sesuai dan gaya hidup yang sehat13.
Gejala dan Komplikasi Gangguan pada Sel Darah Merah
Gangguan pada sel darah merah dapat menyebabkan berbagai gejala dan komplikasi yang bervariasi, tergantung pada jenis dan tingkat keparahan gangguannya. Beberapa gejala dan komplikasi yang umum terjadi adalah:
- Anemia. Anemia adalah gejala yang paling sering terjadi akibat gangguan pada sel darah merah. Anemia ditandai dengan kekurangan oksigen di dalam tubuh yang menyebabkan penderita merasa lemah, lesu, pucat, sesak napas, pusing, sakit kepala, atau jantung berdebar. Anemia yang tidak diobati dapat menyebabkan komplikasi seperti gagal jantung, kerusakan otak, atau kematian13.
- Nyeri. Nyeri adalah gejala yang sering dialami oleh penderita gangguan pada sel darah merah yang menyebabkan sel darah merah berubah bentuk atau pecah. Nyeri dapat terjadi di berbagai bagian tubuh, seperti tulang, sendi, dada, perut, atau punggung. Nyeri dapat disebabkan oleh penyumbatan pembuluh darah, peradangan, atau kerusakan jaringan13.
- Infeksi. Infeksi adalah komplikasi yang dapat terjadi akibat gangguan pada sel darah merah yang menyebabkan penurunan sistem kekebalan tubuh. Infeksi dapat menyerang berbagai organ tubuh, seperti paru-paru, kulit, ginjal, atau otak. Infeksi dapat menyebabkan demam, menggigil, batuk, luka, atau kejang13.
- Pembekuan darah. Pembekuan darah adalah komplikasi yang dapat terjadi akibat gangguan pada sel darah merah yang menyebabkan darah menjadi lebih kental atau lengket. Pembekuan darah dapat menyumbat pembuluh darah dan mengganggu aliran darah ke organ-organ vital. Pembekuan darah dapat menyebabkan stroke, serangan jantung, trombosis vena dalam, atau emboli paru13.
Kerusakan organ. Kerusakan organ adalah komplikasi yang dapat terjadi akibat gangguan pada sel darah merah yang menyebabkan kekurangan oksigen di dalam tubuh. Oksigen adalah zat yang dibutuhkan oleh sel-sel tubuh untuk melakukan metabolisme dan menjaga fungsi organ. Kekurangan oksigen dapat menyebabkan sel-sel tubuh mati atau rusak, yang dapat mempengaruhi kinerja organ seperti jantung, otak, ginjal, hati, atau mata. Kerusakan organ dapat menyebabkan gagal jantung, kerusakan otak, gagal ginjal, sirosis hati, atau kebutaan .
Diagnosis dan Pengobatan Gangguan pada Sel Darah Merah
Untuk mendiagnosis gangguan pada sel darah merah, dokter akan melakukan pemeriksaan fisik, riwayat kesehatan, dan tes laboratorium. Pemeriksaan fisik dapat meliputi pengukuran tekanan darah, denyut nadi, suhu tubuh, warna kulit, dan ukuran limpa. Riwayat kesehatan dapat meliputi penyakit keluarga, pola makan, obat-obatan, atau gejala yang dialami. Tes laboratorium dapat meliputi pemeriksaan darah lengkap, tes hemoglobin, tes retikulosit, tes bilirubin, tes besi, tes vitamin B12, tes asam folat, tes antibodi, tes DNA, atau tes biopsi sumsum tulang .
Pengobatan gangguan pada sel darah merah tergantung pada jenis dan penyebab gangguannya. Beberapa jenis pengobatan yang dapat dilakukan adalah:
- Suplemen nutrisi. Suplemen nutrisi adalah pengobatan yang diberikan untuk mengatasi kekurangan zat besi, vitamin B12, asam folat, atau vitamin B6 yang menyebabkan anemia. Suplemen nutrisi dapat berupa tablet, suntikan, atau infus .
- Transfusi darah. Transfusi darah adalah pengobatan yang diberikan untuk meningkatkan jumlah sel darah merah atau hemoglobin dalam darah. Transfusi darah dapat dilakukan dengan cara menyuntikkan darah donor yang sesuai dengan golongan darah penerima ke dalam pembuluh darah penerima. Transfusi darah dapat membantu mengatasi anemia, nyeri, atau infeksi yang disebabkan oleh gangguan pada sel darah merah .
- Obat-obatan. Obat-obatan adalah pengobatan yang diberikan untuk mengatasi penyebab atau gejala gangguan pada sel darah merah. Beberapa contoh obat-obatan yang dapat digunakan adalah obat anti-malaria, obat anti-inflamasi, obat anti-koagulan, obat imunosupresan, obat stimulan eritropoietin, atau obat sintetis hemoglobin .
- Terapi gen. Terapi gen adalah pengobatan yang diberikan untuk mengubah atau memperbaiki gen yang menyebabkan gangguan pada sel darah merah. Terapi gen dapat dilakukan dengan cara menyisipkan gen normal ke dalam sel darah merah atau sumsum tulang penderita. Terapi gen dapat membantu mengatasi gangguan pada sel darah merah yang bersifat genetik, seperti anemia sel sabit atau talasemia .
- Transplantasi sumsum tulang. Transplantasi sumsum tulang adalah pengobatan yang diberikan untuk mengganti sumsum tulang yang rusak atau tidak berfungsi dengan sumsum tulang yang sehat dari donor. Transplantasi sumsum tulang dapat dilakukan dengan cara menghancurkan sumsum tulang penderita dengan radiasi atau obat kemoterapi, kemudian menyuntikkan sumsum tulang donor ke dalam pembuluh darah penderita. Transplantasi sumsum tulang dapat membantu mengatasi gangguan pada sel darah merah yang disebabkan oleh kerusakan sumsum tulang, seperti anemia aplastik atau leukemia .
Pencegahan dan Perawatan Gangguan pada Sel Darah Merah
Untuk mencegah dan merawat gangguan pada sel darah merah, ada beberapa hal yang dapat dilakukan, antara lain:
- Mengonsumsi makanan bergizi. Makanan bergizi adalah makanan yang mengandung zat-zat yang dibutuhkan oleh tubuh untuk membentuk dan menjaga sel darah merah, seperti zat besi, vitamin B12, asam folat, dan vitamin B6. Beberapa contoh makanan bergizi yang baik untuk sel darah merah adalah daging, telur, susu, sayuran hijau, buah-buahan, kacang-kacangan, atau sereal .
- Minum air yang cukup. Air yang cukup adalah air yang dapat membantu menjaga keseimbangan cairan dan elektrolit dalam tubuh. Air yang cukup dapat membantu mencegah dehidrasi, yang dapat menyebabkan polisitemia atau pengentalan darah. Air yang cukup juga dapat membantu mengeluarkan racun atau zat sisa dari tubuh melalui urine atau keringat .
- Menghindari paparan zat berbahaya. Zat berbahaya adalah zat yang dapat merusak sel darah merah atau sumsum tulang, seperti racun, logam berat, pestisida, atau obat-obatan tertentu. Zat berbahaya dapat masuk ke dalam tubuh melalui makanan, minuman, udara, atau kulit. Zat berbahaya dapat menyebabkan anemia, kerusakan sumsum tulang, atau kanker .
- Melakukan pemeriksaan rutin. Pemeriksaan rutin adalah pemeriksaan yang dilakukan untuk mendeteksi adanya gangguan pada sel darah merah atau faktor risikonya. Pemeriksaan rutin dapat meliputi pemeriksaan darah, tes hemoglobin, tes DNA, atau tes biopsi sumsum tulang. Pemeriksaan rutin dapat membantu mendiagnosis gangguan pada sel darah merah sejak dini dan memberikan pengobatan yang tepat .
- Mengikuti saran dokter. Saran dokter adalah saran yang diberikan oleh dokter yang menangani gangguan pada sel darah merah. Saran dokter dapat meliputi penggunaan obat-obatan, transfusi darah, terapi gen, transplantasi sumsum tulang, atau perubahan gaya hidup. Saran dokter dapat membantu mengatasi gangguan pada sel darah merah dan mencegah komplikasinya .