Joko Tingkir, atau lebih dikenal sebagai Jaka Tingkir, adalah tokoh penting dalam sejarah Jawa yang dikenal sebagai pendiri dan raja pertama Kesultanan Pajang. Lahir dengan nama asli Mas Karebet, Joko Tingkir memainkan peran penting dalam peralihan kekuasaan dari Kesultanan Demak ke Pajang pada abad ke-16.
Asal Usul dan Latar Belakang Keluarga
Mas Karebet lahir di Pengging, sebuah daerah di Jawa Tengah. Ayahnya, Ki Ageng Pengging atau Kebo Kenanga, adalah seorang bangsawan dengan hubungan kekerabatan dengan keluarga kerajaan Majapahit. Ibunya, Nyi Ageng Pengging, juga berasal dari keluarga terpandang. Sejak dalam kandungan, Mas Karebet sudah mengalami perubahan nasib yang tragis, ketika ayahnya dihukum mati oleh Sunan Kudus karena dianggap memberontak terhadap Kesultanan Demak. Setelah kepergian ayahnya, ibunya pun sakit hingga akhirnya meninggal. Pada titik ini, Mas Karebet diambil sebagai anak angkat oleh Nyai Ageng Tingkir, yang memberinya nama Jaka Tingkir.
Pendidikan dan Pembentukan Karakter
Jaka Tingkir tumbuh menjadi pemuda yang tangguh dan penuh karisma. Dia mendapatkan pendidikan dari beberapa tokoh penting, termasuk Sunan Kalijaga dan Ki Ageng Sela. Melalui mereka, Jaka Tingkir mempelajari ajaran agama Islam, ilmu kepemimpinan, serta ilmu kesaktian yang menjadi bekal kepemimpinan masa depannya.
Pengabdian di Kesultanan Demak
Setelah menyelesaikan pendidikannya, Jaka Tingkir memilih untuk mengabdi pada Kesultanan Demak. Memulai karier sebagai prajurit, ia berhasil menarik perhatian Sultan Trenggana berkat keberanian dan kesetiaannya. Karena jasanya, Jaka Tingkir diangkat menjadi Lurah Wiratamtama, kepala prajurit pengawal Sultan Demak, dan kemudian menikahi Ratu Mas Cempaka, putri Sultan Trenggana, yang memperkokoh posisinya di dalam istana.
Pendiri Kesultanan Pajang
Setelah Sultan Trenggana wafat pada tahun 1546, Kesultanan Demak dilanda konflik internal seputar suksesi kepemimpinan. Jaka Tingkir menunjukkan kehebatannya dengan menumpas pemberontakan yang dipimpin oleh Arya Penangsang, yang saat itu juga telah membunuh Sunan Prawoto, pewaris takhta Demak. Sebagai imbalan atas jasanya, Jaka Tingkir diangkat sebagai Adipati Pajang dengan gelar Adipati Adiwijaya. Pada tahun 1568, ia memindahkan pusat kekuasaan dari Demak ke Pajang dan mendirikan Kesultanan Pajang, menjadikannya raja pertama dengan gelar Sultan Hadiwijaya.
Masa Pemerintahan dan Peninggalan
Di bawah kepemimpinan Sultan Hadiwijaya, Kesultanan Pajang mencapai puncak kejayaannya. Wilayahnya mencakup daerah seperti Madiun, Blora, dan Kediri. Pajang menjadi pusat perdagangan dan pertanian yang makmur di Jawa. Sultan Hadiwijaya dikenal sebagai pemimpin yang bijaksana dan adil, serta mampu menjaga hubungan baik dengan kerajaan-kerajaan tetangga.
Akhir Hayat
Pada tahun 1582, terjadi pertempuran antara Kesultanan Pajang dan Mataram. Sepulang dari medan perang, Sultan Hadiwijaya jatuh sakit dan kemudian meninggal dunia. Beliau dimakamkan di Desa Butuh, kampung halaman ibunya. Sepeninggalnya, Kesultanan Pajang mengalami kemunduran akibat persaingan kekuasaan antara putranya, Pangeran Benawa, dan menantunya, Arya Pangiri.
Kesimpulan
Joko Tingkir, atau Sultan Hadiwijaya, adalah tokoh penting dalam sejarah Jawa yang berhasil memimpin transisi dari Kesultanan Demak ke Kesultanan Pajang. Dengan latar belakang bangsawan, pendidikan dari tokoh-tokoh terkemuka, dan pengalaman militernya, ia mendirikan dan memimpin Kesultanan Pajang ke masa kejayaannya. Kepemimpinannya dikenang sebagai contoh pemimpin yang bijaksana dan visioner dalam sejarah Indonesia.