Interaksi keruangan adalah hubungan timbal balik antara dua atau lebih wilayah yang dapat menimbulkan gejala baru. Interaksi keruangan dapat terjadi dalam berbagai skala, mulai dari lokal, nasional, hingga global. Salah satu contoh interaksi keruangan dalam skala lokal adalah antara desa dan kota. Desa dan kota merupakan dua wilayah yang memiliki karakteristik, fungsi, dan peran yang berbeda. Namun, keduanya saling berhubungan dan mempengaruhi dalam berbagai aspek kehidupan.
Pola Keruangan Desa dan Kota
Desa adalah wilayah sekelompok masyarakat yang berkuasa untuk mengadakan pemerintahannya sendiri dengan jumlah penduduk kurang dari 2.500 jiwa. Desa biasanya identik dengan lahan yang luas dan subur, sektor pertanian, hubungan masyarakat yang erat, serta tradisi adat istiadat.
Desa dapat diklasifikasikan menjadi tiga jenis, yaitu desa swadaya (terbelakang), desa swakarya (peralihan), dan desa swasembada (maju) 1.
Pola keruangan desa adalah susunan atau tata letak permukiman penduduk di desa yang dipengaruhi oleh faktor-faktor seperti iklim, topografi, sumber daya alam, kebudayaan, dan sejarah. Pola keruangan desa dapat dibedakan menjadi beberapa jenis, yaitu:
- Pola keruangan teratur (regular pattern), yaitu pola keruangan yang memiliki bentuk geometris seperti persegi, segitiga, atau lingkaran. Contoh pola keruangan teratur adalah desa-desa di Jawa Tengah yang dibangun berdasarkan konsep kosmologi Jawa.
- Pola keruangan tidak teratur (irregular pattern), yaitu pola keruangan yang tidak memiliki bentuk geometris tertentu. Contoh pola keruangan tidak teratur adalah desa-desa di Papua yang dibangun secara acak sesuai dengan kondisi alam.
- Pola keruangan linier (linear pattern), yaitu pola keruangan yang membentang sepanjang garis tertentu seperti jalan raya, sungai, atau pantai. Contoh pola keruangan linier adalah desa-desa di Sumatera Barat yang mengikuti jalur lintas Sumatera.
- Pola keruangan radial (radial pattern), yaitu pola keruangan yang menyebar dari satu titik pusat ke segala arah. Contoh pola keruangan radial adalah desa-desa di Bali yang mengelilingi pura sebagai pusat keagamaan.
Kota adalah wilayah bentang budaya dan corak kehidupan yang heterogen dan materialistik dibandingkan wilayah sekitarnya dengan jumlah penduduk lebih dari 2.500 jiwa. Kota biasanya identik dengan kegiatan ekonomi selain pertanian, kepadatan penduduk yang tinggi, individualisme, dan kurangnya penggunaan tradisi. Kota berfungsi sebagai pusat kegiatan bagi permukiman, sektor ekonomi, sosial-budaya, serta politik (administrasi pemerintahan) 2.
Pola keruangan kota adalah susunan atau tata letak permukiman penduduk di kota yang dipengaruhi oleh faktor-faktor seperti pertumbuhan penduduk, perkembangan industri, transportasi, dan perencanaan kota. Pola keruangan kota dapat dibedakan menjadi beberapa jenis, yaitu:
- Pola keruangan konsentris (concentric zone model), yaitu pola keruangan yang memiliki bentuk lingkaran-lingkaran berlapis dengan pusat kota sebagai inti utama. Contoh pola keruangan konsentris adalah kota-kota di Amerika Serikat seperti Chicago atau New York.
- Pola keruangan sektoral (sector model), yaitu pola keruangan yang memiliki bentuk sektor-sektor yang memanjang dari pusat kota ke arah pinggiran. Contoh pola keruangan sektoral adalah kota-kota di Inggris seperti London atau Manchester.
- Pola keruangan inti ganda (multiple nuclei model), yaitu pola keruangan yang memiliki beberapa inti atau pusat kota yang tersebar di berbagai lokasi. Contoh pola keruangan inti ganda adalah kota-kota di Jerman seperti Berlin atau Hamburg.
Faktor-faktor yang Mempengaruhi Interaksi Keruangan Desa dan Kota
Interaksi keruangan desa dan kota dapat terjadi karena adanya faktor-faktor yang mendorong atau menghambat hubungan timbal balik antara kedua wilayah tersebut. Faktor-faktor yang mempengaruhi interaksi keruangan desa dan kota dapat dibagi menjadi tiga, yaitu:
- Komplementaritas (regional complementary), yaitu perbedaan ketersediaan sumber daya antar wilayah yang menimbulkan kegiatan permintaan dan penawaran. Misalnya, desa sebagai penghasil bahan pangan, sedangkan kota sebagai penghasil barang industri. Interaksi keruangan yang terjadi adalah desa menjual hasil panennya ke kota, sedangkan kota menjual produk industri ke desa.
- Saling berintervensi (intervening opportunity), yaitu kemungkinan adanya perantara yang menghambat atau melemahkan interaksi antar wilayah seperti kehadiran wilayah lain atau peristiwa tidak terduga (misal bencana alam). Misalnya, desa A ingin menjual hasil panennya ke kota B, tetapi ada kota C yang lebih dekat dan menawarkan harga lebih tinggi. Interaksi keruangan yang terjadi adalah desa A menjual hasil panennya ke kota C, bukan ke kota B.
- Transferabilitas (spatial transfer ability), yaitu berkaitan dengan pergerakan barang atau gagasan yang dipengaruhi oleh jarak antar wilayah, biaya, dan sarana transportasi. Misalnya, desa D ingin menjual hasil panennya ke kota E, tetapi jaraknya sangat jauh dan biayanya sangat mahal. Interaksi keruangan yang terjadi adalah desa D tidak menjual hasil panennya ke kota E, melainkan mencari pasar lokal yang lebih dekat dan murah.
Bentuk-bentuk Interaksi Keruangan Desa dan Kota
Interaksi keruangan desa dan kota dapat berbentuk berbagai macam kegiatan yang melibatkan aliran barang, manusia, informasi, atau modal antara kedua wilayah tersebut. Bentuk-bentuk interaksi keruangan desa dan kota dapat dibagi menjadi empat, yaitu:
- Interaksi ekonomi, yaitu interaksi keruangan yang berkaitan dengan kegiatan produksi, distribusi, konsumsi, dan pertukaran barang atau jasa antara desa dan kota. Contoh interaksi ekonomi adalah perdagangan hasil pertanian dari desa ke kota atau produk industri dari kota ke desa.
- Interaksi sosial-budaya, yaitu interaksi keruangan yang berkaitan dengan kegiatan komunikasi, pendidikan, hiburan, agama, atau seni antara desa dan kota. Contoh interaksi sosial-budaya adalah penyebaran informasi melalui media massa dari kota ke desa atau pengaruh budaya populer dari kota ke desa.
- Interaksi politik-administrasi, yaitu interaksi keruangan yang berkaitan dengan kegiatan pemerintahan, pembangunan, perencanaan, atau pengawasan antara desa dan kota. Contoh interaksi politik-administrasi adalah pemberian bantuan dana dari pemerintah pusat di kota ke pemerintah daerah di desa atau pengaturan tata ruang dari pemerintah daerah di kota ke pemerintah lokal di desa.
- Interaksi migrasi, yaitu interaksi keruangan yang berkaitan dengan perpindahan penduduk secara permanen atau sementara antara desa dan kota. Contoh interaksi migrasi adalah urbanisasi dari desa ke kota atau suburbanisasi dari kota ke desa.
Dampak Interaksi Keruangan Desa dan Kota
Interaksi keruangan desa dan kota dapat menimbulkan dampak positif maupun negatif bagi kedua wilayah tersebut. Dampak positif adalah manfaat atau keuntungan yang diperoleh dari interaksi keruangan, sedangkan dampak negatif adalah kerugian atau masalah yang ditimbulkan oleh interaksi keruangan.
Dampak interaksi keruangan desa dan kota dapat menimbulkan dampak positif maupun negatif bagi kedua wilayah tersebut. Dampak positif adalah manfaat atau keuntungan yang diperoleh dari interaksi keruangan, sedangkan dampak negatif adalah kerugian atau masalah yang ditimbulkan oleh interaksi keruangan. Dampak interaksi keruangan desa dan kota dapat dibagi menjadi empat, yaitu:
- Dampak ekonomi, yaitu dampak yang berkaitan dengan peningkatan atau penurunan kesejahteraan, pendapatan, lapangan kerja, atau investasi antara desa dan kota. Contoh dampak positif adalah adanya diversifikasi usaha, pemasaran produk, atau kemitraan antara desa dan kota. Contoh dampak negatif adalah adanya kesenjangan ekonomi, persaingan usaha, atau eksploitasi sumber daya antara desa dan kota.
- Dampak sosial-budaya, yaitu dampak yang berkaitan dengan perubahan atau pelestarian nilai-nilai, norma-norma, adat-istiadat, atau identitas antara desa dan kota. Contoh dampak positif adalah adanya asimilasi budaya, toleransi beragama, atau partisipasi masyarakat antara desa dan kota. Contoh dampak negatif adalah adanya akulturasi budaya, konflik sosial, atau alienasi masyarakat antara desa dan kota.
- Dampak politik-administrasi, yaitu dampak yang berkaitan dengan peningkatan atau penurunan otonomi, kewenangan, kebijakan, atau pelayanan publik antara desa dan kota. Contoh dampak positif adalah adanya desentralisasi pemerintahan, koordinasi pembangunan, atau transparansi anggaran antara desa dan kota. Contoh dampak negatif adalah adanya sentralisasi pemerintahan, tumpang tindih pembangunan, atau korupsi anggaran antara desa dan kota.
- Dampak lingkungan, yaitu dampak yang berkaitan dengan perbaikan atau kerusakan kondisi alam, sumber daya alam, atau ekosistem antara desa dan kota. Contoh dampak positif adalah adanya penghijauan lahan, pengelolaan sampah, atau pelestarian lingkungan antara desa dan kota. Contoh dampak negatif adalah adanya deforestasi lahan, pencemaran udara, atau degradasi lingkungan antara desa dan kota.
Sumber:
(1) Interaksi Keruangan Desa dan Kota – StudioBelajar.com. https://www.studiobelajar.com/interaksi-keruangan-desa-dan-kota/.
(2) Pengaruh Perubahan dan Interaksi Keruangan antara Desa dan Kota. https://www.kompas.com/skola/read/2022/10/13/103000969/pengaruh-perubahan-dan-interaksi-keruangan-antara-desa-dan-kota.
(3) Interaksi Keruangan Desa dan Kota – Kemdikbud. https://repositori.kemdikbud.go.id/20635/1/Kelas%20XII_Geografi_KD%203.2%20%281%29.pdf.