Menu Tutup

Ciri Kebahasaan Teks Anekdot

Teks anekdot adalah sebuah teks yang berisi cerita singkat yang lucu dan mengesankan, biasanya mengenai orang penting atau terkenal dan berdasarkan kejadian yang sebenarnya1. Teks anekdot sering digunakan untuk menyampaikan kritik secara halus dan tidak langsung2. Untuk menulis teks anekdot yang baik, kita perlu memperhatikan ciri kebahasaan yang ada di dalamnya. Ciri kebahasaan teks anekdot meliputi:

1. Menggunakan kata-kata yang sederhana dan mudah dipahami

Teks anekdot bertujuan untuk menghibur dan menyindir pembaca, sehingga penggunaan kata-kata yang sederhana dan mudah dipahami sangat penting. Kata-kata yang sederhana dan mudah dipahami akan membuat pembaca lebih cepat menangkap maksud dan pesan dari teks anekdot. Selain itu, kata-kata yang sederhana dan mudah dipahami juga akan membuat teks anekdot lebih ringan dan tidak terkesan menyerang secara langsung3.

Contoh:

Seorang mahasiswa baru datang ke kampus dengan membawa sepeda motor baru. Dia sangat bangga dengan motornya dan memarkirnya di depan gedung kuliah. Ketika dia masuk ke ruang kuliah, dia bertemu dengan dosen yang akan mengajarinya. Dosen itu bertanya, “Kamu bawa motor apa?” Mahasiswa itu menjawab dengan bangga, “Motor Honda, Pak.” Dosen itu tersenyum dan berkata, “Oh, Honda. Itu kan merek sepeda.”

Dari contoh di atas, kita bisa melihat bahwa penggunaan kata-kata yang sederhana dan mudah dipahami membuat cerita menjadi lebih lucu dan mengena. Kata-kata seperti “motor”, “Honda”, “merek”, dan “sepeda” adalah kata-kata yang umum dan familiar bagi pembaca.

2. Menggunakan kalimat yang pendek dan padat

Selain menggunakan kata-kata yang sederhana dan mudah dipahami, teks anekdot juga menggunakan kalimat yang pendek dan padat. Kalimat yang pendek dan padat akan membuat teks anekdot lebih efektif dan efisien dalam menyampaikan kritik. Kalimat yang pendek dan padat juga akan membuat teks anekdot lebih dinamis dan menarik perhatian pembaca3.

Contoh:

Seorang dokter sedang memeriksa seorang pasien di rumah sakit. Pasien itu mengeluh bahwa dia sering sakit kepala. Dokter itu bertanya, “Apa kamu suka minum kopi?” Pasien itu menjawab, “Ya, Pak. Saya suka minum kopi setiap hari.” Dokter itu berkata, “Nah, itu penyebabnya. Kamu harus berhenti minum kopi.” Pasien itu heran dan bertanya, “Mengapa, Pak?” Dokter itu menjawab, “Karena kopi bisa menyebabkan sakit kepala.” Pasien itu bingung dan berkata, “Tapi saya minum kopi karena saya sakit kepala.”

Dari contoh di atas, kita bisa melihat bahwa penggunaan kalimat yang pendek dan padat membuat cerita menjadi lebih cepat dan tajam. Kalimat-kalimat seperti “Apa kamu suka minum kopi?”, “Nah, itu penyebabnya.”, dan “Tapi saya minum kopi karena saya sakit kepala.” adalah kalimat yang pendek dan padat namun mampu menyampaikan kritik secara jelas.

3. Menggunakan unsur humor atau ironi

Teks anekdot adalah teks yang berisi cerita lucu, sehingga penggunaan unsur humor atau ironi sangat penting. Unsur humor atau ironi akan membuat teks anekdot lebih menarik dan menghibur pembaca. Unsur humor atau ironi juga akan membuat teks anekdot lebih halus dan tidak langsung dalam menyampaikan kritik3.

Contoh:

Seorang pemuda sedang mencari pekerjaan di sebuah perusahaan besar. Dia melamar sebagai manajer pemasaran. Saat wawancara, dia ditanya oleh direktur perusahaan, “Apa pengalaman kamu di bidang pemasaran?” Pemuda itu menjawab dengan percaya diri, “Saya pernah menjual koran di pinggir jalan.” Direktur perusahaan terkejut dan berkata, “Oh, begitu. Lalu, berapa banyak koran yang bisa kamu jual dalam sehari?” Pemuda itu menjawab dengan bangga, “Sekitar lima ratus koran, Pak.” Direktur perusahaan kagum dan bertanya, “Wow, itu luar biasa. Bagaimana kamu bisa menjual sebanyak itu?” Pemuda itu menjawab dengan santai, “Ya, saya tinggal berteriak-teriak di pinggir jalan, ‘Koran! Koran! Ada berita penting! Presiden kita meninggal dunia!’”

Dari contoh di atas, kita bisa melihat bahwa penggunaan unsur humor atau ironi membuat cerita menjadi lebih lucu dan mengkritik. Unsur humor atau ironi terlihat dari cara pemuda itu menjual koran dengan cara berbohong dan mengejutkan orang-orang. Unsur humor atau ironi juga terlihat dari reaksi direktur perusahaan yang terkejut dan kagum.

4. Menggunakan tokoh atau latar yang nyata

Teks anekdot adalah teks yang berdasarkan kejadian yang sebenarnya, sehingga penggunaan tokoh atau latar yang nyata sangat penting. Tokoh atau latar yang nyata akan membuat teks anekdot lebih relevan dan aktual dengan pembaca. Tokoh atau latar yang nyata juga akan membuat teks anekdot lebih kredibel dan meyakinkan dalam menyampaikan kritik3.

Contoh:

Seorang wartawan sedang mewawancarai seorang politisi terkenal. Wartawan itu bertanya, “Pak, apa pendapat Anda tentang isu korupsi yang sedang ramai diperbincangkan?” Politisi itu menjawab dengan tegas, “Saya sangat menentang korupsi. Korupsi adalah musuh bersama yang harus diberantas. Saya selalu berusaha bersih dan transparan dalam menjalankan tugas saya sebagai wakil rakyat.” Wartawan itu mengangguk-angguk dan berkata, “Bagus sekali, Pak. Lalu, apa pendapat Anda tentang kasus suap yang menjerat Anda beberapa waktu lalu?” Politisi itu terdiam sejenak dan berkata, “Oh, itu bukan suap. Itu cuma bantuan sosial.”

Dari contoh di atas, kita bisa melihat bahwa penggunaan tokoh atau latar yang nyata membuat cerita menjadi lebih aktual dan mengkritik. Tokoh atau latar yang nyata terlihat dari adanya wartawan dan politisi yang merupakan profesi yang nyata di masyarakat. Tokoh atau latar yang nyata juga terlihat dari adanya isu korupsi dan kasus suap yang merupakan fenomena yang nyata di Indonesia.

Posted in Ragam

Artikel Lainnya