Lulus sekolah adalah salah satu momen penting dalam kehidupan seseorang. Setelah menyelesaikan pendidikan formal, seseorang dapat memilih untuk melanjutkan studi ke jenjang yang lebih tinggi, bekerja, atau berwirausaha. Namun, kapan sebenarnya usia ideal untuk lulus sekolah? Apakah ada perbedaan antara lulus sekolah di Indonesia dengan negara lain? Bagaimana pengaruh usia lulus sekolah terhadap peluang dan tantangan di masa depan?
Usia Lulus Sekolah di Indonesia
Di Indonesia, sistem pendidikan formal terdiri dari 12 tahun, yaitu 6 tahun sekolah dasar (SD), 3 tahun sekolah menengah pertama (SMP), dan 3 tahun sekolah menengah atas (SMA) atau sederajat. Jika tidak ada putus sekolah atau mengulang, maka usia rata-rata lulus SD adalah 12 tahun, lulus SMP adalah 15 tahun, dan lulus SMA adalah 18 tahun. Namun, kenyataannya tidak semua siswa dapat menyelesaikan pendidikan formal sesuai dengan usia ideal tersebut.
Menurut data Badan Pusat Statistik (BPS) tahun 20201, angka partisipasi kasar (APK) untuk jenjang SMA/sederajat di Indonesia adalah 80,31 persen. Artinya, hanya sekitar 80 persen dari jumlah penduduk usia 16-18 tahun yang mengikuti pendidikan SMA/sederajat. Sisanya, sekitar 20 persen tidak melanjutkan pendidikan setelah lulus SMP atau bahkan putus sekolah sebelum lulus SMP.
Untuk analisis alur pendidikan penduduk kelompok umur 21-24 tahun 2020, hasilnya menunjukkan bahwa ada sebesar 67,93 persen pemuda kelompok umur 21-24 tahun yang melanjutkan ke jenjang SMA/sederajat1. Dari jumlah tersebut, hanya sekitar 54 persen yang berhasil lulus SMA/sederajat. Artinya, ada sekitar 14 persen yang mengulang atau putus sekolah di jenjang SMA/sederajat. Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa usia rata-rata lulus SMA/sederajat di Indonesia adalah lebih dari 18 tahun.
Perbandingan Usia Lulus Sekolah dengan Negara Lain
Jika dibandingkan dengan negara lain, usia rata-rata lulus sekolah di Indonesia tergolong tinggi. Menurut data Organisasi untuk Kerjasama dan Pembangunan Ekonomi (OECD) tahun 20192, usia rata-rata lulus sekolah menengah atas atau sederajat di negara-negara anggota OECD adalah 17,9 tahun. Negara-negara yang memiliki usia rata-rata lulus sekolah paling rendah adalah Korea Selatan (16,7 tahun), Jepang (16,8 tahun), dan Turki (16,9 tahun). Sedangkan negara-negara yang memiliki usia rata-rata lulus sekolah paling tinggi adalah Meksiko (19,7 tahun), Kolombia (19,4 tahun), dan Brasil (19,2 tahun).
Salah satu faktor yang mempengaruhi usia rata-rata lulus sekolah adalah durasi pendidikan formal di setiap negara. Misalnya, di Korea Selatan dan Jepang, sistem pendidikan formal hanya terdiri dari 9 tahun, yaitu 6 tahun sekolah dasar dan 3 tahun sekolah menengah. Siswa yang ingin melanjutkan ke perguruan tinggi harus mengikuti ujian masuk yang sangat kompetitif. Di sisi lain, di Meksiko dan Kolombia, sistem pendidikan formal terdiri dari 14 tahun, yaitu 6 tahun sekolah dasar, 3 tahun sekolah menengah bawah, dan 5 tahun sekolah menengah atas.
Faktor lain yang mempengaruhi usia rata-rata lulus sekolah adalah akses dan kualitas pendidikan di setiap negara. Negara-negara yang memiliki akses dan kualitas pendidikan yang tinggi cenderung memiliki usia rata-rata lulus sekolah yang rendah, karena siswa dapat menyelesaikan pendidikan formal tanpa mengalami hambatan atau kesulitan. Sebaliknya, negara-negara yang memiliki akses dan kualitas pendidikan yang rendah cenderung memiliki usia rata-rata lulus sekolah yang tinggi, karena siswa sering menghadapi masalah seperti kemiskinan, kekerasan, diskriminasi, atau kurangnya fasilitas dan guru.
Dampak Usia Lulus Sekolah terhadap Masa Depan
Usia lulus sekolah dapat berdampak positif atau negatif terhadap masa depan seseorang, tergantung pada pilihan dan kondisi yang dihadapi. Secara umum, usia lulus sekolah yang lebih muda dapat memberikan keuntungan seperti:
- Memiliki waktu lebih banyak untuk mengejar karier atau pendidikan yang diinginkan.
- Memiliki potensi penghasilan yang lebih tinggi di masa depan, karena dapat bekerja lebih lama dan mendapatkan pengalaman lebih banyak.
- Memiliki kesehatan fisik dan mental yang lebih baik, karena dapat menghindari stres akademik atau sosial yang berlebihan.
Namun, usia lulus sekolah yang lebih muda juga dapat menimbulkan tantangan seperti:
- Kurangnya kematangan dan kesiapan untuk menghadapi dunia kerja atau perguruan tinggi.
- Kurangnya pengetahuan dan keterampilan yang relevan dengan kebutuhan pasar atau bidang studi.
- Kurangnya dukungan dan bimbingan dari orang tua, guru, atau teman sebaya.
Sebaliknya, usia lulus sekolah yang lebih tua dapat memberikan keuntungan seperti:
- Memiliki kematangan dan kesiapan yang lebih baik untuk menghadapi dunia kerja atau perguruan tinggi.
- Memiliki pengetahuan dan keterampilan yang lebih luas dan mendalam, karena dapat belajar dari berbagai sumber dan pengalaman.
- Memiliki motivasi dan tujuan yang lebih jelas, karena dapat memilih pendidikan atau karier sesuai dengan minat dan bakat.
Namun, usia lulus sekolah yang lebih tua juga dapat menimbulkan tantangan seperti:
- Kehilangan waktu dan peluang untuk mengejar karier atau pendidikan yang diinginkan.
- Menghadapi persaingan yang lebih ketat dengan lulusan yang lebih muda dan berkualitas.
- Mengalami kesulitan finansial atau keluarga, karena harus menanggung biaya hidup atau tanggungan yang lebih besar.
Penutup
Dari pembahasan di atas, dapat disimpulkan bahwa tidak ada usia ideal untuk lulus sekolah. Setiap orang memiliki kecepatan dan jalur pendidikan yang berbeda-beda. Yang terpenting adalah bagaimana seseorang dapat memanfaatkan pendidikan formal sebagai sarana untuk mengembangkan potensi diri dan berkontribusi bagi masyarakat. Oleh karena itu, pemerintah, sekolah, orang tua, dan siswa harus bekerja sama untuk menciptakan sistem pendidikan yang inklusif, berkualitas, dan berkelanjutan.