Menu Tutup

Alasan Banyak Sarjana di Indonesia yang Menganggur

Pengangguran merupakan salah satu masalah sosial dan ekonomi yang dihadapi oleh banyak negara, termasuk Indonesia. Menurut data Badan Pusat Statistik (BPS), pada Agustus 2022, tingkat pengangguran terbuka (TPT) di Indonesia mencapai 6,26 persen, atau sekitar 8,8 juta orang. Dari jumlah tersebut, sekitar 3,5 juta orang adalah lulusan perguruan tinggi (sarjana dan diploma). Ini berarti bahwa sekitar 40 persen dari pengangguran di Indonesia adalah sarjana.

Mengapa banyak sarjana di Indonesia yang menganggur? Apa penyebabnya? Apa dampaknya? Dan apa solusinya? Artikel ini akan mencoba menjawab pertanyaan-pertanyaan tersebut dengan mengacu pada beberapa sumber informasi yang relevan.

Penyebab

Ada beberapa faktor yang menyebabkan banyak sarjana di Indonesia yang menganggur. Berikut adalah beberapa di antaranya:

  • Kesenjangan antara sistem pendidikan dengan dunia kerja. Menurut penelitian McKinsey, UNESCO, dan ILO (2008), lulusan yang dihasilkan perguruan tinggi tidak sesuai dengan yang dibutuhkan pengguna kerja. Hal ini berkaitan dengan kurikulum, metode pembelajaran, kualitas dosen, fasilitas, dan lain-lain. Akibatnya, banyak sarjana yang tidak memiliki keterampilan (skill) dan kompetensi yang dibutuhkan oleh pasar kerja12.
  • Jumlah pencari kerja lebih banyak daripada jumlah lowongan kerja. Kondisi ekonomi yang tidak stabil dan fluktuasi global menyebabkan kesempatan kerja produktif menjadi terbatas. Di sisi lain, jumlah lulusan perguruan tinggi terus meningkat setiap tahunnya. Hal ini menyebabkan persaingan mendapatkan pekerjaan menjadi semakin ketat13.
  • Kurang aktif dalam mencari informasi. Di era internet seperti sekarang ini, mencari lowongan kerja seharusnya menjadi lebih mudah. Namun, banyak sarjana yang tidak memanfaatkan media-media online yang tersedia untuk mencari informasi lowongan kerja yang sesuai dengan bidang dan minatnya. Selain itu, banyak juga modus penipuan berkedok lowongan kerja yang harus diwaspadai12.
  • Terlalu pilih-pilih pekerjaan. Banyak sarjana yang bermimpi untuk bekerja di perusahaan-perusahaan besar dan bonafit dengan gaji tinggi dan fasilitas menarik. Namun, mereka tidak realistis dengan kondisi pasar kerja yang ada. Mereka juga tidak mau bekerja jika tidak sesuai dengan keinginan dan harapannya. Hal ini menyebabkan mereka menolak atau melewatkan peluang-peluang kerja yang sebenarnya bisa dimanfaatkan12.
  • Kurang kreatif dalam membuat CV. CV atau curriculum vitae adalah salah satu dokumen penting yang digunakan untuk melamar pekerjaan. CV harus mampu menunjukkan kualifikasi, pengalaman, prestasi, dan kepribadian pelamar secara menarik dan profesional. Namun, banyak sarjana yang membuat CV secara asal-asalan, tidak rapi, tidak informatif, dan tidak sesuai dengan standar perusahaan2.
  • Orientasi yang keliru. Banyak sarjana yang kuliah hanya karena ikut-ikutan orang tua, teman, atau tren. Mereka tidak memiliki tujuan dan minat yang jelas terhadap bidang studi yang dipilihnya. Akibatnya, mereka tidak memiliki motivasi dan semangat untuk belajar dan mengembangkan diri. Mereka juga tidak memiliki visi dan misi tentang karirnya di masa depan2.
  • Belum mengerti betul apa yang diinginkannya. Banyak sarjana yang belum memiliki gambaran yang jelas tentang apa yang ingin mereka lakukan setelah lulus. Mereka bingung dan ragu-ragu dalam menentukan pilihan pekerjaan yang sesuai dengan bakat, minat, dan kemampuannya. Mereka juga tidak memiliki rencana dan strategi yang matang untuk mencapai tujuan karirnya2.

Dampak

Pengangguran sarjana di Indonesia memiliki dampak yang negatif, baik bagi individu, masyarakat, maupun negara. Berikut adalah beberapa di antaranya:

  • Menurunnya kesejahteraan dan kualitas hidup. Sarjana yang menganggur tentu tidak memiliki pendapatan yang tetap dan cukup untuk memenuhi kebutuhan hidupnya. Hal ini menyebabkan mereka mengalami kesulitan ekonomi, kemiskinan, dan ketergantungan. Mereka juga tidak bisa menikmati hak-hak sosial seperti kesehatan, pendidikan, dan perumahan3.
  • Menurunnya produktivitas dan daya saing. Sarjana yang menganggur merupakan potensi sumber daya manusia yang terbuang sia-sia. Mereka tidak bisa berkontribusi secara optimal bagi pembangunan dan kemajuan bangsa. Mereka juga tidak bisa mengembangkan keterampilan dan kompetensi yang dimilikinya. Hal ini menyebabkan mereka tertinggal dari sarjana-sarjana lainnya, baik di dalam maupun di luar negeri3.
  • Meningkatnya masalah sosial. Sarjana yang menganggur cenderung mengalami stres, depresi, frustrasi, dan rendah diri. Mereka juga mudah terpengaruh oleh hal-hal negatif seperti narkoba, kekerasan, kriminalitas, radikalisme, dan lain-lain. Hal ini menyebabkan mereka menjadi beban dan ancaman bagi masyarakat3.

Solusi

Untuk mengatasi masalah pengangguran sarjana di Indonesia, diperlukan upaya-upaya dari berbagai pihak, baik pemerintah, perguruan tinggi, perusahaan, maupun sarjana itu sendiri. Berikut adalah beberapa solusi yang bisa dilakukan:

  • Memperbaiki sistem pendidikan. Pemerintah dan perguruan tinggi harus berusaha untuk meningkatkan kualitas dan relevansi pendidikan tinggi dengan kebutuhan dunia kerja. Hal ini bisa dilakukan dengan merevisi kurikulum, mengembangkan metode pembelajaran yang inovatif, meningkatkan kualitas dosen dan fasilitas, serta menjalin kerjasama dengan industri13.
  • Meningkatkan kesempatan kerja. Pemerintah dan perusahaan harus berusaha untuk menciptakan lapangan kerja yang lebih banyak dan beragam bagi sarjana. Hal ini bisa dilakukan dengan mendorong pertumbuhan ekonomi, mengembangkan sektor-sektor unggulan, memberikan insentif dan kemudahan bagi investor, serta membuka akses pasar global13.
  • Meningkatkan informasi kerja. Pemerintah dan perusahaan harus berusaha untuk menyediakan informasi lowongan kerja yang akurat, terpercaya, dan mudah diakses oleh sarjana. Hal ini bisa dilakukan dengan memanfaatkan media-media online seperti situs web, sosial media, email, atau aplikasi12.
  • Meningkatkan keterampilan dan kompetensi. Sarjana harus berusaha untuk meningkatkan keterampilan dan kompetensi yang dibutuhkan oleh pasar kerja. Hal ini bisa dilakukan dengan belajar secara terus-menerus, mengikuti pelatihan atau sertifikasi, mengikuti program magang atau organisasi, serta membaca buku atau jurnal12.
  • Meningkatkan kreativitas dan profesionalisme. Sarjana harus berusaha untuk meningkatkan kreativitas dan profesionalisme dalam melamar pekerjaan. Hal ini bisa dilakukan dengan membuat CV yang menarik dan informatif, menyiapkan portofolio atau hasil karya, melakukan riset tentang perusahaan tujuan, serta bersikap sopan dan percaya diri saat wawancara.
  • Meningkatkan fleksibilitas dan adaptabilitas. Sarjana harus berusaha untuk meningkatkan fleksibilitas dan adaptabilitas dalam menghadapi pasar kerja yang dinamis dan kompetitif. Hal ini bisa dilakukan dengan tidak terlalu pilih-pilih pekerjaan, bersedia bekerja di luar bidang atau daerah, serta mau belajar hal-hal baru yang sesuai dengan perkembangan zaman.
  • Meningkatkan motivasi dan visi. Sarjana harus berusaha untuk meningkatkan motivasi dan visi dalam mengejar karirnya. Hal ini bisa dilakukan dengan memiliki tujuan yang jelas dan realistis, merencanakan strategi yang matang dan terukur, serta berkomitmen dan berusaha keras untuk mencapai tujuan tersebut.

Penutup

Pengangguran sarjana di Indonesia adalah masalah yang serius dan kompleks yang membutuhkan solusi yang komprehensif dan kolaboratif. Sarjana harus menyadari bahwa gelar akademik saja tidak cukup untuk mendapatkan pekerjaan yang layak dan berkualitas. Mereka harus terus mengembangkan diri dan bersaing secara sehat dengan sarjana-sarjana lainnya, baik di dalam maupun di luar negeri. Dengan demikian, mereka bisa menjadi sumber daya manusia yang produktif, kompetitif, dan berkontribusi bagi kemajuan bangsa.

Sumber:
(1) 4 Alasan Kenapa Lulusan Sarjana Banyak yang Menganggur – KOMPAS.com. https://edukasi.kompas.com/read/2022/11/09/184800171/4-alasan-kenapa-lulusan-sarjana-banyak-yang-menganggur?page=all.
(2) 7 Alasan Mengapa Sarjana di Indonesia Masih Banyak yang Menganggur. https://teknoking.id/7-alasan-mengapa-sarjana-di-indonesia-masih-banyak-yang-menganggur/.
(3) Mengapa Banyak Sarjana Menganggur dan Sulit Mencari Kerja? – Kompas.com. https://money.kompas.com/read/2022/03/23/182849126/mengapa-banyak-sarjana-menganggur-dan-sulit-mencari-kerja?page=all.

Posted in Ragam

Artikel Lainnya