Latar Belakang Majapahit dan Samudera Pasai
Majapahit dan Samudera Pasai adalah dua kerajaan besar di Nusantara pada abad ke-13 hingga 15. Majapahit, yang berpusat di Jawa Timur, dipimpin oleh Raja Hayam Wuruk dengan patih legendarisnya, Gajah Mada, berambisi menyatukan seluruh kepulauan Nusantara di bawah satu kekuasaan, sebuah ambisi yang dikenal melalui Sumpah Palapa. Di sisi lain, Samudera Pasai adalah kerajaan Islam pertama di Nusantara yang terletak di pesisir utara Sumatra, dan memiliki pengaruh besar sebagai pusat perdagangan rempah-rempah, terutama lada, yang menjadikannya salah satu pusat perdagangan paling berharga di kawasan Asia Tenggara.
Faktor Utama Penyerangan
Beberapa faktor utama yang memotivasi Majapahit untuk menyerang Samudera Pasai mencakup:
- Ambisi Penyatuan Nusantara oleh Gajah Mada
Gajah Mada mengikrarkan Sumpah Palapa, yang menegaskan keinginannya untuk menguasai seluruh Nusantara sebelum menikmati kehidupan damai sebagai pejabat kerajaan. Untuk memenuhi sumpah ini, Gajah Mada melakukan ekspansi besar-besaran yang mencakup wilayah-wilayah strategis di seluruh kepulauan, termasuk wilayah yang dikuasai Samudera Pasai. - Persaingan Ekonomi dan Perdagangan di Selat Malaka
Samudera Pasai memiliki posisi strategis di Selat Malaka, jalur utama bagi perdagangan maritim antara Asia dan Timur Tengah. Pasai menjadi pusat perdagangan internasional, menarik pedagang dari Tiongkok, India, Arab, dan wilayah lainnya, yang memperkuat ekonominya. Majapahit melihat keberhasilan ekonomi Samudera Pasai sebagai ancaman langsung, karena dominasi Majapahit di perairan Nusantara bergantung pada kendali jalur perdagangan. - Pertimbangan Ideologi dan Agama
Samudera Pasai merupakan kerajaan Islam pertama di Nusantara, dan keyakinan Islam telah menyebar luas di kerajaan tersebut. Majapahit, di sisi lain, memiliki pengaruh kuat dari agama Hindu-Buddha. Meski alasan agama mungkin bukan faktor utama, perbedaan ideologis ini berpotensi memperburuk hubungan diplomatik dan mendorong adanya konflik antara kedua kerajaan. - Insiden Diplomatik yang Memicu Konflik
Menurut catatan dalam Hikayat Raja Pasai, terjadi insiden yang melibatkan Raden Galuh Gemerencang, putri Majapahit, dan Sultan Ahmad Malik Az-Zahir dari Samudera Pasai. Insiden ini terkait dengan perilaku buruk Sultan yang menyebabkan konflik pribadi antara kedua kerajaan. Hikayat tersebut menceritakan bahwa tindakan Sultan yang menyebabkan kematian putra dan tunangan Raden Galuh memicu kemarahan besar di Majapahit, dan insiden ini menjadi alasan emosional bagi Majapahit untuk melancarkan serangan.
Kronologi Serangan Majapahit ke Samudera Pasai
Pada sekitar tahun 1350 M, Majapahit di bawah pimpinan Gajah Mada mengirimkan armada untuk menyerang Samudera Pasai. Strategi militer Majapahit berhasil mengepung dan menaklukkan Pasai. Meskipun Sultan Ahmad Malik Az-Zahir sempat melarikan diri, pengaruh Majapahit berhasil menghancurkan stabilitas kerajaan Samudera Pasai.
Serangan ini memiliki dampak besar, karena meskipun Pasai tidak sepenuhnya dikuasai Majapahit, kekalahan ini menjadi tanda awal kemunduran kerajaan. Beberapa wilayah di pesisir Sumatra dan wilayah Pasai yang strategis jatuh ke tangan Majapahit, memperluas pengaruhnya di Selat Malaka.
Dampak Jangka Panjang bagi Samudera Pasai dan Majapahit
- Melemahnya Posisi Ekonomi Samudera Pasai
Setelah serangan Majapahit, pengaruh Samudera Pasai mulai berkurang, terutama karena kontrolnya atas perdagangan di Selat Malaka melemah. Dominasi perdagangan secara bertahap bergeser ke Kesultanan Malaka, yang didirikan pada awal abad ke-15. Malaka berkembang pesat dan menarik pedagang yang sebelumnya datang ke Samudera Pasai. - Ekspansi Pengaruh Majapahit di Nusantara
Meskipun Majapahit tidak sepenuhnya mengambil alih Samudera Pasai, kemenangan ini memperluas pengaruhnya di wilayah Sumatra dan memperkuat kendalinya atas jalur perdagangan. Ini menjadi pencapaian yang sangat penting bagi ambisi Gajah Mada untuk menyatukan Nusantara, sekaligus menunjukkan kekuatan militer Majapahit. - Dampak Kebudayaan dan Penyebaran Islam
Meskipun Majapahit berhasil memperlemah Samudera Pasai, Islam terus menyebar di Nusantara. Bahkan setelah penyerangan, Islam tetap bertahan dan berkembang di Sumatra, Jawa, dan wilayah lainnya. Ini menunjukkan bahwa meskipun kekuasaan Majapahit kuat secara politik dan militer, pengaruh Islam di masyarakat setempat sulit dibendung, yang kemudian menjadi faktor penting dalam penyebaran agama Islam di Nusantara. - Runtuhnya Samudera Pasai dan Kedatangan Portugis
Pada abad ke-16, setelah beberapa serangan dari pihak lain, termasuk Portugis yang semakin ekspansif, Samudera Pasai akhirnya runtuh sepenuhnya. Kehadiran Portugis menandai akhir dari dominasi kerajaan tradisional di Nusantara dan beralihnya pusat perdagangan ke Malaka, yang juga kemudian direbut oleh Portugis.
Kesimpulan
Penyerangan Majapahit ke Samudera Pasai adalah hasil dari kombinasi faktor politik, ekonomi, dan insiden diplomatik yang mencerminkan ambisi besar Majapahit untuk menyatukan Nusantara dan menguasai perdagangan di Asia Tenggara. Serangan ini tidak hanya mengubah peta politik Nusantara tetapi juga mempercepat perpindahan pusat perdagangan dari Samudera Pasai ke Malaka, yang selanjutnya diperebutkan oleh kekuatan asing seperti Portugis.
Referensi:
- Tirto.id. “Kejamnya Sultan Samudera Pasai dan Serbuan Majapahit.” Diakses pada 4 November 2024, dari https://tirto.id/kejamnya-sultan-samudera-pasai-dan-serbuan-majapahit-crcW.
- Tirto.id. “Sejarah Penyebab Keruntuhan Kerajaan Samudera Pasai: Aksi Portugis.” Diakses pada 4 November 2024, dari https://tirto.id/sejarah-penyebab-keruntuhan-kerajaan-samudera-pasai-aksi-portugis-gayw.